Selasa, 19 Agustus 2014 15:22 WIB

Dia mengkhawatirkan hal ini karena kontribusi industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang masih sangat rendah.

“Kontribusi Industri ke PDB hanya 23,6 persen padahal kita pernah mencapai 29 persen dari sektor ini ke PDB, ini tandanya pertumbuhan ekonomi kita bukan lagi dikontribusikan oleh industri manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja,” katanya di Jakarta, Selasa, (19/08/2014).

Selain rendahnya kontribusi ke PDB, ada permasalahan yang juga dialami dalam penyerapan tenaga kerja. Selama ini, sektor industri hanya 14 persen menyerap tenaga kerja di indonesia, padahal idealnya jumlah sektor industri berkontribusi sebesar 25 persen dari jumlah tenaga kerja.

“Kontribusi tenaga kerja ditopang melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), padahal ini bukan sektor formal dan tidak menyerap tenaga kerja, kalau kelas menengah tumbuh mereka butuh pekerjaan dan tidak bisa disalurkan (hanya) ke sektor UMKM,” katanya.

Dengan industrialisasi yang kuat Faisal mengatakan bahwa ekspor manufaktur juga akan meningkat. Jika ini terjadi maka defisit neraca perdagangan juga bisa dikurangi dan membantu cadangan devisa. Jadi dampaknya bisa keseluruhan untuk memperbaiki fondasi struktural perekonomian.

“Ekspor manufaktur bisa diperkuat lagi dan dampaknya adalah bisa berkontribusi ke cadangan devisa jadi dampak pembangunan industri ini sangat luas,” katanya.

Sumber: diunduh dari http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/08/19/industrialisasi-mutlak-untuk-mengatasi-jebakan-kelas-menengah