Lampu Kuning Perekonomian Indonesia


Pemburukan indikator-indikator makroekonomi Indonesia tidak lagi sebatas fenomena jangka pendek satu atau dua bulan atau bahkan satu sampai dua triwulan, melainkan sudah mulai banyak yang berlangsung lebih dari satu tahun. Kecenderungan demikian harus sangat diwaspadai, karena bisa berlanjut ke tahapan yang lebih serius, yakni akselerasi pemburukan.

Kita mulai dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Perlambatan pertumbuhan ekonomi sudah terjadi selama empat triwulan berturut-turut. Bahkan sudah turun di bawah 6 persen atau tepatnya 5,8 persen pada triwulan II-2013. Pertumbuhan PDB di bawah 6 persen ini pertama kali dalam 10 triwulan terakhir.[i]

Transaksi perdagangan luar negeri (ekspor barang dikurangi impor barang) sudah mengalami defisit sejak tahun 2012. Baru separuh tahun pertama 2013, defisit perdagangan sudah menggelembung hampir dua kali lipat menjadi 3,3 miliar dollar AS. Sebelum tahun 2012 transaksi perdagangan tercatat selalu menikmati surplus.

Defisit transaksi perdagangan secara langsung menekan akun semasa (current account), yaitu ekspor barang dan jasa dikurangi impor barang dan jasa). Sejak tahun 2012 pula akun semasa mengalami defisit dan berlanjut hingga triwulan II-2013.

Dampak selanjutnya adalah tekanan terhadap neraca pembayaran. Walaupun sepanjang tahun 2012 masih mencatatkan surplus sebesar 165 juta dollar, namun pada triwulan 1_2012 dan triwulan II-2012 sempat defisit. Dua triwulan berikutnya sempat surplus, namun sejak triwulan I-2013 kembali menderita defisit.

Tekanan pada neraca pembayaran inilah yang membuat cadangan devisa melorot. Cadangan devisa Indonesia per 31 Juli 2013 turun lagi sebanyak 5,4 miliar dollar AS dibandingkan posisi akhir Juni 2013. Selama 3 bulan terakhir cadangan devisa sudah tergerus sebanyak 14,6 miliar dollar AS. Kemerosotan lebih tajam jika dibandingkan posisi akhir tahun lalu, yaitu sebesar 20 miliar dollar AS. Lebih tajam lagi jika dibandingkan dengan posisi tertinggi akhir Agustus 2011, yaitu terkuras sebesar 32 miliar dollar AS. Per 31 Juli cadangan devisa tinggal 92,7 miliar dollar AS, sedangkan posisi tertinggi adalah pada akhir Agustus 2011 sebesar 124,6 miliar dollar AS.

Tak heran jika nilai tukar rupiah pun semakin lunglai. Pada 15 Agustus 2013 nilai tukar rupiah bertengger pada posisi Rp 10.297 per dollar AS. Rupiah pertama kali menembus Rp 10.000 per dollar AS  pada 15 Juli 2013 setelah hampir empat tahun terakhir.

Jalu inflasi kembali menembus 5 persen sejak Februari 2013 setelah 19 bulan berturut-turut bertengger di bawah 5 persen. Bahkan pada bulan Juli 2013 laju inflasi meningkat tajam menjadi 8,6 persen, terutama akibat kenaikan harga BBM pada paruh kedua bulan Juni 2013.

Adalah laju inflasi yang relatif rendah dan stabil ini yang membuat BI rate anteng di aras 5,75 persen. Namun karena ancaman inflasi ini pula BI akhirnya menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin pada bulan Juni 2013 dan 50 basis poin sebulan berikutnya, sehingga sekarang berada di aras 6,50 persen. Ada kemungkinan bulan ini BI rate kembali dinaikkan.

