17 Comments

  1. Malangnya kita warga negara Indonesia, negara tetangga Malaysia Premium disana (RON 95 ) kwalitas pertamax plus di Negeri ini harganya 2,1 ringgit atau sekitar 7.800 rupiah..

  2. agar petani bisa menikmati hasil mereka (tidak jatuh ke tengkulak), maka mekanisme lumbung desa harus dihidupkan kembali. Selain itu, pemerintah hrs membangun infrastruktur yg bagus agar hasil tani dpt didistribusikan dgn mudah…

    1. Rokok merusak kesehatan dan menggasak kantong, utamanya orang miskin. wawancara saya dengan lima orang ibu di suatu kota kecil di Sumatera ternyata kelima suaminya merokok. Dalam setahun setiap suami menghabiskan rata-rata Rp 4,3 juta setahun.

  3. “Penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan pada Maret 2014 berjumlah 28,28 juta, hampir dua pertiga tinggal di pedesaan. Harga beraslah yang paling sensitif bagi orang miskin dan nyaris miskin di pedesaan karena belanja untuk beras menghabiskan sepertiga dari belanja total mereka”

    “hampir dua pertiga tinggal di pedesaan”

    “karena belanja untuk beras menghabiskan sepertiga dari belanja total mereka”

    boleh minta data 2 pernyataan diatas bang?

    Denny, KM-ITB

  4. bang, bagaimana dengan isu yang beredar kenaikan BBM 3.000 rupiah?
    bagaimana dampaknya?

    sementara pemerintahan Jokowi-JK baru dilantik dan terlihat belum memiliki paket kebijakan untuk menanggulangi dampak terutama bagi masyarakat miskin…

    1. Dengan penurunan sekitar 20 persen harga minyak mentah dunia, kenaikan harga cukup Rp 2.000 – Rp 2.500. Dampaknya memang menyulitkan tetapi kanker ganas ini harus dienyahkan dari tubuh perekonomian. Dampaknya terhadap inflasi sekitar 2,5 persen dan berlangsung sekitar setahun. Besarnya subsidi dipatok agar suhu perekonomian (inflasi) tidak lagi kerap bergejolak dan postur anggaran tidak lagi babak belur. Insya Allah setahun ke depan perekonomian kita semakin sehat dan berkelanjutan.

  5. Bang Faisal,

    Saya sering menyimak tulisan abang di Blog ini. Sebagai non ekonom (tapi orang hukum) tulisan abang sangat membantu saya memahami sistem ekonomi Indonesia. Tulisan ini salah satunya, dan ketika saya membacanya ada satu pertanyaan / usul yang semoga abang bersedia memberikan pencerahan tambahan.

    Terpikir oleh saya, bagaimana caranya agar kenaikan BBM (pencabutan subsidi) tidak membuat semua sektor publik jadi kebakaran jenggot. Karena saya berpikir, ketika yang naik adalah premium & diesel kenapa harus harga sayur jadi naik? Ayam jadi ikutan naik? Padahal kan ayam dan sayur tidak ikutan makan bensin atau solar. Kalau angkot naik ya mungkin karena mereka “minum” BBM untuk beroperasi. Jawaban sementara saya adalah karena ongkos produksi ayam dan sayur (atau sembako lainnya) kan pakai BBM jadi ya efeknya berantai.

    Nah muncul pemikiran saya, apakah mungkin kalau subsidi yang dicabut diarahkan untuk sektor publik. Artinya, angkot tetap dapat subsidi karena kan untuk kepentingan publik. Atau misalnya beberapa bahan pokok tetap disubsidi, sehingga nanti di pasar akan ada 2 jenis sembako (yang normal dan yang “generik”). Kalau seperti itu, dari sisi ekonomi mungkin gak sih bang? Kalau kebijakan sekarang sih memang diarahkan untuk infrastruktur, tapi itu jangka panjang..jangka pendeknya tidak tersentuh. Artinya sembako dan sektor transportasi publik akan langsung shock, publik pun akan bergejolak terus.

    Ini hanya pemikiran awam buangetttt…jadi kalau berkenan mohon di cerahkan. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s