Perbankan Memasuki Tantangan Baru


eabusinesstimes.com

Perekonomian Indonesia seakan-akan kekurangan tenaga untuk melaju lebih kencang. Selama lima tahun terakhir pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tidak beringsut dari sekitar lima persen.

Seorang pelari tidak dapat memaksakan diri melesat cepat apabila jantungnya bermasalah. Jika memaksakan diri, boleh jadi sang atlet mudah terengah-engah, bahkan baru separuh jalan bisa terkapar.

Demikian pula dengan perekonomian. Sektor keuangan, khususnya perbankan, merupakan jantung bagi perekonomian. Fungsinya mirip dengan jantung dalam tubuh kita. Jantung kita berfungsi menyedot darah dan memompakannya kembali ke sekujur tubuh. Adapun perbankan bertugas menyedot uang dari masyarakat dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito, lalu memompakan kembali dana pihak ketiga itu ke masyarakat—termasuk dunia usaha—dalam bentuk pinjaman atau kredit.

Kerja perbankan (jantung) akan optimal jika ketersediaan uang (darah) yang beredar di dalam sistem peredaran uang (darah) cukup memadai. Semakin tinggi financial inclusion index, kian besar pula volume uang yang diperedarkan di dalam sistem. Jika sebaliknya, perekonomian mengalami masalah seperti tubuh yang kekurangan butir darah merah (anemia).

Darah disalurkan oleh pembuluh-pembuluh darah yang bisa dianalogikan dengan kantor bank. Sejak tahun 2016 jumlah kantor bank terus menciut. Pada tahun 2015 ada 32.963 kantor bank, setahun kemudian turun menjadi 32.730, lantas turun lagi menjadi 32.285, dan pada November 2018 merosot lebih dalam menjadi 31.555. Penurunan jumlah kantor bank tidak lantas mengurangi jumlah pembuluh darah, karena kemajuan financial technology(fintech) mampu menciptakan pembuluh-pembuluh darah “segar”, menggantikan pembuluh-pembuluh darah yang sudah aus.

Namun, sejauh ini fintech masih belum mampu mendongkrak kemampuan perbankan memompakan darah ke dalam perekonomian berupa kredit. Nisbah kredit terhadap PDB masih saja sangat rendah, tidak sampai 50 persen. Bandingkan dengan China yang mencapai di atas 200 persen dan empat negara ASEAN (Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura) dengan nisbah di atas 100 persen. Nisbah kredit terhadap PDB Indonesia juga lebih rendah dari Kamboja dan Filipina. Dibandingkan dengan mayoritas negara BRICS (Brazil, Rusia, India, China, South Africa) pun Indonesia kalah, juga dengan Bangladesh dan Pakistan.

Hingga kini fungsi jantung (perbankan) belum sepenuhnya pulih dari serangan jantung (krisis perbankan dan ekonomi tahun 1998). Setelah mencapai aras tertinggi pada 1999, yaitu sebesar 62,1 persen, nisbah kredit terhadap PDB mengalami penurunan hingga tahun 2010 yang mencapai aras terendah sebesar 24,2 persen. Setelah itu berangsur naik sampai aras 47 persen pada 2017.

Untuk mengoptimalkan fungsi perbankan, tidak ada pilihan kecuali melakukan konsolidasi perbankan. Jumlah bank tak kunjung susut secara berarti, sampai sekarang berjumlah 115. Memang sudah berkurang dibandingkan tahun 2000 yang berjumlah 151 bank. Di negara-negara tetangga jumlah bank nasional telah berkurang drastis. Singapura memangkas jumlah bank dari 13 menjadi hanya tiga bank saja dalam kurun waktu seperempat abad. Di Malaysia dipangkas dari 35 menjadi 8; sedangkan di Korea Selatan berkurang dari 32 menjadi 18.

