Pangan Kita Sudah dan Masih Defisit


.

hellosehat.com

Pangan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kelompok komoditi yang masuk dalam kelompok SITC 0 (bahan makanan dan binatang hidup/food and live animals). SITC adalah singkatan dari standard international trade classification.

Sejak 2007 transaksi perdagangan (ekspor dan impor) pangan kita mengalami defisit. Nilai defisit tertinggi terjadi pada 2011, yaitu sebesar USD4,2 miliar. Defisit pangan bisa ditekan hingga hanya USD0,6 miliar pada 2015, namun membengkak kembali dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2018 (hingga November), defisit mengalami peningkatan menjadi USD2,9 miliar.

Lebih baik Menteri Pertanian mengakui kenyataan ini, bukan terus berkilah seperti pada berita Menteri Pertanian Luruskan Pemberitaan Soal Impor Pangan.

Memang Indonesia telah mengekspor beras, tetapi jumlahnya amat kecil, hanya nol koma nol nol sekian juta ton. Persisnya pada tahun 2018 sebesar 3.212.721 kg atau 3.212,7 ton atau 0,0032 juta ton.

Sedangkan impor beras pada 2018 mencapai 2,3 juta ton atau 716 kali lipat dari volume ekspor.

Untuk jagung harus diakui kita mengalami kemajuan, walau tak sefantastik yang diklaim oleh Menteri Pertanian.

Ada keberhasilan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam bidang pangan yang patut dicatat, yaitu dalam hal keamanan pangan. Peringkat Indonesia dalam Global Food Security Index (GFSI) selalu naik kelas dalam tiga tahun berakhir, dari urutan ke-74 pada 2015 menjadi ke-71 pada 2016, lalu naik lagi ke urutan ke-69 pada 2017 dan ke-65 pada 2018. Score GFSI Indonesia pun terus naik dari 46,7 pada 2015 menjadi 54,8 pada 2018.

Dengan kenaikan peringkat dan score itu, akses masyarakat terhadap pangan membaik. Kelaparan tak terdengar belakangan ini.


Tentu saja akan lebih baik lagi jika kita mampu memenuhi kebutuhan pangan pokok–tak harus semua jenis–mengingat luas lahan dan kesuburan tanah kita sangat memadai untuk menggapai harapan itu.

Insya Allah kita bisa.

4 respons untuk ‘Pangan Kita Sudah dan Masih Defisit

Add yours

  1. Menurut Bpk bagaimana bila Indonesia membuka diri seluas-luasnya dalam perdagangan internasional pangan, termasuk impor pangan tanpa sistem kuota? karena terdapat penelitian yang saya dengar menyatakan bahwa bila Indonesia tidak membatasi impor pangan maka harga komoditas pangan dapat turun signifikan dan tidak merugikan petani, dikarenakan mayoritas petani di Indonesia merupakan Net Food Consumer sehingga meskipun nilai jual pangan petani menurun tetapi living cost-nya jauh lebih turun dibandingkan penurunan nilai jual, selain itu sistem kuota cenderung corruptive. Mohon bapak dapat memberikan pendapat mengenai hal ini

    1. Masalah RI sebenarnya jg di alami Cina. Dgn penduduk 1 Milyar petani mereka jg sama spt petani RI dimana lahan mereka kecil2. Mereka jg punya maslaah utk kasih makan rakyatnya.

      Lahan pertanian di Cina itu cuma 0.7 ha per petani.
      http://www.igsnrr.ac.cn/xwzx/jxlwtj/201609/P020160929403217366534.pdf

      Kalau masalah pangan sebenarnya ada banyak pemecahan masalahnya. Tapi masalahnya siap gak SDM RI?

      Keterbatasan lahan bisa di atasi dgn cara
      1. Mencontoh Korea Selatan, Cina dan Brunai Darussalam yg rajin beli lahan di negara2 tetangga spt Australia utk sapi. Tapi masalahnya RI itu bukan Korea Selatan dan Brunai yg historiknya selalu jadi gak mudah di kasih ijin utk beli tanah luas di negara2 lain. Untungya sistem ini sih kalau kelebihan pasokan ke RI, bisa ikut nebeng fasilitas Australia utk memasarkan sapi2nya apalagi Australia punya kebijakan melarang semua produk pertanian import dari negar2 lain. Hal yg sama di alami Kanada, AS dan Selandia Baru.

      Penuhi Kebutuhan Pangan, China Incar Lahan Pertanian di Luar Negeri
      https://www.voaindonesia.com/a/penuhi-kebutuhan-pangan-china-incar-lahan-pertanian-di-luar-negeri/4270521.html

      Bahkan gurun pun sdh dir ubah Cina utk jadi lahan pertanian. Jadi kalau mau murah RI bisa beli gurun di Australia.

      2. Bisa ikuti Belanda dgn teknik hidrophonicnya. Mereka menggunakan gedung utk menanam sayuran dsb.
      https://www.nationalgeographic.com/magazine/2017/09/holland-agriculture-sustainable-farming/

      Dan Belanda cuma konsentrasi di 3 komoditi: Sayuran, kentang dan satunya lagi saya lupa

      https://www.dutchnews.nl/news/2018/01/the-netherlands-is-the-second-largest-agricultural-exporter-after-us/

      Karena itulah 5 tahun ke depan itu kita harus konsentrasi ke SDM RI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: