Gerakan Genjot Ekspor 3X Lipat: MIMPI Lagi


Senin kemarin (3/8), Presiden mencanangkan “Gerakan Peningkatan Ekspor 3X Lipat”   di Makassar. Optimisme sah-sah saja. Saya juga sangat ingin perekonomian Indonesia maju dan ekspor terpacu sehingga nilai tukar rupiah tidak merosot terus menerus.

Masalahnya, ini mengurus perekonomian negara, bukan obral janji seperti di masa kampanye lagi. Segala sesuatu harus akuntabel dan kredibel, berdasarkan proyeksi atau prediksi yang terukur, karena target membawa konsekuensi pada program kerja dan instrumen kebijakan yang harus dipersiapkan serta termanifestasikan dalam pos anggaran di APBN.

????????????????????????????????????

Target menaikkan nilai ekspor 3X lipat berarti ekspor dalam lima tahun (2015-2019) naik sebesar 200 persen.

Mari kita tengok kondisi awal. Pada tahun 2014, ekspot total senilai 176,3 miliar dollar AS, terdiri dari nonmigas 146 miliar dollar AS dan migas 30,3 miliar dollar AS.

Jika tahun 2019 ekspor naik 3X lipat berarti nilai ekspor total harus mencapai 528,9 miliar dollar. Kalau kenaikan ekspor nonmigas dan migas naik dengan kecepatan yang sama, masing-masing 200 persen, maka pada tahun 2019 ekspor nonmigas harus mencapai 438 miliar dollar dan ekspor migas 90,9 miliar dollar AS.

Untuk mencapai target, ekspor total harus naik 24,6 persen rata-rata setahun. Ekspor migas hampir pasti tak bisa naik. Katakanlah ekspor migas hnya mandeg di tingkat 2014, maka ekspor nonmigas harus lebih digenjot, harus naik 28 persen rata-rata setahun.

Padahal, data terbaru menunjukkan selama tahun 2015 (Januari-Mei) ekspor boro-boro naik, justru sebaliknya terus  melorot lebih dalam, pertumbuhannya minus 11,9 persen. Kemerosotan ekspor sudah memasuki tahun keempat dan dialami oleh produk nonmigas maupun migas.

ax

Perkembangan ekspor Indonesia selama 2008-13 tergolong lumayan bagus dibandingkan dengan negara-negara pengekspor 30-besar, sehingga peringkat Indonesia naik dari ke-31 pada 2008 menjadi ke-27 pada 2013. Selama kurun waktu lima tahun itu ekspor Indonesia naik 24,5 persen, tetapi sangat jauh lebih rendah dari target kenaikan 2015-19 sebesar 200 persen.

Pada kurun waktu yang sama, peningkatan ekspor tertinggi dinikmati India, yaitu sebesar 74,9 persen. Itu pun sangat rendah dibandingkan target pemerintah yang 200 persen.

Target pemerintah semakin terasa ganjil karena negara-negara top-30 hamper tanpa kecuali mengandalkan ekspor manufaktur, sedangkan ekspor Indonesia masih sangat didominasi oleh komoditas primer yang harganya sangat bergejolak tajam seperti roller coaster.

a1

Ekspor tidak bias serta merta naik. Ekspor adalah hasil dari produksi yang tidak dikonsumsi di dalam negeri. Kalau produksi (produk domestik bruto) sedang loyo dan nilai nominalnya (bukan harga konstan) hanya naik belasan persen sekalipun, ekspor tak bisa ditingkatkan dua kali lipat dari peningkatan PDB. Bukankah konsumsi domestik juga naik?

Peraga di bawah menunjukkan rata-rata pangsa ekspor barang dan jasa dalam PDB relative stabil. Selama kurun waktu yang cukup panjang (1980-2014) peranan ekspor dalam PDB sebesar 28,6 persen. Dalam enam tahun terakhir justru terjadi penurunan. Kalaupun naik, sulit membayangkan kenaikan drastis. Hanya sekali terjadi kenaikan luar biasa, yaitu pada tahun 1998 ketika Indonesia mengalami krisis terburuk. Kenaikan tajam terjadi karena pertumbuhan eknomi merosot sampai 13 persen dan ekspor naik tajam karena nilai tukar rupiah terjun bebas. Sekararang, walaupun kurs sudah bertengger di aras Rp 13.492 per dollar AS–terendah sejak 1998–ekspor tetap saja lunglai.

a3

Ada lagi keanehan dengan genjot ekspor 3X lipat. Entah dari mana datangnya angka itu. Di dokumen resmi pemerintah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019, target prtumbuhan ekspor nonmigas hanya 1 dijit untuk 2015-16 dan 2 dijit untuk 2017-19. Rinciannya: 8,0 persen (2015), 9,9 persen (2016), 11,9 persen (2017), 13,7 persen (2018), dan 14,3 persen (2019).

RPJM sudah diberlakukan dengan Perpres No.2 Tahun 2015. Apakah Presiden tidak sadar bahwa pencanangan itu bertetangan dengan Perpres yang ditandatanganinya sendiri? Kalau 3X lipat tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Perdagangan 2015-2019, lantas apa gunanya RPJM yang telah dibuat dengan susah payah dan hasil dari proses penggodokan bertahun-tahun?

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional, Public Policy, Salah Kaprah, Sesat Pikir. Bookmark the permalink.

6 Responses to Gerakan Genjot Ekspor 3X Lipat: MIMPI Lagi

  1. yalwendra says:

    nice view pak fb. btw, 3x lipat itu = 200%? bukannya 300% yak?

    • faisal basri says:

      Betul, 3X lipat setara dengan 200 persen. Kalau 100 persen berarti dua kali lipat, kan.

      • yalwendra says:

        hihihi…bukan pak fb. let’s me make it clear.
        kalo pak fb punya produk dijual seharga 100. lalu masih tetap dengan harga 100. tidak ada kenaikan tho. kenaikan 0%. sekarang dari 100 lalu dinaikan menjadi 150. berapa kenaikannya? naik 50 point, atau setara dengan naik 50%. naik setengah kali lipat dari awal. kalo dinaikan dari 100 menjadi 200. ada kenaikan 1 kali lipat khan dari nilai awal. naik 100%. jadi kalo naik 3x lipat naiknya 300%. nah, saya dan beberapa engineers menyebutnya ada ilusi matematika disini. But, that’s kind of different perspective in seeing the meaning “naik, atau meningkat”. The issue is the setting unrealistic target…

        by the way, your illustration about the “real circumstances” are nice and important to understand by us, Indonesians, what the things are happened now. may I get your e-mail pak fb?

  2. Kalau saya baca, yang dimaksud ekspor 3x lipat untuk wilayah Sulsel

    Jokowi Canangkan Gerakan Sulsel Ekspor 3X Lipathttp://www.kabarmakassar.com/headline/jokowi-canangkan-gerakan-sulsel-ekspor-3x-lipat.html

    • faisal basri says:

      Percayalah, itu keliru. saya sudah mengikuti persoalan ini berbulan-bulan. akhirnya, foto itu semakin menegaskan itu adalah pencanangan nasional. Yg untuk sulsel itu untuk SNI: sulsel ber-sni.
      Kalau saya keliru, istana tentu saja sudah bereaksi.

  3. rahmatt says:

    Dari spanduk yang di belakang Pak Presiden, sepertinya tidak ada keterlibatan Indonesia Eximbank/LPEI. Menurut Bapak, seberapa penting peran lembaga pembiayaan eksport/export credit agency dalam peningkatan ekspor suatu negara? Barangkali menarik untuk dianalisis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s