Harga BBM Baru Masih Mahal? (Update)

Pemerintah membatalkan pengenaan Dana Ketahanan Energi (DKE) sebesar Rp 200 per liter untuk bensin premium dan Rp 300 per liter untuk Solar. Dengan demikian, harga baru per  5 Januari 2016 untuk bensin Premium turun 4,7 persen dari Rp 7.400 per liter menjadi Rp 7.050 per liter yang berlaku untuk Jawa dan Madura. Harga di luar Jawa untuk primum lebih murah Rp 100 per liter sebagaimana sebelumnya. Harga Solar diturunkan sebesar 15.7 persen, dari Rp 6.700 per liter menjadi Rp 5.650 per liter.

Harga eceran di atas sudah termasuk Pajak Petambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen yang masuk ke pemerintah pusat dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen yang merupakan pajak daerah (pemerintah provinsi).

Sulit melakukan perbandingan harga “duku-dengan-duku” dengan negara tetangga karena hanya Indonesia yang masih menggunakan RON 88 (bensin Premium). Malaysia misalnya, jangankan RON 88, RON 90 (setara Pertalite) dan RON 92 (setara Pertamax) saja sudah tidak dikonsumsi. Kualitas terendah yang mereka pakai ialah RON 95 (setara Pertamax Plus).

Pemerintah Malaysia telah menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berlaku mulai 1 Januari 2016. Semua jenis BBM turun dibandingkan dengan Desember 2015. Harga solar (deisel dengan kadar sulfur 0,25%) turun 15,8 persen. [Perlu dicatat, kadar sulfur dalam solar di Indonesia 0,35%.] Harga RON 95 turun sebesar 5,1 persen. Jadi, penurunannya lebih banyak ketimbang Indonesia.

update

Pemerintah Malaysia tidak mengenakan pajak atas RON 95. Jika ditambah pajak sebagaimana berlaku di Indonesia, harga RON 95 plus pajak di Malaysia adalah Rp 5.973 X 1.15 = Rp 6869 per liter. Berarti Rp 181 lebih murah ketimbang harga premium di Indonesia. Padahal beda oktannya tak kepalang, sebesar 7.

Harga bensin di Amerika Serikat (rerata nasional) yang setara dengan RON 92 per 4 Januari 2016 adalah 1,99 dollar AS per gallon. (1 gallon = 3,7854118 liter). Di dalamnya sudah termasuk pajak sebesar 0,4928 per gallon (rerata nasional). Dengan demikian, harga tidak termasuk pajak adalah 1,4972 dollar AS atau 0,3955 dollar AS per liter.

Dengan kurs Rp 13.967 per dollar AS pada 4 Januari 2016, maka harga bensin setara RON 92 tanpa pajak adalah Rp 5.524 per liter. harga RON 88 (Premium) di Indonesia tanpa pajak adalah Rp 6.130 per liter (Rp 7.050/1.15).

Beberapa teman menyampaikan pandangan bahwa Amerika Serikat dan Malaysia tidak cocok untuk dibandingkan dengan Indonesia. Pertama, Amerika Serikat dan Malaysia merupakan pengekspor minyak neto. Kedua, Amerika Serikat terkenal memiliki kilang yang sangat atau paling efisien di dunia.

Kedua faktor di atas memang berpengaruh, tetapi ternyata tidak signifikan. Harga bensin tanpa pajak di berbagai negara yang tidak memberikan subsidi BBM tidak jauh berbeda.

Harga eceran di Thailand dan India memang jauh lebih mahal ketimpang Indonesia. Tetapi, baik India maupun Thailand mengenakan berbagai macam pajak dan pungutan yang nilainya sekitar 50 persen dari harga eceran. Jadi, harga BBM tidak termasuk pajak di kedua negara itu tetap saja lebih murah ketimbang di Indonesia. Perlu diingat, negara-negara lain nyaris tidak ada lagi yang menggunakan RON 88.

Dengan harga premium yang baru, kalau dibandingkan dengan Malaysia, konsumen seharusnya memperoleh bensin yang jauh lebih berkualitas, yaitu Pertamax Plus.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Migas, Oil and Gas, Public Policy. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s