Diskusi Pendidikan: Cenderung Pemenuhan Kepentingan Pribadi


Kompas Cetak, Selasa, 22 April 2014, halaman 1

JAKARTA, KOMPAS —  Pendidikan Indonesia salah konsep karena mengabaikan potensi pendidikan untuk membangun lingkungan, masyarakat, dan bangsanya. Pendidikan cenderung lebih ke arah pemenuhan kepentingan pribadi sehingga belum maksimal mendorong transformasi sosial.

Itulah salah satu pokok persoalan yang mengemuka dalam diskusi ”Mencari Arah Pendidikan Indonesia” yang diselenggarakan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bersama Kompas, Senin (21/4). Diskusi menghadirkan pembicara Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat, Ketua Umum PGRI Sulistiyo, Direktur Pendidikan Karakter Education Consulting Doni Koesoema, dan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri.

Acara ini dihadiri pula oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, pemikir kebangsaan Yudi Latif, Koordinator Pemantauan Indonesia Corruption Watch Febri Henri, dan Direktur Majalah Sains Kuark Sanny Djohan.

Potensi sebagai negara agraris dan kelautan, misalnya, tidak tecermin dalam konsep pendidikan. Salah satu bukti kesalahan konsep ialah penutupan sekolah menengah pertanian yang dulu berkembang. Padahal, seharusnya pendidikan membantu masyarakat mengenali potensi diri, lingkungan, dan bangsanya.

”Pendidikan itu proyek sejarah bangsa. Setiap individu tak hanya memikul agenda diri, tetapi juga agenda bangsa,” kata Komaruddin.

Doni menilai, konsep pendidikan seharusnya disesuaikan dengan konstitusi. Dalam Pembukaan Undang-Undang 1945, tujuan negara ialah menjaga perdamaian dunia. Itu diwujudkan melalui peran Indonesia menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. ”Menjaga perdamaian dunia hanya bisa dijalin jika pendidikan mengembangkan kerja sama, bukan persaingan individu seperti sekarang ini,” kata Doni.

Tak ada standar

Indonesia juga tidak memiliki standar untuk mengukur keberhasilan pendidikan. Keberhasilan diukur dari kelulusan nilai ujian nasional sebagai puncaknya. Akibatnya, kata Faisal Basri, kualitas pendidikan tidak membaik. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2012, misalnya, Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara, sedikit lebih baik daripada Peru (peringkat terbawah). Rata-rata skor matematika anak Indonesia 375, rata-rata skor membaca 396, dan skor sains 382. Padahal, rata- rata skor negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) adalah 494, 496, dan 501.

Faisal menilai, pemerintah tak berani menetapkan target. ”Semestinya, pemerintah memasang target, misalnya peringkat ke-40 dalam waktu lima tahun,” katanya. Indonesia pelit terhadap hal yang bersifat transformatif, seperti penelitian dan pengembangan pendidikan.

”Anggaran habis untuk birokrasi pendidikan, bukan untuk murid dan guru,” ujarnya. Tanpa penelitian dan pengembangan pendidikan yang jelas, tak tercipta bangsa inovatif dan generasi yang sanggup menyelesaikan masalah. (LUK/ELN/THY)

Sumber: http://print.kompas.com/2014/04/22/Cenderung-Pemenuhan-Kepentingan-Pribadi

 

 

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Education, News, Public Policy. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: