“Rusman menjelaskan, konsumsi rumah tangga menyumbang kue pertumbuhan terbesar, yakni 56,7 persen, disusul investasi 32,2 persen. Idealnya, konsumsi rumah tangga terus menurun hingga di bawah 50 persen, seperti yang terjadi di negara-negara maju.” (Kompas, 8 Februari 2011).

Rusman adalah mantan Kepala BPS sebelum yang sekarang.

Apa yang keliru dari pernyataan Rusman di atas?

Tak ada teori ekonomi mainstream menyatakan demikian. Kenyataan pun tidak begitu. Porsi konsumsi rumah tangga di negara-negara yang jauh lebih maju dari Indonesia justru lebih tinggi, misalnya Amerika Serikat 72 persen, Inggris 66 persen, Jepang 60 persen, dan Jerman 58 persen. Sebaliknya, Bhutan dengan PDB per kapita lebih rendah dari Indonesia tetapi porsi konsumsi rumah tangganya juga lebih rendah, hanya 41 persen.

BPS cukup menjelaskan data yang dirilisnya secara deskriptif. Itulah tugas utama BPS. Di kebanyakan negara, lembaga yang bertanggung jawab mengumpulkan data ekonomi hanya sebatas merilis, tidak menganalisis. Bahkan lembaga-lembaga itu tidak melakukan press conference.