Bank Indonesia pernah meluncurkan konsep Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Konsep ini mengelompokkan bank berdasarkan “kasta”. Kasta tertinggi adalah bank internasional dengan modal di atas Rp 50 triliun. Kasta kedua adalah bank nasional dengan modal di atas  Rp 10 triliun sampai Rp 50 triliun. Di strata ketiga adalah bank dengan fokus (daerah, korporasi, ritel, dan lainnya) yang bermodalkan di atas Rp 100 juta hingga Rp 10 triliun. Sedangkan di kasta terbawah adalah BPR dan bank dengan kegiatan usaha terbatas dengan modal di bawah Rp 100 juta. Konsep ini tampaknya tidak lagi menjadi pijakan. Pengelompokan bank tidak lagi berdasarkan API melainkan diubah dengan sebutan Buku I sampai Buku IV. Pengelompokan bank berdasarkan API tidak memiliki pijakan yang kuat. Bank yang memilih spesialisasi justru “dihukum” dengan menempatkannya di kasta rendahan.

Dengan kondisi perbankan yang tak kunjung terkonsolidasi, tak heran jika bank terbesar berdasarkan aset di Indonesia hanya menduduki urutan ke-11 di ASEAN. Posisi tiga besar diborong oleh Singapura, keempat sampai keenam diisi seluruhnya oleh Malaysia, dan ketujuh sampai kesepuluh oleh Thailand.

Seandainya Bank Mandiri digabung dengan Bank BNI lewat proses merger/akuisisi, maka serta merta peringkat bank gabungan itu melonjak ke urutan ketujuh, melewati bank-bank Thailand. Jika berdasarkan equity, penggabungan Bank Mandiri dan Bank BNI akan menempatkan bank gabungan ini di posisi kelima di ASEAN.

Jika Bank Mandiri mengambil alih Bank BTN, terbuka lebar potensi penurunan suku bunga KPR, sehingga penetrasi KPR bisa lebih luas yang membuat akses lebih mudah memiliki tempat tinggal. Keunggulan penggabungan ini adalah karena Bank Mandiri memiliki dana murah yang sangat besar dibandingkan dengan Bank BTN. Agak ironis bagi Bank BTN yang berfokus pada kredit perumahan tetapi nilai KPR-nya lebih rendah dari Bank BCA. Dengan pengambilalihan Bank BTN oleh Bank Mandiri, boleh jadi pemerintah tidak perlu lagi memberikan subsidi suku bunga KPR. 

Kementerian BUMN tampaknya lebih memilih konsep holding dengan mempertahankan keberadaan empat bank pelat merah. Yang sulit dipahami pula, induk holding bukan salah satu bank BUMN atau bank yang terbesar, melainkan PT Danareksa (persero) dengan alasan perusahaan sekuritas ini 100 persen sahamnya dimiliki pemerintah. Penunjukan induk holding BUMN di sektor-sektor lain yang sudah terwujud juga berdasarkan kriteria yang sama.

Konsolidasi perbankan Indonesia semakin mendesak di tengah kehadiran fintech berbasis digital.

Dengan produk domestik bruto telah menembus satu triliun dollar AS dan terbesar ke-16 di dunia, potensi perbankan Indonesia tak tertandingi oleh negara ASEAN mana pun. Berdasarkan PDB-PPP (purchasing power parity), posisi Indonesia sekarang di urutan kedelapan dan diperkirakan melonjak ke posisi lima besar pada tahun 2030.

Tingkat penetrasi pengguna internet berbasis  smart phone dalam lima tahun ke depan diperkirakan bakal mendekati 50 persen, naik dari 33 persen tahun ini. Penggunaan teknologi informasi untuk berbisnis (menggunakan website sendiri dan berkomunikasi lewat internet dengan rekan bisnis/supplier) memang masih rendah dan terendah dibandingkan dengan China, India, Filipina, Thailand, dan bahkan Bangladesh. Kondisi ini justru melupakan peluang besar jika segera ditumbuhkembangkan.

Peluang yang terbuka lebar pula adalah kenyataan bahwa mayoritas (85 persen) transaksi masih menggunakan pembayaran tunai. Padahal di Malaysia hanya 42 persen dan Singapura 39 persen.

Berdasarkan data portal statistik “Statista” transaksi dengan pembayaran digital pada tahun 2018 mencapai 22,4 miliar dollar AS. Dalam empat tahun ke depan akan tumbuh sebesar 13,5 persen rata-rata setahun sehingga menjadi 37,2 miliar dollar AS pada tahun 2022.  

