all-about-rice-by-the-high-heel-gourmet
justdakhila.com

Kementerian Pertanian agak mirip dengan Presiden Donald Trump dan Sekretaris Pers Gedung Putih, Sean Spicer. Kementan kerap menyanggah pemberitaan yang dianggapnya tidak benar dengan mengajukan pendapat dan fakta versinya sendiri yang akurasi dan kredibilitasnya diragukan.

Terakhir terkait dengan harga beras. Menurut Kementan, harga beras di Indonesia tergolong murah dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand, Vietnam, dan India. Berikut sekedar contoh pemberitaan yang muncul pada 25 Januari 2017: Kementan: Beras Indonesia MurahKementan sebut harga beras RI termurah dibanding Thailand dan IndiaKementan: Harga Beras di Indonesia Relatif Murah Dibandingkan Negara Lain. Satu berita lagi yang senada muncul setahun yang lalu (24 Februari 2016): Kementan: Harga Beras di Indonesia Masih Lebih Murah.

Tak tanggung-tanggung, Kementan menurunkan tim ke berbagai negara untuk memantau harga beras. Dana mubazir untuk berkunjung ke berbagai negara hanya menghasilkan harga rata-rata yang didapat dari harga terendah dan harga tertinggi.

Menurut Kementan, di Vietnam harga beras (per kg) tertinggi adalah Rp 18.292 dan terendah Rp sebesar Rp 6.097, sehingga rata-ratanya Rp 12.195. Angka itu didapat sekedar menjumlahkan harga tertinggi dan harga terendah lalu dibagi dua atau (Rp 18.292 + Rp 6.097)/2.

Di Thailand, harga tertinggi Rp 10.837 dan harga terendah Rp 10.585, sehingga harga rata-ratanya Rp 10.711. Sedangkan di India harga tertinggi Rp 11.125 dan harga terendah Rp 11.056, sehingga harga rata-ratanya Rp 11.091.

Harga rata-rata di ketiga negara itu lebih tinggi ketimbang harga rata-rata di Indonesia sebesar Rp 10.150, dengan harga tertinggi Rp 13.500 dan harga terendah Rp 6.800.

Amat banyak kelemahan mendasar dari survei perbandingan harga yang dilakukan Kementan, bisa dikatakan sangat memalukan.

Pertama, harga rata-rata sekedar membandingkan harga tertinggi dan harga terendah. Lazimnya, harga rata-rata diperoleh dengan menggunakan bobot sehingga kita memperoleh rata-rata tertimbang. Jika harga terendah hanya mewakili satu persen dari keseluruhan beras yang dijual, maka harga rata-rata terkerek ke bawah. Sebaliknya terjadi jika harga tertinggi hanya mewakili satu persen beras yang dijual di pasar.

Kedua, Kementan tidak menjelaskan jenis beras yang dijadikan sampel dan cakupan pasar yang disurvei. Apakah di negara lain yang disurvei adalah harga di supermarket atau di pasar grosir atau di pasar tradisional. Kementan hanya menjelaskan bahwa harga patokan yang dipakai di Indonesia adalah harga di Cipinang, Jakarta.

Ketiga, apakah waktu pelaksanaan survei bersamaan?

Keempat, acuan nilai tukar yang dipakai. Apakah mengacu pada kurs Bank Indonesia? Kalau ya, apakah kurs tengah atau kurs jual atau kurs beli. Kalau kurs tengah atau kurs beli, tentu saja harga beras di luar negeri dalam rupiah lebih rendah ketimbang berdasarkan kurs jual.

Kelima, perbedaan harga tertinggi dan terendah di Thailand dan India sangat tipis, masing-masing hanya Rp 252 dan Rp 69. Sebaliknya, perbedaan di Indonesia dan Vietnam sangat tajam, masing-masing Rp 6.700 dan Rp 12.195. Perbedaan yang sangat besar sangat boleh jadi disebabkan cakupan wilayah atau lokasi dan jenis beras yang disurvei amat berbeda. Perlu diingat, Thailand menghasilkan beragam jenis dan kualitas beras sehingga perbedaan harga tertinggi dan harga terendah pun relatif besar seperti di Indonesia dan Vietnam.

Buat apa Kementan menurunkan tim ke luar negeri kalau sekedar ingin memperoleh data harga terendah dan tertinggi. Cukup minta kedubes atau konsulat kita melakukannya.

Perbandingan harga berbagai jenis komoditas pangan sangat mudah diperoleh. FAO–yang seharusnya akrab sekali di jajaran Kementan–memiliki divisi khusus memonitor harga pangan. Gratis, tak perlu buang devisa negara. Dari data FAO yang serba jelas definisinya, terlihat harga beras di Indonesia jauh lebih tinggi ketimbang di India dan Thailand. Jika Kementan ingin membandingkan berbagai variabel lainnya juga tersedia di website interaktif FAO.

scan

Publikasi Bank Dunia menunjukkan pola serupa. Harga beras di Indonesia hampir sama dengan di Filipina tetapi jauh lebih tinggi ketimbang di Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Myanmar.

wb

Data Bank Dunia dan BPS menunjukkan pergerakan harga beras di Indonesia berlawanan arah dengan di Thailand. Di Indonesia dengan trend peningkatan, sebaliknya di Thailand cenderung turun.

opposite

Menurut Kementan, harga beras terendah di Cipinang Rp 6.800. Apa benar atau seberapa jauh akurasinya? Berdasarkan data BPS, harga beras kualitas rendah di tingkat penggilingan saja pada Desember 2016 sudah mencapai Rp 8.658 per kg.

ina

Saya percaya birokrat di Kementan tidak naif dalam melakukan survei dan mengolah data. Hasil survei perbandingan harga beras tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sangat disayangkan lingkungan kerja di Kementan membuat birokrat profesional tak berdaya mengungkapkan kebenaran.

Quo vadis Kementan.

[Dikoreksi dan dimutakhirkan pada 18 Februari 207, pk.21:40; ditambahkan gambar beras di muka tulisan pada pk.23:47]