Sesat Pikir Menteri Pertanian


Polisi menangkap kapal yang menyelundupkan 30 ton beras dan 5 ton gula pasir di perairan Batam, Kepulauan Riau (Kompas. 29 jauari 2016, hal.15). Lihat Penyelundupan Beras dan Gula.

Entah sudah berapa banyak beras, gula pasir, jagung, kedelai, dan bahan pangan lainnya yang sudah masuk ke Indonesia secara ilegal. Betapa menggiurkan laba yang diraup dari bisnis gelap itu. Pasalnya, harga pangan di Indonesia jauh lebih mahal dari harga di pasar internasional. Perbedaannya paling tidak dua kali lipat. Penyelundup semakin brutal. Mereka berani menyerang petugas Bea dan Cukai. Lihat Penyelundup Serang Petugas Bea dan Cukai

Berdasarkan data badan Pusat Statistik, harga eceran rerata beras di Indonesia pada Desember 2015 Rp 13.217 per kg. Harga beras Thailand (patah 5%) di pasar internasional hanya 363 dollar AS per ton atau sekitar Rp 5.082 per kg d(engan kurs Rp 14.000 per dollar AS). Harga beras Vietnam (patah 5%) sedikit lebih tinggi, yaitu 371 dollar AS per ton atau sekitar Rp 5.194 per kg. Sejak Oktober 2015 harga beras Vietnam naik. Sangat boleh jadi karena Indonesia mendadak butuh mengimpor beras dan Vietnam sangat tahu Indonesia “kepepet”. Harga Beras pada umumnya di pasar internasional cenderung turun sejak September 2015, termasuk beras Thailand. Penurunan harga beras di pasar internasional mengikuti kecenderungan umum yang dialami oleh hampir semua komoditas pangan, energi, maupun tambang.

Thailand praktis tidak lagi mengekspor beras karena sebelumnya menjual beras cukup banyak ke Filipina dan lebih mementingkan memperkuat cadangan nasionalnya untuk mengantisipasi kemungkinan stok beras dunia yang semakin menipis. Oleh karena itu, Indonesia mencari beras sampai ke Pakistan yang sangat mungkin lebih mahal.

Harga beras di pasar domestik sudah lama naik dan diperkirakan bakal naik terus sampai beberapa bulan ke depan. Pasokan dari dalam negeri masih seret karena musim tanam bergeser akibat musim hujan terlambat.

Sejak setahun lalu banyak kalangan telah mengingatkan potensi kemerosotan produksi beras di dalam negeri dan penurunan stok beras dunia. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan bakal terjadi musim kemarau panjang dan ekstrem akibat El Niño. Sayangnya Menteri Pertanian keras kepala dengan sesumbar kita tidak perlu impor beras. Pihak yang mempertanyakan keyakinan Menteri dituduh sebagai kaki-tangan importir beras.

Bukan cuma beras yang salah kelola. Jagung juga tidak kalah parahnya. Lihat Kisruh Jagung. Daging sapi tidak kunjung terselesaikan. Muncul lagi daging ayam ras dan telur ayam ras. Sesekali masalah kedelai muncul ke permukaan. Hampir semua ibarat ritual sepanjang tahun atau sekitarnya tahunan. Lihat Menohok ke Akar Masalah.

Yang terjadi—meminjam istilah kandidat Presiden Prabowo Subiyanto—sudah menjelma sebagai masalah yang terstruktur, sistematis, dan masif. Tidak heran jika food security index Indonesia jalan di tempat dan peringkatnya terus turun.

p-1

Transaksi perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) pangan pun sudah lama defisit. Penurunan defisit tahun 2015 lebih disebabkan oleh impor yang dihambat yang berakibat kenaikan harga-harga pangan. Tidak heran jika penyumbang terbesar terhadap inflasi adalah pangan.

food_deficit

Pemburukan pangan nasional sudah berlangsung cukup lama. Kita berharap pemerintahan Jokowi melakukan pembenahan mendasar, menohok ke akar masalahnya. Namun, sejauh ini masih bersifat tambal sulam. Menyelesaikan persoalan jagung tetapi menimbulkan masalah kenaikan harga ayam dan telur.

Semua dibikin repot oleh ulah Menteri Pertanian.

 

 

 

 

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Agriculture, Public Policy, Salah Kaprah, Sesat Pikir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s