Dari sisi jumlah pelaku usaha, potensi sangat besar berasal dari perusahaan skala mikro, kecil, dan menengah. Dengan membatasi hanya pada industri manufaktur saja, terdapat sekitar 3,5 juta unit usaha.

Dengan fintech dan merangkul usaha mikro, kecil, dan menengah, niscaya dunia perbankan Indonesia berpeluang maju pesat. Pangsanya dalam PDB yang dewasa ini hanya sekitar 2,5 persen bisa meningkat dua kali lipat dalam jangka menengah. Dengan lebih menatap UKM dan ditopang perbankan yang kokoh dan terkonsolidasi, niscaya pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengakselerasi ke aras sekitar 7 persen, sehingga terhindar dari middle income trap dan ketika merayakan seabad proklamasi kemerdekaan, Indonesia telah menjadi negara maju yang rakyatnya sejahtera berkeadilan.

***

6 Comments

  1. Pak Faisal,

    Industrialisasi di Indo memang menurun karena beberapa faktor:
    1. Situasi politik di Indo yg sering demo termasuk demo2 para buruh. Dan itu sdh ada penelitiannya loh. Kalau mau linknya saya kasih

    2. Keadaan dunia yg tdk menentu karena perang dagang.

    3. Negara tetangga yg lebih kompetitif spt negara yg baru masuk perdagangan bebas spt Vietnam, kambodia dsb dimana upah buruh lebih murah dari Indonesia dan super infrastruktur di lengkapi dgn SDM yg berkualitas dan infrastruktur yg bagus.. Di samping itu pula mereka tawarkan sewa yg lebih murah (vietnam tanah milik negara) dan cost2 lainnya yg lebih murah spt harga gas yg lebih murah.

    4. Indonesia memiliki beberapa tarif yg tinggi spt textil di eropa (correct me if I am wrong), tarif sawit dsb, sedangkan negara2 tetangga tidak.

    5. Suku bunga yg tinggi. Di Selandia Baru suku bank central itu cuma 0.5%. Akibatnya bunga bank commercial cuma 4% dan bunga perusahaan finance selain bank cuma 7%. Bandingkan dgn Indonesia.

    6. Doing business yg masih buruk di mana banyak aturan yg di buat gubernur2 dan bupati di Indo malah menghambat doing business di Indo

    7. Kualitas SDM yg kalah dari negara tetangga. Indonesia dgn kewajiban subsidi pendidikan malah kesalib SDM Vietnam dan Cina yg dua2nya duduk di peringkat 43 dunia.

    8. Silakan di tambah lagi.

    Parahnya pemeirntahan Jokowi itu habis waktunya utk ngurusin politik. Bayangkan berapa rugi negara karena demo berjilid2 dari pasukan 212?

    1. Trauma pengusaha akan demo 212
    https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38157870

    2. Kerugian pengusaha per hari akibat demo berjilid2
    http://wartakota.tribunnews.com/2016/12/02/rugi-rp-600-m-pengusaha-tetap-apresiasi-demo-212

    Sekarang mari tengok ke suksesan negara2 tetangga

    A. Kunci sukses Vietnam
    Menurut World Economic Forum, Vietnam bisa tumbuh ekonominya karena ada 3 hal
    1. “it has embraced trade liberalization with gusto”
    2. “it has complemented external liberalization with domestic reforms through deregulation and lowering the cost of doing business”
    3. “Viet Nam has invested heavily in human and physical capital, predominantly through public investments””
    4. ” Massive infrastructure.”

    Vietnam itu negara yg baru di buka. Mereka menawarkan human capital yg murah. Angka penangguran di Vietnam menurun drastis dari 58% di tahun 1996 jadi tinggal 10% di tahun 2018. Nah masa bapak ingin RI saingan murah2an SDMnya dgn negara2 tetangga?

    https://www.weforum.org/agenda/2018/09/how-vietnam-became-an-economic-miracle/

    B. Kunci sukses Filipina
    1. infrastruktur
    2. remittances from overseas
    3. Consumer spending
    4. call centers

    “It’s not just the expressway that will push Philippine GDP growth upward by 6.9% this year, per the World Bank’s estimate. Public infrastructure spending will hit a record high of $17.7 billion, more than 5% of the GDP, Philippine News Agency says. The country of 102 million people should see “faster and more effective roll-out of tax reform and government infrastructure projects and public-private partnerships,” adds Jonathan Ravelas, chief market strategist with Banco de Oro UniBank in Metro Manila. Infrastructure spending combined with older economic drivers such as remittances from overseas, consumer spending and call centers will expand an economy worth $311 billion economy last year. Once the airports and rail systems start coming online, foreign-invested factories will find thing easier and tourists — always a core part of the Philippine economy — will find getting around easier.”

    https://www.forbes.com/sites/ralphjennings/2017/03/23/east-asias-5-fastest-growing-countries-in-2017/#676472eb5ac6

    C. Kunci sukses Kambodia.

    Kambodia bisa berkembang karena
    1. FDI di sektor garment, real estate dan konstruksi. Kambodia menawarkan buruh lebih murah dari Vietnam.
    2. Mereka mempermudah doing business.

    Dan Kambodia jg baru buka pasarnya.
    https://www.forbes.com/sites/ralphjennings/2017/03/23/east-asias-5-fastest-growing-countries-in-2017/#676472eb5ac6

    D. India

    India bisa jadi the fastest growing economy karena 4 hal
    1. Perang dagang Amerika dgn Cina yg membuat investor asing di Cina memindahkan pabriknya ke INdia
    2. FDI. Dan kenaikan FDI ini jg di sebabkan karena adanya perjanjian pajak India dgn beberapa negara spt Mauritius dan Singapura
    3. Subtitusi import
    4. Jumlah populasi

    https://www.forbes.com/sites/salvatorebabones/2018/01/10/india-may-be-the-worlds-fastest-growing-economy-but-regional-disparity-is-a-serious-challenge/#7f0644c453ac

    E. Thailand

    Sukses Thailand karena
    1. Walfare. Walfare gak selalu identik bagi2 duit.
    “Gains along multiple dimensions of welfare have been impressive: more children are now getting more years of education, and virtually everyone is now covered by health insurance while other forms of social security have expanded.”

    2. Kemiskinan di Thailand berkurang karena petani di suruh export dan sempat menurun karena harga komoditi pertanian turun harganya
    “Poverty is expected to decline at a slower rate in rural areas, as agricultural prices are not expected to be high as in recent years. There are risks that growth could become less inclusive as growing disparities in household income and consumption can be seen across the lagging regions of Thailand”

    3. politic stability
    4. Human capital
    5. equal economic opportunities
    6. Birokrasi yg efektif
    7. Infrastruktur
    8. Mempermudah doing of business
    9. progressive inheritance and property taxes
    10. National Savings Fund
    11. Membuat State Enterprise Policy Committe utk meningkatkan Governance BUMN

    “The reforms address economic stability, human capital, equal economic opportunities, environmental sustainability, competitiveness, and effective government bureaucracies. Recent reforms include the implementation of large multi-year public infrastructure projects related to dual tracking of railways, regulatory reforms aimed at improving ease of doing business, setting up the State Enterprise Policy Committee to improve state-owned enterprise governance, the transfer of supervisory oversight of specialized financial institutions to the Bank of Thailand, the approval of progressive inheritance and property taxes, and the launch of the National Savings Fund, a retirement safety net for informal workers.”

    https://www.worldbank.org/en/country/thailand/overview

    Dgn kendala spt itu terutama tarif, SDM dan infrastruktur, maka lebih baik bangun industri yg sedikit masalah spt industri Service. Kedua IT atau service spt gojek itu saingannya gak banyak di Asia. Terbukti Gojek bisa expansi sampai ke India dan sekarang merambah ke asia tenggara. Ketika trend industry 4.0 akan ke IT.

    Dari data2 di atas maka bisa di ambil kesimpulan bhw infrastruktur dan SDM itu penting.

    Kedua yg di kembangkan RI sekarang itu substitusi import walaupun gak mudah spt intensif agar asing buka pabrik HP di Indonesia atau pembuatan kereta di dlm negeri serta karoseri bus. Itu cuma contoh.

    Ketiga situasi RI berbeda dgn negara2 tetangga yg miskin SDA. Indonesia buat UU yg lebih pro nasionalis sejak era SBY terutama SDA. Kalau di laksanakan jg gak mudah dan membuat negara2 lain ogah berinvestasi ke Indonesia. Mau di rubah jg sulit melihat komposisi oposisi yg sangat kuat di tahun 1 dan ke 2 Jokowi.

    Masa sekali lagi bapak ingin SDM RI jual tenaga semurah2nya?

  2. Pak Faisal,

    Kalau dengar dari sepupu saya yg pengusaha konstruksi, maka masalah Indonesia itu menurut dia adalah penunjukan BUMN utk proyek2 infrastruktur. Hal yg sama dgn teman saya yg jadi partner pemda DKI. Di era Ahok, gak ada korupsi semua terang benderang dan harus ada e-catalog, e-budget dsb.

    Tapi pemeirntah melakukan itu jg bukan tanpa pertimbangan
    1. Melihat era SUharto di mana swasta di beri peran lebih tapi mengecilkan peran negara. Akibatnya ketika krisis pengusaha2 ini termasuk Suharto dan besannya Oom Liem memindahkan duitnya ke negara2 tetangga spt Singapura.

    Lihat jg kenapa panama dan paradise papers keluar? Pemerintah banyak negara marah karena pengusaha banyak yg melarikan diri uang kejahatannya ke negara2 tax heaven. Hal itu sekarang terjadi di AS. Kalau lihat laporan keuangan AS, pajak terbanyak itu di bayar pegawai PNSnya. Pajak dari swasta minim karena ada aturan accounting dimana pajak perusahaan bisa di atribusikan ke pemilik utk menikmati rate pajak murah.

    Beberapa aturan emang di buat utk menguntungkan sebuah negara saja contoh Google baru di pajaki ketika Google menaruh servernya di sebuah negara bukan sales mereka yg di pajaki ketika di jual di sebuah negara. Di negaranya, Google karena jualan ke negara lain maka di sebut export dan tdk di kenai pajak PPN. Jadi tiap kali periode PPN datang Google selalu dpt refund karena melaporkan merugi akibat pajak sales di luar negeri tdk di hitung. Yg terhitung cuma pengeluaran Google utk PPN sedangkan salenya di anggap sales ke luear negeri maka tdk ada PPN.

    Lihat pula ketika Cina di permainkan harga sahamnya oleh Mortgen Stanley, sebuah perusahaan finance asing. Cina itu ekonominya 90% di kuasai BUMN. Hasilnya Morgan Stanley gak bisa berkutik ketika saham yg di goreng Morgan Stanley BUMNnya di tutup China. Hal itu tdk akan terjadi di Indo. Di kasih hoax, maka spt kejadian 1998, ekonomi RI tergulung karena efek domino dari kepanikan pengusaha2.

    Ketiga di flue asia tahun 1998 ada penelitian yg menyebutkan BUMN lebih tahan banting dari MNC. Lagian kalau RI bangkrut gak mungkin BUMN membawa duitnya kabur ke luar negeri tdk spt MNC.

    MNC kaya tdk akan merubah kesejahteraan rakyatnya. Hutang negara tetap bertambah utk menciptakan individual capitalism yg akan flight dananya ke luar negeri utk mencari los cost. Sedangkan kalau BUMN kaya maka rakyat akan sejahtera. Itu buktinya SIngapura dan Abu dabhi.

    Karena itu lah pemerintah shifting dari individual capitalism jadi state capitalism.

    2. Penunjukan BUMN jg ada alasannya. Melihat kasus Bakrie yg di kasih hak mengelola tol. Bakrie kelar bikin tol setelah 10 taun SBY menjabat. Kualitasnya jg sangat rendah. Dan ini jg berpengaruh kepada target pencapain pembuatan fisik tol.

    Penunjukan swasta jg membuat hilangnya asset2 negara spt tol cipali dimana Sandiaga membuat perusahaan patungan dgn Malaysia dan perusahaan Malaysia memiliki 55% saham. Pembuatan tol cipali itu memakan anggaran RP 8.8T. Perusahaan patungan Sandi menyetor 30% dari RP 8.8T alias sekitar Rp 3 T. Perusahaan swasta malaysia setor dana 55% atau Rp 1.5 T.

    https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4367678/disebut-tanpa-utang-tol-cipali-dijual-sandiaga-di-2017

    Pengalaman RI kalau asset negara sdh di jual asing itu sulit di mintanya kembali. Contoh Freeport, Newmont yg di kasih SBY ke Bakrie dsb.

