Harga Pangan (Terutama Beras) Mengancam Penduduk Miskin


Tahun 2015 ditandai oleh bencana El Niño dan kebakaran lahan terlama dan terparah. Pulau Kaliman tan dan Sumatera paling menderita akibat kebakaran lahan. Perekonomian Kalimantan pada triwulan III-2015 mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif, sedangkan pertumbuhan ekonomi Sumatera terburuk kedua.

p-0

Dampak El Niño lebih merata. Berbulan-bulan tidak turun hujan menyebabkan kekeringan di seluruh Indonesia, menyebabkan gagal panen dan pergeseran musim tanam. Berbagai kalangan telah mengingatkan jauh-jauh hari.

Sayangnya, pemerintah, terutama Menteri Pertanian, tidak menggubris, bahkan sesumbar produksi pangan termasuk beras bakal naik sehingga tidak perlu mengimpor beras dan jagung.

Impor beras sampai November 2015 belum mencapai 300 ribu ton, jauh lebih rendah ketimbang selama empat tahun sebelumnya.

p-20

Tanpa El Niño dan kebakaran lahan sekalipun kondisi pangan kita tergolong rentan sebagaimana tampak dari indeks keamanan pangan yang di bawah 50 dengan peringkat yang terus turun.

Badan Pusat Statistik mengakui metode prakiraan produksi banyak mengandung kelemahan. Boleh jadi hanya data impor yang paling akurat.

Yang pasti harga beras merangkak naik. Yang mengalami kenaikan paling tajam ialah harga beras di tingkat eceran, menyusul harga beras di tingkat penggilingan. Ironisnya, di tingkat penggilingan, yang naik paling tajam adalah harga beras kualitas rendah. Apakah ini menunjukkan penyaluran raskin (beras untuk keluarga miskin) tersendat?

Kenaikan harga beras tampaknya tidak sepenuhnya dinikmati petani. Kenaikan harga gabah panen kering (GPK) ternyata paling kecil. Tengok punya disparitas harga yang relatif sangat lebar antara harga GPK, harga di tingkat penggilingan, dan harga eceran.

p-3

Perkembangan harga beras di Indonesia yang merangkak naik bertolak belakang dengan kecenderungan harga beras di pasar internasional yang terus mengalami penurunan. Perbedaan harganya pun amat kontras. Pada bulan November 2015, harga beras eceran di Indonesia hampir tiga kali lipat lebih mahal ketimbang harga beras Vietnam.

p-4

Penduduk miskinlah yang paling menderita, karena hampir sepertiga pengeluarannya tersedot untuk membeli beras. Jika ditambah dengan beberapa komoditas pangan yang dikonsumsi penduduk miskin yang mengalami kenaikan harga di atas inflasi nasional, maka porsi pengeluarannya naik menjadi 40 persen.

Perlu dicatat, pengeluaran terbesar kedua penduduk miskin adalah untuk membeli rokok kretek filter. Rokok memang memiskinkan!

p-5

Tak heran jika penduduk miskin kemungkinan besar akan terus naik. Posisi Maret 2015 saja sudah naik dibandingkan dengan September 2014.

Sesumbar dengan populisme, yang menanggung adalah penduduk miskin. Mahal sekali populisme yang menyesatkan itu!

p-6

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Agriculture, Ekonomi Politik, Inequality and Poverty, Sesat Pikir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s