Secara Teknis, Rupiah Harusnya Tak Separah Sekarang


Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke tingkat terendah pada hari Rabu (17/6) lalu, yaitu Rp 13.367 per dollar AS. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menganggap pelemahan rupiah akibat kondisi penguatan dolar AS atau yang sering disebut dengan ‘super dollar’. Karena banyak mata uang di negara lain juga mengalami hal serupa. “Malaysia ringgit (depresiasi/melemah) 1,1%; won Korea 1,07%; dan peso Filipina juga 0,7%,” ungkap Bambang di Gedung DPR, Jakarta, Senin (8/6/2015). Lihat http://detik.id/68oT0g.

Sadarkah Menteri Keuangan bahwa rupiah sudah sangat lama melemah, persisnya sejak awal Agustus 2011.

arp
Sejak Desember 2014 cukup banyak faktor yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap rupiah. Yang terpenting adalah kemerosotan harga minyak. Impor minyak menjadi biang keladi kemerosotan rupiah sejak tahun 2011. Namun selama Januar-Mei 2015 impor minyak turun tajam, sebesar 51 persen.

aoil

Tidak hanya dalam nilai, dalam volume pun impor minyak turun.

avol

Sedemikian tajamnya perurunan impor BBM sehingga tidak lagi menjadi komoditas impor terbesar sebagaimana terjadi selama 2011-2014. Kini impor BBM hanya menduduki urutan ketiga terbesar.

12Kemerosotan harga BBM pulalah yang membuat transaksi perdagangan luar negeri kembali surplus setelah selama tiga tahun sebelumnya selalu defisit. Walaupun ekspor selama Januari-Mei turun sebesar 11,8 persen, transaksi perdagagan tetap surplus karena impor turun lebih tajam, yaitu sebesar 17,9 persen. Penurunan impor sangat tajam dialami oleh migas, yaitu 42,8 persen.

atrade

Penurunan nilai impor juga dialami oleh berbagai komoditi yang tergolong sebagai kebutuhan pokok karena kemerosotan harga, misalnya gandum, kedelai, jagung dan gula.

acom

Untuk perdagangn jasa juga mengalami perbaikan. Defisit perdagangan jasa yang biasanya per triwulan sekitar 2,5 miliar dollar AS sampai 3,5 miliar dollar AS, pada triwulan I-2015 hanya 1,8 miliar dollar AS. Karena akun primary income dan secondary income tidak mengalami perubahan berarti, maka defisit akun semasa (current account) pada triwulan I-2015 membaik menjadi hanya 1,8 persen PDB dibandingkan 2,9 persen PDB pada tahun 2014.

Defisit current account ditutupi oleh surplus lalu lintas modal dalam bentuk penanaman modal asing langsung (FDI) maupun portofolio.

ca

aka Dengan demikian, neraca pembayaran terus mencatatkan surplus, sehingga cadangan devisa juga masih menikmati surplus. Karena itu seharusnya secara teknis, rupiah tidak mengalami pelemahan berkelanjutan.

abop

areserves

Jadi mengapa rupiah terus melemah padahal pasokan dollar AS lebih besar ketimbang permintaannya?

Penyebabnya diduga pemilik dollar AS tidak menukarkan dollarnya ke rupiah karena motif berjaga-jaga. Pemilik dollar khawatir merugi kalau nanti mereka butuh dollar harus membeli dengan kurs yang lebih tinggi lagi. Masyarakat maupun pebisnis tak berhasil diyakinkan oleh pemerintah dan BI. Ada semacam krisis kepercayaan dan tergerusnya trust terhadap pemerintah dan BI.

Hal itu mengakibatkan pasokan dollar AS di pasar valuta asing tidak meningkat. Apalagi mengingat volume transaksi di pasar valuta asing sangat tipis, sekitar 2 miliar dollar AS saja dalam sehari.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional, Financial Sector, Makroekonomi. Bookmark the permalink.

20 Responses to Secara Teknis, Rupiah Harusnya Tak Separah Sekarang

  1. cvnadagroup2017 says:

    like

  2. I believe in you mr Basri for next finance minister.

  3. JilbabAnak says:

    analisa yg mendalam, jangan sampai RI1 & RI2 tidak membaca ini..

  4. saidedwinhs says:

    pak jadi apakah yang seharusnya dilakukan pemerintah sekarang

    • faisal basri says:

      Jangan panic. Buat kebijakan yang kredibel agar muncul trust yg kuat di kalangan pelaku ekonomi. Perlu konduktor yang handal agar semua pemain musiknya menghasilkan harmoni. Pemimpinnya harus punya helicopter view.

  5. Felix says:

    Ekonomi makro Indonesia saat ini sedang digoyang “hanya” karna isu, sentimen dan juga kepercayaan. Yg sama sekali tidak pernah saya lihat (sampai sekarang) di buku2 ekonomi SMA dan Kuliah..

    Miris juga pak jika (ekonomi) kita luntang-lantung gak karuan bukan karna faktor teknis semata..

  6. arrays says:

    kaya nya kita perlu panggil kembali Bu Sri Mulyani nih, hehehe….

  7. Si_ilung says:

    Pak FB Yth,
    Menurut saya ada dikotomi antara BOP dg market price dari USD/IDR. Wpun kita mencatatkan surplus CA FA dan KA yang membuat cadev kita naik, belum tentu rupiah menguat.

    Perlu diingat bahwa BOP itu hanya pencatatan, uang USD bisa saja tidak ada di Indonesia, sementara perdagangan USD/IDR ada di Pasar Indonesia dan itu yg menggerakkan pasar.

    Tp BOP adalah useful indicator untuk melihat vulnerabilitas external. Kondisi saat ini jelas buruk, CA defisit shg kita tergantung dr capital inflows. Lalu kondisi terakhir, inflows yg datang mostly hot money..

    • faisal basri says:

      Bung Chairul yb

      BOP mencatat semua transaksi luar negeri dengan menggunakan double entry bookkeeping. Transaksi penerimaan devisa dicatat di sisi kredit. jadi betul-betul masuk uangnya. Masalahnya, uang yang masuk itu bias saya tetap dalam valas dan ditaruh di bank si penerima. Jadi pasokan dollar di pasar tak naik. Itulah agaknya yang terjadi. Hal tu tercermin dari transaksi valas harian yang tipis, sekitar 2 miliar dollar AS. Mengapa mereka tidak menukarkan valasnya ke rupiah? Saya duga mereka tak yakin kurs membaik,kebijakan pemerintah tidak kredibel. mereka takut kalau butuh valas lagi di kemudian hari kursnya sudah lebih burk dan susah dapatkannya. BI agaknya kurang memerhatikan itu.

  8. Pingback: Balada Rupiah -

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s