    3. Pemerintah merubah dari consumption driven economy ke production drive economy melalui BUMN melihat sukses Singapura dan ketahanan ekonomi Cina.

    Jika bapak lihat APBN RI era SBY akan bisa terlihat bhw sejak RI di pegang Suharto, RI selalu menghandalkan SDA. Di era SBY, SDA jatuh maka pendapatan Ri jg jatuh karena perbedaaan pendapatan antara SDA dan export atau hasil karya SDM RI itu timpang spt pendapatan minyak dan haji Saudi Arabia. Apalagi kalau harga SDA spt minyak jatuh tajam spt era SBY dari USD 110/barrel jadi cuma USD 40/barrel atau hampir terjun bebas 3x lipat.

    Untuk itu BUMN perlu lab utk belajar. Cina bisa jadi ekonomi terbesar di dunia no 2 itu karena mereka punya lab utk BUMNnya sejak 40 tahun lalu. Dan gak mudah utk dpt pengalihan teknologi dari negara2 maju. Masih ingat PT INKA kalau bikin kereta selalu mogok spt di era SBY. Coba sekarang bapak lihat jarang terdengar kereta PT INKA di palembang itu mogok. Kedua RI belajar dari para engineer PT DI yg di sekolahkan BJ Habibie di Boeing yg sekarang menempati posisi2 strategis dan pendapatannya bukan gaji lagi. Org2 indo yg pintar2 itu perlu lab di luar negeri agar kemampuannya terasah sebelum di panggil pulang oleh negara.

  3. Utk memajukan ekonomi negara jg gak bisa tanpa melihat secara holistic situasi dunia. Dalam arti tiap industri itu marginnya gak sama. Contoh waktu orang tua saya buka restaurant, margin usaha mereka itu bisa 50% lebih karena demand daging masih kecil, demand tempat usaha masih kecil dsb. Sekarang malah net profit industri makanan itu cuma 10%. Sangat kecil di bandingkan dgn service yg marginnya bisa lebih dari 50%. Contoh lawyer. Modal lawyer itu apa sih pak? Cuma komputer sama kantor.

    Harus di lihat trend sebuah negara dan melihat kompetitornya. Semakin banyak kompetitor maka margin semakin kecil dan membuat industry itu mati dengan sendirinya. Contoh retail.

  4. Sejak Ahok kalah pengusahan2 Cina itu pada takut menanamkan uangnya di Indonesia karena sebentar sebentar orang teriak anti cina tapi lupa kalau Prabowo itu sendiri Cina. Vietnam, Thailand,Malaysia dsb itu bisa spt sekarang salah satunya karena Silk road belt.

    Asal bapak tau saja pengusaha Cina itu enggan jualan pakai kredit alias selalu tunai. Makanya keuangan Cina itu paling solid karena cash kebanyakan.

    Kalau bapak suka property, maka lihatlah siapa pembeli terbanyak properti2 di negara2 maju? Cina. Tiap kali berpergian pasti kembali lagi utk beli property.

    Kalau ada negara2 yg kena trap silk road belt jg itu salahnya negara itu sendiri. Cina itu dagang, sama spt Amerika juga. Mereka yg punya uang tentu yg bikin sarat itu mereka. Hal yg sama jika RI export produk2 Indonesia melalui perbankan RI. Tentu ketika meminjamkan uangnya mereka gak mau duitnya gak kembali. Itu standard industry finance. Kenapa Cina di pilih? Tentu ada consnya di banding kekurangannya di banding pinjam uang ke AS, Jepang, dsb. Tekan menekan ya wajar namanya jg business. AS jg pernah menekan RI dgn memberlakukan embargo senjata sehingga pesawat F16 yg di beli dari hutang jadi besi tua semua. Hutang tetap jalan tapi F16 jadi besi karat. Belum lagi tuh pilot2nya yg sdh di sekolahkan ke AS terus jadi apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.