Heboh Menteri ESDM WNA dan Nasib Megaproyek Masela


Sudah hampir bisa dipastikan Menteri ESDM pernah dan atau masih menjadi warga negara Amerika Serikat (AS). Lihat Menteri ESDM Warganegara AS. Hampir bisa dipastikan pula ketika dilantik sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar masih warga negara AS atau setidaknya belum menjadi warga negara Indonesia kembali.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Rupublik Indonesia Pasal 23 menyebutkan: Warga negara Indonesia kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara Pasal 22 menyatakan: Untuk dapat diangkat menjadi Menteri, seseorang harus memenuhi persyaratan warga negara Indonesia.

Jadi, masalahnya sangat tidak rumit. Oleh karena itu tidak perlu berlama-lama menyelesaikannya. Hari ini juga sebaiknya pemerintah membatalkan demi hukum pelantikan Arcandra Tahar sebagai Menteri ESDM.

Bagaimana Presiden Kenal Alcandra?

Sangat boleh jadi Presiden kenal Arcandra lewat sahabatnya, Darmawan Prasodjo, yang  bekerja di istana sebagai salah satu deputi Kepala Staf Presidenan (KSP) sejak dijabat Luhut Panjaitan. Darmawan sangat dekat dengan Presiden Jokowi. Dialah yang mementori Jokowi selama masa kampanye untuk urusan migas.

Sebagai deputi KSP, Darmawan antara lain berperan sebagai pemberi second opinion kepada Presiden untuk urusan ESDM. Pandanganya beberapa kali berseberangan dengan Menteri ESDM, misalnya dalam kasus Freeport, Blok Mahakam, dan Masela. Sebaliknya, pandangannya sejalan Luhut Panjaitan.

Keterkaitan dengan Masela

Pada tahun 2010 Menteri ESDM Darwin Z. Saleh menyetujui plan of development (PoD) Blok Masela dengan skema FLNG (floating LNG). Sedari awal proyek ini berjalan tidak mulus. Perbedaan pandangan sudah terjadi di dalam pemerintah sendiri, membuat proses perencanaan molor.

Singkat cerita, Inpex Corporation mengajukan revisi PoD pada September 2014. Proposal baru itu mengajukan peningkatan produksi dari 2,5 juta ton per tahun selama kurun waktu 30 tahun menjadi 7,5 juta ton per tahun selama masa 24 tahun.

Pembahasan meluas dengan munculnya opsi onshore yang diajukan Menko Maritim yang baru, Rizal Ramli. Bola panas terus bergulir, menimbulkan kontroversi dan “perang terbuka” antara kedua kubu.

Presiden menugaskan kementerian ESDM untuk mencari konsultan bereputasi dunia untuk membuat kajian. Pada akhir Desember 2015 konsultan mempresentasikan hasil kajiannya yang menyimpulkan FLNG lebih baik dan lebih menguntungkan negara ketimbang skema onshore.

Rupanya Presiden lebih memercayai masukan lain lewat jalur informal yang berasal dari perusahaan milik Alcandra yang masuk lewat jalur deputi KSP. Akhirnya Presiden mengambil alih kewenangan Menteri ESDM dengan mengumumkan sendiri secara lisan dalam jumpa pers.

Keputusan secara lisan inilah yang dijadikan landasan bagi Menteri ESDM menyurati Inpex Corporation. Bisa dibayangkan kebingungan yang melanda kontraktor dengan landasan hukum tidak tertulis. Tentu amat berisiko investasi megaproyek senilai 14 miliar dollar AS hanya dilandasi oleh ucapan/lisan. Risiko lain adalah Presiden mengambil alih langsung kewenangan yang berada di tangan Menteri ESDM. Jadi bola panas sekarang di tangan Presiden.

Boleh jadi penunjukan Arcandra antara lain untuk mengamankan keputusan Presiden. Masalah menjadi rumit karena hampir pasti proyek Masela bakal kembali molor. Kontaktor tidak sanggup mencari tanah seluas yang dibutuhkan untuk skema onshore yang bisa puluhan kali lebih luas ketimbang skema FLNG. Pemerintah tampaknya tidak mau direcoki urusan tanah ini. Demikian pula soal lokasi yang berpotensi menimbulkan ketegangan di antara pemerintah daerah di sekitar proyek. Masih banyak pula persoalan teknis dan strategis yang ditimbulkan oleh perubahan skema proyek. Skema onshore menimbulkan munculnya para pemburu rente yang menginginkan proyek dipecah-pecah supaya banyak yang kebagian.

Secara teknis, eksploitasi sangat sulit dimulai tahun 2024 sebagaimana rencana semula. Padahal proyek ini akan menghasilkan gas terbesar di tanah air. Sementara bayang-bayang defisit gas sudah di depan mata.

Sekarang defisit minyak sudah kian dalam. Perbedaan konsumsi dan produksi minyak sudah 800.000 barrel sehari. Defisit gas akan lebih cepat dari perhitungan sebelumnya. Sementara penerimaan negara dari nonmigas tersendat-sendat sehingga menghadirkan tax amnesty yang hasilnya juga masih remang-remang.

Kesalahan fatal sekarang bisa mempersulit perjalanan puluhan tahun ke depan. Tidak sepatutnya kita mewariskan bom waktu bagi generasi mendatang.

Mari mengoreksi yang bengkok secepatnya mumpung belum terlalu terlambat.

 

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Development, Ekonomi Politik, Oil and Gas, Political Economy. Bookmark the permalink.

21 Responses to Heboh Menteri ESDM WNA dan Nasib Megaproyek Masela

  1. dronebee says:

    Amin pak. Semoga pemerintah mau menerima masukan ini. Ternyata masalahnya ngga rumit2x amat, yg bikin rumit karena ada usaha untuk menguntungkan sebagian kelompok.

  2. Kiswanto says:

    Share apa yang saya baca bolehsetuju dan tidak
    1.Saya menghimbau masyarakat untuk tidak terbawa arus kebencian terhadap anak bangsa kita sendiri, Archandra Tahar. Dia terpilih sebagai menteri karena kecerdasannya, karena memiliki prestasi yang gemilang.

    2.Dia aset bangsa kita sendiri yang sangat berharga. Dia orang awak, anak Padang bangsa Indonesia asli.

    3.Dia terkenal di AS sbg seorang genius, yg memiliki 6 hak paten internasional ESDM dr penemuan2 teknis hasil risetnya sendiri di berbagai negara

    4.Dia rela meninggalkan Amerika Serikat dengan gaji milyaran rupiah sebulan, Dia siap dipanggil pulang untuk ikut membangun negerinya sendiri, walau hanya dengan gaji Rp 40 jutaan per bulan

    5.LIhat prestasi gemilang pemuda ini! Dia pernah menjadi PresDir Petroneering Houston d Texas AS n berbagai perusahaan inter n multinasional

    6.Archandra murid paling brilian kesayangan Ed Horton, si genius dan inventoroffshore technology AS yg terkenal.

    7. Ed Horton adalah tokoh legendaris dunia di bidang offshore. Arcandra berilmu dan berpengalaman secara teknikal maupun komersial, dlm pengembangan lapangan oil and gas di offshore

    8.Apa kita tidak bangga punya anak bangsa seperti ini?

    9. Soal dwikewarganegaraan, Loh emangnya kenapa orang Mempunyai dwikenegaraan, bukan tindak pidana!

    Hanya jika hal itu diketahui, maka dia harus ditanya mau terus jadi WNI atau tidak?

    Kan dia sudah pilih jadi WNI, terus apa lagi?

    10. Tidak usah Menteri, semua juga harus pilih, karena Indonesia tidak menganut dwikewarganegaraan. Archandra juga dihadapkan pada dua pilihan, memilih paspor yang mana, Indonesia atau Amerika.

    11.Dia sudah memilih Indonesia, maka paspor AS-nya harus diserahkan kepada pihak pemberi paspor yaitu imigrasi AS.

    12.Dia dulu dengan memegang paspor Amerika Serikat, jadi bisa memiliki akses yang lebih mudah dan lebih luas bergerak dalam bidang riset dan teknologi di berbagai negara di dunia.

