Bahan Makanan Penyumbang Inflasi Terbesar Selama 4 Bulan Terakhir


Gembar gembor swasembada pangan dan peningkatan produksi sejumlah produk pertanian patut dipertanyakan. Logikanya, kalau produksi meningkat cukup signifikan, harga setidaknya tidak naik, apalagi kalau sudah swasembada.

Kenyataan menunjukkan dalam empat bulan terakhir, andil kelompok bahan makanan terhadap inflasi sangat dominan, rata-rata sekitar 50 persen. Pada bulan Mei andil bahan makanan terhadap inflasi sebesar 56 persen. Bulan berikutnya naik menjadi 61,1 persen. Bulan Juli turun mnjadi 43 persen, namun pada bulan Agustus naik lagi menjadi 48,7 persen.

Pada bulan Agustus, komoditas bahan pangan yang paling dominan memberikan andil terhadap inflasi adalah daging ayam ras, beras, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging sapi.

Penyumbang dominan pada bulan Juli juga hampir sama: daging ayam ras, beras, daging sapi, dan cabai rawit. Sedangkan pada bulan Mei yang dominan adalah daging ayam ras dan telur ayam ras.

Seandainya harga bahan makanan stabil, inflasi hanya sekitar separuh dari tingkat sekarang, yang pada bulan Agustus mencapai 7,18 persen (year-on-year).

Adalah bahan makanan pula, oleh karena itu, yang turut menyumbang terhadap pelemahan rupiah, karena pada dasarnya nilai tukar suatu mata uang merupakan cerminan dari daya beli relatif. Jika inflasi kita lebih tinggi ketimbang negara-negara tetangga, maka kemerosotan nilai tukar kita bakal lebih tajam ketimbang negara tetangga.

Dibandingkan dengan negara tetangga ASEAN, inflasi kita paling tinggi, terhadap Vietnam sekalipun.

ainflasi

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Agriculture, Makroekonomi. Bookmark the permalink.

4 Responses to Bahan Makanan Penyumbang Inflasi Terbesar Selama 4 Bulan Terakhir

  1. picmix photo says:

    Article nya menarik, kenapa bisa begitu naik bahan makanan pokok di negri kita ini ?

  2. my sushi says:

    apakah produksi lokal bisa mencukupi?? seperti daging sapi misalnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s