“Jelangkung” Memang Tak Bersahabat

Rupiah dan saham sedang terpuruk. Keduanya saling berkaitan. Karena pemilikan asing dan domestik di saham seimbang, kira-kira sekitar 50:50. Jika asing melakukan aksi jual bersih, rupiah tertekan, ceteris paribus.

Berbeda dengan invetasi langsung asing (foreign direct investment) yang bersifat jangka panjang, tak serta merta kabur jika ada gejolak di dalam negeri, invetasi portofolio, khususnya dalam bentuk saham, tergolong bermotif jangka pendek.

Perilaku investor di pasar saham mirip jelangkung: datang tak diundang, pergi tak bilang-bilang. Para pembuat kebijakan ekonomi sepatutnya menyadari penuh perilaku investor saham ini. Kalau suatu waktu mereka berbondong-bondong masuk karena di Amerika Serikat kebanjiran likuiditas, mereka pun harus siap mengantisipasi kalau bakal terjadi kejadian sebaliknya. Oleh karena itu kita tak boleh sesekali bergantung kepada mereka untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Perilaku jelangkung terlihat dari empat peraga berikut, yang membandingkan pergerakan indeks dalam US$ terms agar bisa dibandingkan antarnegara. Tanggal setiap bulan tidak sama, tetapi diusahakan berdekatan. Ini semata karena keterbatasan data yang penulis bisa dapatkan dari sumber tak berbayar, yaitu majalah Economist. Jumlah negara setiap bulan sedikit berbeda dengan pertimbangan representasi pergerakan bursa saham dunia. Sekalipun demikian, negara-negara BRIC, Asean-4 (minus Philippines), dan pasar saham utama dunia selalu disertakan. 

Pergerakan dimulai dari kiri atas dengan arah jarum jam.

stock-maystock-jun

stock-augstock-jul

Pada 22 Mei, posisi Indonesia berada di urutan ke-2 setelah Pakistan. Pertumbuhan indeks saham year to date mencapai 18,5 persen. Kinerja saham di negara-negara maju (AS, Jepang, seluruh negara Eropa) berada di bawah Indonesia.

Sebulan kemudian, posisi Indonesia melorot ke urutan ke-6 dengan laju pertumbuhan 3,2 persen. Pada bulan Juli posisi Indonesia turun satu peringkat, meskipun pertumbuhannya naik menjadi 4 persen.

Pemburukan drastis terjadi pada 22 Agustus. Posisi Indonesia melorot tajam ke urutan ke-22 dengan pertumbuhan indeks year to date minus 12,4 persen. Keterpurukan sangat tajam ini membuat kinerja bursa saham Indonesia terburuk di Asean. Yang lebih buruk dari Indonesia hanya 6 negara, yaitu: Brazil, India, Chile, Turkey, Colombia, dan Rusia.

Perilaku jelangkung memang tak terduga. Kita tahu perilaku mereka. Oleh karena itu, kita pun harus selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk. Jangan sampai jelangkung memorakporandakan perekonomian kita.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional, Makroekonomi and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to “Jelangkung” Memang Tak Bersahabat

  1. Pingback: Investor Pasar Modal : ” datang tak diundang, pulang tak diantar “ | Lampung Metro

  2. Felix says:

    Bagaimana dengan pembatasan pintu masuk bagi Jelangkung (investor asing) ke BEI? Memang akan menahan pertumbuhan IHSG, namun juga akan mengurangi goncangan indeks ketika si Jelangkung tadi keluar (lebih lagi secara massal) dari bursa? IHSG saat ini (27 april-30 april 2015) sudah anjlok 400 poin lebih atau sekitar 7%an. Ya salah satu faktornya karena si jelangkung tadi yg ramai2 keluar bursa seminggu tadi.

    • faisal basri says:

      Selalu ada positif negatifnya. Namun amat sulit menerapkkannya. Saya cenderung memilih perkokoh landasan ekonomi.

      • Felix says:

        Menurut bapak bagaimana untuk meperkokoh fundamental ekonomi Indonesia?
        Karena kita lihat sejak kuartal 4 tahun 2011 neraca perdagangan kita mulai defisit, disebabkan (salah satunya) harga komoditi jeblok. Konsumsi masyarakat juga menurun (terlihat dari penjualan mobil dan motor yg lesu di awal tahun 2015). Dan saat ini rupiah kembali mendekati level 13.000/usd (padahal 3 bulan awal 2015 neraca perdagangan surplus). Selain itu penerimaan pajak, penyerapan apbn di kuartal 1 masih belum maksimal. Apakah memang saat ini kita “akan” memasuki siklus resesi?
        *untuk pertanyaan terakhir semoga saya salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s