Catatan: Usulan saya pemotongan anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 75 triliun – Rp 100 triliun. Ternyata Pemerintah memutuskan lebih besar, Rp 134 triliun. Tentu Pemerintah memiliki hitung-hitungan yang lebih rinci dan akurat. Rencana “amputasi” ini tentu sangat pahit. Presiden harus memperoleh gambaran yang lebih membumi dari para pembantunya. Dengan argumentasi yang kuat didukung oleh data yang kredibel, insya Allah ke depan tidak terjadi lagi akrobat fiskal yang sangat membahayakan stabilitas perekonomian.

Berita pemangkasan anggaran bisa dilihat di sini: Jokowi Pangkas Anggaran Kementerian/Lembaga dan Dana Transfer Daerah http://kom.ps/AFv4pj

***

KOMPAS.COM, Senin, 1 Agustus 2016 | 21:08 WIB

Faisal Basri: Apakah Jokowi Mau Mendengarkan Sri Mulyani?

JAKARTA, KOMPAS.com – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menyimpan harapan besar kepada Menteri Keuangan (Menkeu) yang baru, Sri Mulyani Indrawati untuk bisa mengubah cara berfikir Presiden Joko Widodo atas pembangunan dari berdasarkan keinginan (wants) menjadi kebutuhan (needs).

“Pertanyaannya, apakah Jokowi secara psikologis siap di-challenge oleh menterinya?” ucap akademisi Universitas Indonesia (UI) itu Senin (1/8/2016) di Jakarta.

Faisal mengatakan, para pembantu Presiden banyak yang tipikal “Yes man”, suka meng-entertaint Presiden, tidak bisa berkata tidak serta tidak mampu memberikan masukan yang lebih rasional atas keinginan Jokowi.

Misalnya, Menkeu lama, Bambang PS Brodjonegoro yang tidak bisa menjelaskan betapa sulitnya merealisasikan target penerimaan perpajakan.

“Nah, mudah-mudahan dengan Sri Mulyani ini Jokowi bisa berubah, mau mendengar. Mudah-mudahan enggak pakai rumus ‘Pokoknya!’ dan bisa dirasionalisasi. Tugas berat Sri Mulyani di sana,” kata dia lagi.

Faisal berharap, Sri Mulyani bisa memberikan penjelasan ke Jokowi risiko pelebaran defisit anggaran serta kemungkinan gagalnya program amnesti pajak.

Dengan demikian, perlu dilakukan kebijakan amputasi anggaran.

“Maka yang bisa dilakukan Sri Mulyani adalah mulai Agustus ini memotong anggaran dengan cukup besar Rp 75 triliun –Rp 100 triliun. Kuncinya di sini saya rasa kabinet baru,” pungkas Faisal.

Penulis : Estu Suryowati
Editor : M Fajar Marta

Diunduh dari: http://kom.ps/AFv4Zi