15 Comments

  1. Masa sih pak Faisal mau WNInya murah2an sama buruh dari Vietnam? Itu mah budak.Export? wkwkwk jaman SBY jg exportnya gak naik2 kecuali SDA. SDA harganya terjun bebas 2/3 dari harga terbaiknya ya miskin.

  2. Saya sangat terkejut melihat data2 Pak Faisal itu banyak yg salah. Contoh sektor jasa selalu yg teratas utk export di susul dgn perdagangan dan pangan sejak era Suharto. De industrialisasi jg terjadi di era SBY yg 10 tahun. Dan import non migas selalu besar dari export non migas sejak tahun 1992. Dari data BPS, 7 kali terjadi defiosit, 3 kali era SBY (2012,2013 & 2014) dan mencapai rekor tertinggi era itu berturut2 dan 3 kali era Suharto. Baru 1 kali di era Jokowi. Masa dosen UI spt ini?

  3. Kalau anda bercerita ada pengusaha yg memilih jadi pengusaha memang di sebabkan dari era Suharto RI di set up jadi pasar bukan negara industri. Contoh perjanjian dagang dgn WTO yg memaksa RI utk membuka pasarnya dan tanpa proteksi. Kedua kebijakan open sky policy utk fiskalmnya dan pemikiran para ekonom bhw Rp murah bagus utk export. Dan merubah mentalnya itu sulit termasuk BI. Untungnya gubernur BI sekarang sdh punya cara berpikir berbeda.

  4. “Ketua Umum Ikatan Alumni (IA) ITB Ridwan Djamaludin menekankan perlunya reindustrialisasi di Indonesiaa. Sebab Kontribusi industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini masih rendah, sekitar di bawah 10 persen meski perekonomian Indonesia sedang dalam kondisi baik.

    ……Pihaknya sendiri saat ini tengah memilah industri yang akan menjadi unggulan untuk bisa berkembang di Indonesia.

    “Misalnya kalau kita ke industri handphone sulit untuk bersaing di internasional. Lain halnya kalau kita ke industri pertanian, energi dan semacamnya,” lanjut dia,

    Menurutnya, selama ini industri Indonesia mengalami kemunduran karena tiga hal yakni inovasi, konsistensi penerapan kebijakan dan sikap mental……

    https://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/11/16/ogqj43415-ini-empat-penyebab-turunnya-industri-indonesia

  5. Dendustrialisasi di Indo memang menurun karena beberapa faktor:
    1. Situasi politik di Indo yg sering demo termasuk demo2 para buruh. Dan itu sdh ada penelitiannya loh. Kalau mau linknya saya kasih

    2. Keadaan dunia yg tdk menentu karena perang dagang.

    3. Negara tetangga yg lebih kompetitif spt negara yg baru masuk perdagangan bebas spt Vietnam, kambodia dsb dimana upah buruh lebih murah dari Indonesia dan super infrastruktur di lengkapi dgn SDM yg berkualitas dan infrastruktur yg bagus.. Di samping itu pula mereka tawarkan sewa yg lebih murah (vietnam tanah milik negara) dan cost2 lainnya yg lebih murah spt harga gas yg lebih murah.

    4. Indonesia memiliki beberapa tarif yg tinggi spt textil di eropa (correct me if I am wrong), tarif sawit dsb, sedangkan negara2 tetangga tidak spt Vietnam yg punya tarif 0% ke Amerika dan Eropa. Jadi jelas kalau saya jadi pemilik pabrik akan lari ke negara yg tarif import ke Eropa dan Amerika 0%. Negosiasi utk menurunkan tarif jg gak mudah pasti ada sisi lain yg harus di give up negara utk mengakomodir negara pemberi tarif. Bisa saja mereka minta SDA gratis dari Indo.

    5. Suku bunga yg tinggi. Di Selandia Baru suku bank central itu cuma 0.5%. Akibatnya bunga bank commercial cuma 4% dan bunga perusahaan finance selain bank cuma 7%. Bandingkan dgn Indonesia.

    6. Doing business yg masih buruk di mana banyak aturan yg di buat gubernur2 dan bupati di Indo malah menghambat doing business di Indo

    7. Kualitas SDM yg kalah dari negara tetangga. Indonesia dgn kewajiban subsidi pendidikan malah kesalib SDM Vietnam dan Cina yg dua2nya duduk di peringkat 43 dunia.

    8. Rendahnya inovasi dari pengusaha.

    9. Tdk berfungsinya kedutaan besar INdonesia di luar negeri yg seharusnya jadi garda terdepan utk menyelenggarakan promosi2. Hal ini berbeda dgn kedutaan2 Korea Selatan di seluruh dunia atau Selandia Baru.

    Saya pernah menayakan kepada kedutaan INdonesia di Selandia Baru dan selalu alasannya tdk punya anggaran. Padahal ada banyak mencari anggaran tanpa dukungan pemeirntah. Di sini bisa di lihat yah buntunya inovasi PNS RI.

  6. Kedua industrialisasi jg bergantung dgn kepentingan barat di sebuah negara. COntoh Korea Selatan yg memang di jadikan etalase ekonomi liberal. Tak heran banyak license yg di kasih gratis di sana spt mobil di mana Hyundai di beri lisence utk bikin mobil sendiri oleh perusahaan Amerika. Hal yg sama dgn Samsung. Vietnam jg sama. Indonesia ceritanya lain. Sejak era BK, RI itu di anggap musuh dan di buat jadi pasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.