Wibowo – 12 Juni 2014 13:36 wib

Metrotvnews.com, Jakarta: Kedaulatan ekonomi pada dasarnya adalah memajukan kemandirian nasional. Dalam sektor energi, perlu ada pemahaman bahwa kedaulatan energi bukan sebagai komoditas sebagaimana terjadi saat ini.

“Saya setuju bagaimana konsep kedaulatan energi bukan sebagai komoditas, karena jika menjadi komoditas akan menjadi mafia bagi beberapa orang,” kata pengamat ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri di Jakarta, Rabu (11/6/2014) kemarin.

Energi dianggap komoditas karena Indonesia kerap mengimpor minyak untuk kebutuhan dalam negeri. Ini terjadi karena Pertamina hanya memiliki enam kilang minyak yang memproduksi 700-800 ribu barel per hari, di bawah konsumsi bahan bakar minyak domestik yang mencapai 1,5-1,6 juta barel per hari.

Menurut Faisal, untuk mewujudkan kedaulatan energi nasional Indonesia harus membangun kilang minyak. Kilang minyak itu nantinya akan menopang pertumbuhan permintaan energi masyarakat.

“Karena selain untuk mengurangi impor, hasil dari penyulingan minyak bisa menghasilkan kondensat yang menjadi bahan baku petrokimia. Ini merupakan industrial complex berbasis penyediaan energi terintegrasi,” tutur Faisal.

Selain mengambil manfaat dari pembangunan kilang, Indonesia juga akan mendapatkan hasil dari kondensat yang dapat dipakai untuk industri petrokimia dan dapat diolah untuk produk lainnya, seperti cat, thinner, dan solvent.

“Jadi dalam jangka pendek kita mendapatkan minyak, dan jangka panjang kita dapatkan manfaatnya dari kondensat tersebut untuk mengembangkan manufaktur,” kata Faisal.

Faisal menjelaskan, Indonesia tidak berdaulat di bidang energi karena ada mafia minyak dalam kasus impor minyak. Dia menunjuk ada pemain besar yang berlindung di balik impor minyak. (Dor)

Sumber: Diunduh dari: http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/06/12/251993/faisal-basri-kedaulatan-energi-dihalangi-kepentingan-mafia