Lanjut ke konten

Pembangunan Infrastruktur untuk Negara Maritim


stream.org

Batas-batas negara kian pudar. Globalisasi bukan sekedar proses interaksi, melainkan juga integrasi antarwarga, perusahaan, dan pemerintah berbagai negara yang digerakkan oleh pertukaran barang dan jasa, pergerakan modal fisik dan finansial, mobilitas manusia, dan ditopang oleh teknologi informasi dan komunikasi. Proses globalisasi berdampak terhadap segala aspek kehidupan, seperti lingkungan, budaya, sistem politik, pembangunan dan kemakmuran, sert kesejahteraan fisik manusia (diadaptasi dari www.globalization101.org).

Sebelum mengarungi kancah globalisasi—berintegrasi dengan dunia—suatu negara dituntut untuk mengintegrasikan dirinya terlebih dahulu. Dalam konteks globalisasi ekonomi, negara itu harus mengintegrasikan perekonomian domestiknya. Jika syarat mutlak itu tidak terpenuhi, suatu negara hanya menjadi hamba dari globalisasi,: mudarat globalisasi lebih banyak dari maslahatnya.

Contoh sehari-hari yang menunjukkan tingkat integrasi perekonomian domestik ialah disparitas harga. Misalnya, harga durian Sumatera atau durian Kalimantan di Jakarta berlipat-lipat dibandingkan dengan di kota atau daerah produsen. Harga duku, salak, manga, dan Jeruk pun demikian.

Buah mana yang harganya lebih murah pada gambar berikut? Di kiri jeruk lokal dan di kanan jeruk impor.

Ternyata buat impor yang sosoknya lebih molek dan eksotik lebih murah. Pada umumnya buah sejenis yang berasal dari impor lebih murah dari buah lokal. Bertahun-tahun seperti itu. Gambar berikut diambil pada 2004.

Pada 2018, di toko buah di Malang, Jeruk impor hanya Rp 27.950 per kh, sedangkan Jeruk lokal Rp 32.950 per kg.

This image has an empty alt attribute; its file name is screen-shot-2019-02-12-at-18.20.36.png

Pedagang pinggir jalan di Bogor pun menawarkan jeruk impor lebih murah dari jeruk lokal, masing-masing Rp 25.000 per kg dan Rp 30.000 per kg.

Salah satu toko buah di Palembang menjajakan mangga impor dengan harga lebih murah dari mangga lokal (harum manis). Mangga asal Brazil dijual dengan harga Rp 29.900 per kg dan harga mangga harum manis Rp 39.500 per kg.

Jangankan mendunia seperti buah Thailand dan Brazil itu, di negeri sendiri saja sulit bagi buah lokal dijual ke seantero negeri. Kalaupun ada, harganya mahal. Ironisnya, petani tetap saja menerima harga yang sangat murah. Disparitas harga yang sangat lebar di daerah produsen dan konsumen merupakan salah satu pertanda bahwa derajat integrasi perekonomian masih rendah.

Mengapa kondisi seperti itu terjadi? Jawabannya ada di dua gambar berikut.

Pada tahun 2018, sekitar 85 persen barang ekspor dan impor lewat laut diangkut oleh kapal asing. Kita menghabiskan USD8,5 miliar untuk jasa kapal asing itu.

Padahal, Bung Karno jauh-jauh hari telah mengingatkan: “Untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara makmur, negara damai yang merupakan National Building bagi negara Indonesia, maka negara dapat menjadi kuat jika dapat menguasai lautan. Untuk menguasai lautan kita harus menguasai armada yang seimbang. (Ir. Soekarno dalam National Maritime Convention I (NMC), 1963). 

***

Saya bergembira membaca berita pelabuhan Sibolga sudah selesai dipermak dan siap diresmikan oleh Presiden. Dari penampakan gambar, terminal yang molek kelihatannya untuk penumpang.

finance.detik.com

faisal basri Lihat Semua

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development.

His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003).

He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement.

Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.

5 tanggapan untuk “Pembangunan Infrastruktur untuk Negara Maritim Tinggalkan komentar

  1. Pak…kok pembahasannya kayak gak tuntas. Gak diambil kesimpulan di akhir tulisan, bagaimana seharusnya pembangunan infrastruktur di negara maritim. Apakah langkah pemerintah sudah tepat dan bagaimana seharusnya langkah2 pemerintah berikutnya terkait masalah yg anda angkat.

  2. Jangan itu pak, Di Selandia Baru, daerah org kaya dgn org miskin yg bersebelahan saja harga bensin bisa beda. Padahal katanya harga pasar. Hal yg sama terjadi di Australia.

  3. Mahasiswa prof, yg jdi dosen saya sangat sering membicarakan tentang disparitas harga dlm kuliah prof.
    Jgnkan barang dari medan ke jakarta yg jrk berhari2 lewat darat. Sayur dari bawah kaki gunung sinanbung pun kalah bersaing di pasar kota medan dengan sayur dari tiongkok prof. Ironis memang negeri ini

Tinggalkan Balasan ke Syahril kamal HarahapCancel Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: