Banyak Peluang, Jangan Disia-siakan!


Kisah-kisah yang termaktub di dalam kitab suci bukanlah dongeng. Tak sedikit yang telah dijadikan sebagai landasan pengembangan teori ekonomi. Salah satunya adalah kisah Nabi Yusuf yang menginspirasikan teori siklus bisnis. Dalam Al Kitab dan Al Quran dikisahkan Raja Mesir yang bermimpi melihat tujuh sapi kurus yang memangsa tujuh sapi gemuk serta tujuh bulir gandum yang hijau dan bernas serta tujuh bulir gandum yang kering dan kopong.

Hanya Nabi Yusuf yang mampu menakbirkan mimpi raja yang menggambarkan bakal terjadi tujuh tahun masa sulit (paceklik). Sebelum tiba masa itu, tatkala iklim sedang baik, Nabi Yusuf meminta rakyat Mesir bercocok tanam sebaik-baiknya dan tidak berfoya-foya menghabiskan hasil panen yang melimpah. Hasil panen ditabung kecuali sedikit yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ternyata benar terjadi masa paceklik. Namun, rakyat Mesir tidak mengalami kesulitan karena mampu hidup dari hasil tabungan mereka. Tabungan tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama masa paceklik, tetapi juga bisa memenuhi kebutuhan rakyat sejumlah negeri sekitar. Keuntungan berganda dinikmati rakyat Mesir.

Seharusnya kita malu karena tak kunjung mau belajar dari kisah ribuan tahun silam. Tatkala harga komoditas menjulang, negara memperoleh hasil pajak yang melonjak, semua dibelanjakan untuk hal yang bersifat konsumtif, bukannya untuk meningkatkan kapasitas produksi di masa mendatang.

Lebih parah lagi, peristiwa global kerap dijadikan biang kesalahan. Jika perekonomian dunia memburuk, dipersalahkan menjadi penyebab ekspor turun. Ketika perekonomian dunia membaik dan ekspor tetap turun, yang disalahkan harga batubara yang melorot, karena pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang turun walau hanya 0,2 persen.

Sebaliknya, jika perekonomian dunia membaik dan perekonomian Amerika Serikat pulih, perumus kebijakan pun mengeluh.

Tugas pemerintahadalah untuk menjinakkan fluktuasi perekonomian karena ada konjungtur sehingga rakyat tidak berjibaku tanpa jaring-jaring pengaman. Ketika di negaratetangga terjadi gejolak, kita harus mampu menangkap peluang.

Julukan perekonomian Thailand sebagai Teflon Economy karena bertahun-tahun bergeming menghadapi gejolak politik akhirnya pudar. Gejolak politik berkepanjangan sejak 2006 sangat terasa menekan perekonomian mereka. Sektor pariwisata yang menyumbang devisa sekitar 35 miliar dollar AS dan 10 persen produk domestik bruto pada triwulan I-2014 merosot 5 persen. Wisatawan asing turun 400.000 orang.Walau tidak separah Thailand, Malaysia juga mengalami tekanan di sektor pariwisata pasca hilangnya pesawat MH370 dan penculikan dua warganegara Tiongkok di Sabah.

Malaysia dan Thailand menyedot wisatawan asing masing-masing 25 juta dan 22,4 juta kedatangan pada tahun 2012. Pada tahun yang sama, Indonesia di posisi keempat dengan 8 juta kedatangan, di bawah Singapura di posisi ketiga dengan 11,1 juta kedatangan. Pada 2013, wisatawan asing yang masuk ke Indonesia naik menjadi 8,8 juta. Dalam tiga bulan pertama tahun 2014, kedatangan wisatawan asing sudah 2,2 juta atau naik 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika kita bisa memanfaatkan peluang emas dinamika regional, wisatawan asing ke seluruh tujuan wisata Indonesia bisa mencapai sekitar 10 juta.

Dengan menggunakan data pengeluaran rerata wisatawan asing Januari-Maret 2014 sebesar $1.110  dollar AS, devisa yang diperoleh dari turis asing tahun 2014 bakal mencapai lebih dari 11 miliar dollar AS. Tensi politik yang meninggi antara Jepang dan Tiongkok serta ketegangan yang meningkat di Laut Tiongkok Selatan antara Tingkokdengan beberapa negara Asean, terutama Vietnam dan Filipina, menambah peluang Indonesia meraup penanaman modal asing langsung.

Sejak tahun 2013, Indonesia sudah menjadi negara paling menjanjikan bagi perusahaan manufaktur Jepang yang beroperasi di luar negeri. Sebelumnya, Tiongkok selalu di posisi puncak. Posisi Thailand juga selalu lebih tinggi selama 2003 hingga 2011.

Sekaranglah peluang Indonesia menerima lebih banyak investasi asing di sektor industri manufaktur. Di antara industri manufaktur yang paling menonjol adalah industri otomotif. Pertumbuhan produksi mobil di Indonesia sudah hampir dua kali lipat dari Thailand. Sementara itu, pertumbuhan produksi di Thaialand sejak 2009 sudah tiga kali negatif dan tahun lalu nyaris stagnan.

Ekspor mobil dalam bentuk utuh dan set completely knocked down (CKD) pada 2013 sudah mencapai 276.000 unit dan tiga bulan pertama tahun ini sebanyak 70.000 unit. Pada waktu bersamaan, impor mobil turun sehingga defisit perdagangan otomotif turun cukup signifikan.

Masih banyak lagi peluang yang terbentang di depan mata di tengah gejolak perekonomian dunia dan regional yang tak berkesudahan. Mengeluh saja hanya akan membuat kita terbawa arus tak menentu. Membuat kita semakin tak berdaulat.

[Dimuat di Harian Kompas, Senin, 2 Juni 2014, hal. 15]

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Analisis Ekonomi Kompas, Ekonomi Internasional and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s