Seminggu lagi kita bakal memiliki pemerintahan baru. Banyak tantangan menghadang. Namun, cukup banyak pula faktor yang membuat asa menyembul.

Ancaman utama bukan berasal dari luar. Seburuk-buruknya perekonomian dunia, pertumbuhan ekonomi global tahun ini bakal lebih baik daripada tahun lalu. Publikasi terakhir Dana Moneter Internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bakal lebih baik lagi. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2015 diperkirakan 3,8 persen, jauh lebih tinggi ketimbang tahun ini yang diperkirakan hanya 3,3 persen.

Tahun depan, ujung tombak akselerasi pertumbuhan berasal dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan India. Penurunan pertumbuhan Tiongkok yang terjadi sejak 2011 tampaknya akan terus berlanjut tahun depan.

Di dalam negeri membaiknya perekonomian AS kerap dipandang oleh penentu kebijakan makroekonomi sebagai ancaman utama. Mereka meyakini perbaikan ekonomi AS bakal membuat Bank Sentral AS (The Fed) segera menaikkan suku bunga. Walaupun dana stimulus hampir bisa pastikan dalam waktu dekat tak lagi digelontorkan, The Fed tidak akan serta merta pada waktu bersamaan menaikkan suku bunga. Sebagian anggota The Fed, termasuk ketuanya, belum berani menetapkan target waktu penurunan suku bunga mengingat peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan masih menghadapi beberapa rintangan.

Angka pengangguran di AS memang turun menjadi 5,9 persen pada September lalu, yang merupakan tingkat terendah sejak 2008. Namun, penurunan itu juga disebabkan semakin banyak pencari kerja frustrasi bertahun-tahun tak menemukan pekerjaan baru sehingga mereka keluar dari pasar kerja.

Lagi pula, kenaikan suku bunga bakal memacu arus modal masuk ke AS sehingga membuat nilai dollar AS terapresiasi. Padahal, pasar ekspor AS banyak yang melemah sehingga membuat transaksi perdagangan AS tertekan, yang pada gilirannya meningkatkan angka pengangguran kembali.

Kalaupun The Fed menaikkan suku bunga, daya tahan ekonomi kita tergolong cukup kuat. Selama tahun 2014, imbal hasil pasar saham Indonesia selalu dua digit, bahkan tak jarang mencapai di atas 20 persen. Tak heran, arus modal portofolio neto yang masuk ke Indonesia selama semester I- 2014 sudah mencapai 16,8 miliar dollar AS, naik hampir dua kali lipat dibandingkan dengan sepanjang tahun lalu yang sebesar 9,5 miliar dollar AS. Investor asing juga terus membeli surat utang negara sebagaimana tercermin dari pemilikan surat utang negara oleh asing yang naik dari 33 persen pada Desember 2013 menjadi 36 persen pada akhir Juni 2014.

Penanaman modal asing langsung juga masih menunjukkan tren kenaikan, rata-rata setahun mendekati 20 miliar dollar AS. World Investment Report terbaru yang diterbitkan Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD), Juli lalu, menempatkan Indonesia di urutan ketiga sebagai negara paling prospektif di mata perusahaan transnasional. Posisi itu naik satu peringkat dibandingkan dengan laporan tahun lalu.

Persoalannya adalah Indonesia lebih dilihat sebagai potensi pasar semata, sehingga penanaman modal asing langsung dalam beberapa tahun terakhir kian menyemut di sektor yang berorientasi pasar dalam negeri. Karena struktur industri sangat rapuh, peningkatan investasi justru memperberat defisit akun lancar (current account) mengingat peningkatan ekspor lebih kecil daripada peningkatan impor.

Tantangan berat yang harus dijawab oleh pemerintahan baru adalah bagaimana investor asing kian menjadikan Indonesia sebagai basis produksi regional, bahkan dunia. Samsung memilih Vietnam dan Blackberry memilih Malaysia sebagai basis produksi kiranya cukup sebagai cambuk untuk membenahi kebijakan industrial kita.

Selama ini yang hilang dalam memajukan industri adalah kepemimpinan nasional. Tak ada dirijen yang memandu kebijakan sektoral sehingga kementerian-kementerian terkait berjalan sendiri-sendiri dengan target yang berbeda-beda demi kepentingan jangka pendek.

Atas nama stabilitas, sektor riil, khususnya industri manufaktur, dikorbankan. Kenyataannya stabilitas tidak membaik dan pertumbuhan ekonomi melorot.

Kebijakan fiskal dan moneter yang dilatarbelakangi oleh ketakutan tindakan The Fed yang belum pasti itu membuat perumus kebijakan terlena mengikuti langgam gerak perekonomian yang memang sudah menunjukkan pelemahan sejak triwulan III-2012. Pelemahan direspons dengan mengeluarkan kebijakan yang semakin melemahkan lewat kebijakan fiskal dan moneter ketat.

Bukti bahwa perumus kebijakan sudah kebablasan adalah Bank Indonesia yang sudah tujuh kali mengubah prediksi pertumbuhan ekonomi 2014.

Kabinet pemerintahan mendatang perlu segera tancap gas untuk segera memulihkan pertumbuhan ekonomi. Gunakan strategi low-hanging fruit, dengan membakar lemak yang menyelubungi perekonomian, mereformasi struktur bea masuk, dan menghapuskan beban-beban tidak perlu yang justru meningkat dalam setahun terakhir. Dengan begitu, diyakini Indonesia bakal menjadi sangat menarik untuk dijadikan basis produksi regional maupun global sehingga segera berdampak bagi perbaikan akun lancar.

Bagaimanapun, tekanan sektor eksternal akan lebih cepat menyembuhkan penyakit akut perekonomian jika harga bahan bakar minyak bersubsidi segera dinaikkan tanpa menunggu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015 mulai dilaksanakan. Keberanian mengangkat kanker ganas ini merupakan prasyarat atau syarat perlu.

Saatnya mengusung asa terukur bagi penyembuhan tuntas. Sedikit saja keraguan bakal membuat asa terkikis. Kita berharap kepemimpinan baru bisa mewujudkan harapan yang sudah cukup lama terkubur oleh keraguan.

[Dimuat di Harian Kompas, Senin, 13 Oktober 2014, hal.15]