    13. Maka pengetahuannya luas. Kalau dia tdk merantau dgn cara begitu bisa cuma jd katak dlm tempurung seperti yg pada clometan di medsos itu

    14. Soal dwikewarganegaraan Archandra sudah selesai masalahnya. Dia org yang sangat tepat yang dibutuhkan bangsa kita

    15. Yang pada meributkan itu apa lebih pintar dari Archandra? Tong kosong memang nyaring bunyinya

    16. Sudahlah jangan terus menggonggong pemerintah kita sendiri, sehingga anak kandung yang sudah ada di pangkuan kita ini dilepaskan, hanya karena merindukan beruk yang di hutan

    17. Lihat dong orang cerdas seperti Sri Mulyani ketika kita lepas, langsung diambil oleh World Bank. Begitu pula kalau kita melepas Archandra, pasti akan diserobot oleh bangsa lain

    18. Dengan ribut hanya karena urusan sekunder, kita justru bisa dihempas masalah primer yaitu “brain-drained”, kekeringan orang-orang cerdas, karena mereka pada lari bekerja di luar negeri atau dibajak bangsa lain

    19. Karena selama ini beliau bekerja di luar negeri, beliau tidak terkoneksi dengan kekuasaan politik “kotor” di Indonesia.

  3. Adi Ka says:

    Terlepas masih WNA, bisa khan jadikan beliau team ahli migas, masukan nya pasti sangat bermanfaat untuk migas indonesia.
    Dia pasti masih cinta negara asal dia dilahirkan.

  4. Terlepas masih WNA, bisa khan jadikan beliau team ahli migas, masukan nya pasti sangat bermanfaat untuk migas indonesia. Dia pasti masih cinta negara asal dia dilahirkan.

  5. harman says:

    bang Faisal, ternyata rezim sekarang sama aja ya soal mafia migas, cuma beda bendera doang.

  6. luddwi says:

    Folow IG: @treeshes10 yaaaaa buat yang mau cari sepatu casual, running, pantofel cowo dan cewe dengan harga murah dan kualitas bagus

  7. winnymarlina says:

    biar tdk defeisit mending kita sama2 mulai pakai transportasi umum

  8. Sonhadji says:

    Sebaiknya…
    Tulisan ini dimuat media shg kebih banyak yg baca.

  9. Pingback: Sopir Mobil | andrysatrio

    • faisal basri says:

      Terima kasih banyak kiriman tulisannya.

      • Yth Bpk Faisal Basri, sebagai alumni FE UI saya mendengar banyak mengenai bapak.

        Mohon maaf saya nanya yang agak out of the box, sejauh ini negara kita masih bertindak sebagai penerima teknologi termasuk yang bapak sebut FNLG dan Onshore di artikel ini. Namun inevitably kita pasti akan berpaling dari hidrokarbon baik minyak maupun gas.

        Sejauh mana persiapan bangsa kita ini sepengatahuan bapak? sudahkah kita memiliki expertise untuk pembuatan dan desain material untuk geothermal, ocean wave, ataupun wind turbind? bagaimaa strategi pengembangannya? Apakah sudah ada plan untuk pelaksanaan konversi ini? Mengingat bahwa jalanan kita isinya masih mesin berbahan bakar hidrokarbon, serta apabila nantinya akan dilaksa tnakan apakah mungkin ada resistensi dari Astra dll sebagai stakeholder?

        Mohon maaf pertanyaan nya naive, karena saya termasuk awam.

        Kemudian pertanyaan terakhir mengingat bahwa bahwa sebagai bangsa kebutuhan energi kita akan terus meningkat menurut bapak, bagaimana prospek sumber energi teknologi tinggi semacam nuklir, fusion, space baced solar power/orbital elavator, maupun dyson sphere/swarm ?

      • faisal basri says:

        Terima kasih banyak komentarnya.

        Saya tidak memahami sampai sedetail yang Anda tanyakan. Mohon maaf.

        Sejauh yang saya tahu, ada komitmen untuk memajukan energi terbarukan sebagaimana tertera dalam PP 79/2014. Di situ termuat target EBT tahun 2025 mencapai 23 persen, meningkat tajam dibandingkan tahun 2014 yang hanya 4 persen. Tapi kelihatannya sulit tercapai karena roadmapnya tak jelas.

        Ikhwal kemampuan teknology, ketua SKK Migas yang sekarang sangat berkomitmen dan menerapkan sejumlah langkah untuk memperkuatnya.

        Hanya itu yg bisa saya komentari sebagai orang yang tak banyak tahu ttg energi.

  10. Ahmad sholeh says:

    Sekarang bahan bakar Gas elpiji 3 kg mulai mengalami perlambatan distribusi.. artinya perseteruan mega proyek masela cukup mempengaruhi distribusi bahan bakar gas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s