Memacu Wisman dengan Bebas Visa?


Tahun 2015 sampai November, wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Indonesia berjumlah 8,8 juta, naik 3,2 persen dibandingkan kurun waktu yag sama tahun lalu. Jika jumlah turis asing yang masuk  pada Desember 2015 naik 10 persen (sangat optimistik) dibandingkan bulan yang sama tahun 2014, maka untuk keseluruhan tahun 2015 jumlahnya 9,8 juta, sehingga belum menembus 10 juta sebagaimana target pemerintah.

Tahun lalu pemerintah sudah mengobral bebas visa bagi bagi 84 negara sehingga keseluruhan yang bebas visa menjadi 174 negara. Berarti 89 persen dari seluruh negara yang diakui PBB yang jumlahnya 195 negara telah bebas masuk ke Indonesia tanpa visa.

Jika asumsi jumlah wisatawan yang masuk pada Desember 2015 terpenuhi, pertumbuhan wisatawan asing tahun 2015 mencapai 3,9 persen dibandingkan tahun 2014. Pencapaian itu relatif jauh lebih rendah ketimbang pertumbuhan tahun 2013 dan 2014 yang masing-masing 9,4 persen dan 7,2 persen.

wisman

Data sementara World Tourist Organization (UNWTO) menunjukkan pertumbuhan turis dunia tahun 2015 sebesar 4,4 persen, persis sama dengan pertumbuhan turis yang masuk ke Asia dan Pasifik. Sedangkan yang masuk ke Asia Tenggara naik 4,9 persen. Jadi pertumbuhan wisman yang masuk ke Indonesia lebih rendah ketimbang dunia maupun negara tetangga di kasawan Asia dan Pasifik maupun Asia Tenggara.

Seberapa ampuh kebijakan bebas visa bisa meningkatkan jumlah wisman?

Dorothy Riddle mengelompokkan jasa menjadi empat jenis.

jasa

Kelompok across-the-border trade bisa diperlakukan sama dengan perdagangan barang.

Kita fokus ke jasa turisme yang masuk dalam kelompok jasa domestic establishment trade: konsumen mendatangi obyek wisata sedangkan produsen tetap berada di domestik karena obyek wisata tidak bisa bergerak.

Ongkos pemakaian jasa dirumuskan sebagai berikut:

C = (Pi + Pt ) + (Ki + Kt)

C adalah ongkos total pemakaian jasa. Ongkos total ini terdiri dari dua bagian yaitu ongkos yang ditimbulkan oleh produsen (P) dan oleh pemakai atau konsumen (K). Masing-masing ongkos ini dibagi lagi menjadi dua unsur, yaitu ongkos yang ditimbulkan dalam isolasi (Pi dan Ki), yakni ongkos yang ditimbulkan oleh produsen dan pemakai secara independen atau ongkos sebelum ada transaksi; dan ongkos yang muncul kala kedua belah pihak berinteraksi (Pt dan Kt). Keempat komponen biaya diasumsikan non-negatif, interdependen, dan dalam keadaan persaingan sempurna. Nilai C diupayakan serendah mungkin (minimum).

Unsur Pi dan Ki relatif sama untuk jasa sejenis.

Misalkan S adalah komponen dari ongkos C yang muncul selama interaksi antara produsen dan konsumen,

S = (Pt + Rt)/C

yang mana 0 < S ≤ 1

Jika ongkos interaksi antara produsen dan pemakai semakin rendah maka nilai S akan semakin kecil.

Dengan memasukkan unsur S, model Heckcsher-Ohlin boleh jadi tidak mampu menjelaskan perdagangan jasa-jasa tertentu. Suatu negara yang relatif labor abundant atau kaya dengan obyek turisme belum tentu dapat bersaing menarik wisman jika komponen ongkos interaksi antara produsen dan pemakai jasa relatif tinggi. Ongkos interaksi yang tinggi inilah yang menyebabkan banyak jasa tergolong ke dalam non-tradable. Namun, dengan perkembangan teknologi informasi seperti internet dan beragam media sosial menyebabkan makin banyak jasa yang lebih tradable.

Dalam kasus jasa turisme, Indonesia memiliki potensi keunggulan dalam hal keragaman obyek wisata yang unik dalam bentuk karunia alam dan pekerja yang relatif melimpah dan murah. Namun itu saja tidak cukup.

Wisman yang hendak menjelajahi berbagai obyek wisata yang tersebar di ribuan pulau terkendala dengan ketersediaan angkutan antarmoda yang terbatas dan khususnya ongkos pesawat yang relatif mahal. Salah satu penyebabnya ialah harga avtur yang relatif jauh lebih tinggi ketimbang di negara tetangga seperti Singapura dan struktur pasar angkutan udara yang duopoli atau oligopoli.

Ongkos berlibur sekeluarga di dalam negeri habis untuk ongkos pesawat. Lebih murah bagi suatu keluarga berlibur di Thailand atau Malaysia ketimbang dari Jakarta ke papua, manado, Lombok atau Bali.

Komponen ongkos memperoleh visa relatif sangat kecil dibandingkan ongkos total (C) maupun S.

Pembenahan turisme di Indonesia memerlukan pendekatan yang lebih mendasar dan menyeluruh.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional, Tourism and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Memacu Wisman dengan Bebas Visa?

  1. tina says:

    artikel menarik tiket pesawat ke singapur lebih murah dibandingkan ke Lombok dan Bali

  2. Mas Yunus says:

    Jadi, klaim promosi Wondeful Indonesia efektif (branding wisata, banyak menerima penghargaan) itu belum sebanding dengan pemasukan kita dari sektor wisata? So, apakah lebih baik dahulukan pembenahan infrastruktur dari pada promosi besar-besaran di bidang MICE & pariwisata? Bgm menurut Bang Faisal Basri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s