Indonesia Segera Menjadi 5 Raksasa Dunia?


Beberapa waktu lalu, World Economic Forum (WEF), lembaga ternama yang setiap tahun menggelar pertemuan kepala negara dan pemimpin bisnis di Davos, berkicau bahwa China akan menjelma sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada tahun 2024, mengambil alih posisi Amerika Serikat yang sudah didudukinya selama lebih satu abad.

Ternyata, WEF menggunakan data dan peraga yang berasal dari portal Statista yang juga sangat ternama dan menjadi rujukan berbagai lembaga riset dan lembaga pemerintah.

Gambar

Ikhwal China akan mengambil alih posisi puncak dari Amerika Serikat, agaknya tinggal menunggu waktu yang tak lama lagi. Pandemik COVID-19 akan mempercepatnya.

Namun, bukan soal China menyusul Amerika Serikat yag menarik. Statista mencantumkan bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia bakal meroket dari peringkat ke-16 pada tahun 2019 menjadi urutan kelima (proyeksi) pada 2024. Jelas-jelas Statista menggunakan indikator GDP (gross domestic product) alias PDB—tanpa embel-embel. Berarti hanya dalam wartu lima tahun PDB Indonesia melompat sebelas peringkat. Agar terwujud, PDB Indonesia harus naik tiga kali lipat lebih dan PDB Jerman merosot.

Ketika Indonesia mulai memasuki era pembangunan terencana tahun 1967, PDB Indonesia berada di peringkat ke-35. Butuh satu dasawarsa untuk merangkak ke urutan ke-30. Era pertumbuhan tinggi pada dekade 1970-an memungkinkan Indonesia melompat ke peringkat ke-23 pada tahun 1980.

Memasuki dasawarsa 1980-an, perekonomian Indonesia tersandung dua kali kemerosotan harga minyak (1982 dan 1985) ketika produksi minyak mentah mencapai rata-rata di atas 1,5 juta barrel per hari. Perekonomian Indonesia kala itu masih sangat bergantung pada penerimaan minyak di APBN dan pundi-pundi devisa dari ekspor minyak. Tak pelak lagi, gerak maju terhambat, sehingga pada tahun 1990 peringkat Indonesia turun dan kembali ke posisi tahun 1970.

Setelah meningkat empat peringkat pada tahun 2000, era commodity boom memberikan kontribusi bagi peningkatan tajam peringkat PDB Indonesia. Pada tahun 2010, peringkat Indonesia melonjak ke posisi ke-18 dan mencapai posisi tertinggi (ke-16) pada tahun 2019.

Sumber: Ganbar tangga diunduh dari http://www.pokohjayateknik.com

Lain cerita jika menggunakan indikator PDB yang telah disesuaikan dengan daya beli. Berdasarkan PDB paritas daya beli (purchasing power parity), posisi Indonesia sudah di urutan ketujuh pada 2019. Ada peluang kita bisa menembus lima besar dunia jika pertumbuhan ekonomi rerata lima tahun ke depan di atas lima persen dan nilai tukar rupiah cenderung menguat.

Tapi, apalah artinya sekedar kue kian besar jika harus dibagi jumlah penduduk yang besar dan terus meningkat. Mari kita lihat peringkat pendapatan nasional Indonesia per kepala. Pada tahun 2019, pendapatan nasional kotor (gross national income) per kapita kita masih tercecer di urutan ke-118. Dengan GNI per capita sebesar 4.050 dollar AS pada tahun 2019, kita telah naik kelas dari kelompok negara berpendapatan menengah-bawah ke kelompok negara berpendapatan menengah-atas. Untuk GNI berbasarkan PPP, posisi kita sedikit lebih baik meskipun masih di urutan di atas seratus.

Lebih bermakna lagi jika pembagian kue lebih merata dan kualitas sumber daya manusianya membaik secara signifikan. Kunci untuk mencapai cita-cita mulia itu adalah pembangunan yang inklusif, dimulai dengan meningkatkan mobilitas sosial yang bertumpu pada perluasan akses pendidikan dan kesehatan serta penciptaan lapangan kerja yang bermutu.

Oligarki yang kian mencengkeram menjadi musuh utama bagi tegaknya keadilan sosial dan demokrasi sosial, bukan demokrasi liberal yang lebih bersifat formal dan prosedural.