Tampaknya kenaikan BI rate yang sudah mendekati 100 basis point bakal direspon oleh perbankan dengan menaikkan suku bunga deposito dan suku bunga pinjaman, sehingga berdampak pada perlambatan investasi dalam negeri. Padahal, sebelum kenaikan suku bunga pinjaman sekalipun, laju pertumbuhan investasi—yang diukur berdasarkan pembentukan modal tetap bruto—sudah mengalami penurunan selama empat triwulan berturut-turut, yakni 12 persen pada triwulan II-2012 menjadi 10,0 persen pada triwulan III-2012, dan 7,3 persen pada triwulan IV-2013. Penurunan berlanjut pada triwulan I-2013 dan triwulan II-2013, masing-masing 5,8 persen dan 4,7 persen. Investasi ini merupakan ujung tombak terpenting kedua setalah konsumsi rumah tangga. Sejak tahun 2009 porsi investasi selalu di atas 30 persen terhadap PDB.

Celakanya, konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama pertumbuhan–porsinya sekitar 54 persen dalam PDB–juga mengalami perlambatan walaupun kenaikannya masih di atas 5 persen. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga sudah berlangsung selama tiga triwulan, dari 5,7 persen pada triwulan III-212 menjadi 5,4 persen pada triwulan IV-2012, lalu turun lagi menjadi 5,2 persen pada triwulan I-2013 dan akhirnya 5,1 persen pada triwulan II-2013.

Kalau sudah begini, niscaya ada faktor-faktor struktural yang menghambat gerak maju perekonomian. Tak bisa lagi dianggap enteng.


[i] Faisal Basri, “Ekonomi Suram Jelang Lebaran,” Kompas, 5 Agustus 2013, hal.15.

Indonesia Terjerat Middle-Income Trap?


Suatu negara mengalami perangkap pendapatan menengah (middle-income trap) jika sudah berada di kelompok pendapatan menengah berdasarkan ukuran pendapatan per kapita, tetapi tak kunjung menembus ke kelompok pendapatan tinggi. 

Bank Dunia mengelompokkan perekonomian menurut kelompok pendapatan dengan menggunakan  Gross National Income (GNI) per kapita tahun 2012 yang dihitung berdasarkan World Bank Atlas method. Pengelompokannya adalah sebagai berikut: berpendapatan rendah, $1,035 atau kurang; berpendapatan menengah bawah, $1,036 – $4,085; berpendapatan menengah atas, $4,086 – $12,615; dan berpendapatan tinggi, $12,616 atau lebih.[i]

Indonesia masih berada di kelompok pendapatan menengah-bawah (lower-middle income), sehingga masih ada waktu cukup lama untuk mempersiapkan diri membangun fondasi yang kokoh agar terhindar dari middle-income trap.

middle

Perekonomian Asia Timur yang telah berhasil masuk ke kelompok negara berpendapatan tinggi adalah Singapura, Hong Kong, Korea, dan Taiwan. Sementara itu, negara-negara di Amerika Latin masih mengalami middle-income trap.

Menurut Asian Development Bank (ADB), ciri-ciri negara yang masuk perangkap middle-income trap adalah:  (1) nisbah investasi (investment to GDP ratio) rendah, (2) pertumbuhan industri manufaktur rendah; (3) diversifikasi industri terbatas; dan (4) kondisi pasar kerja buruk.[ii]

Negara-negara Amerika Latin tak berhasil mengatasi ciri pertama, sebaliknya negara-negara Asia Timur yang tak mengalami middle-income trap memenuhinya. Berdasarkan ciri pertama ini, tampaknya China juga akan memenuhinya.

Indonesia mengalami peningkatan terus menerus nisbah investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) sejak tahun 2003 dan menembus 30 persen sejak 2009. Jika yang telah tercapai bisa dipertahankan, Indonesia berpeluang tak mengalami middle income trap. Satu saja persyaratannya, yaitu bagaimana meningkatkan kualitas investasi. Sejauh ini porsi mesin yang diimpor (imported machinery) dalam pembentukan modal tetap bruto (gross fixed capital formation) masih sangat terbatas, hanya sekitar seperempat dari yang berupa bangunan. Peningkatan kemampuan industri barang modal dalam negeri juga mejadi kuncinya. Jika tidak, kita akan mengalami masalah kesimbangan eksternal, karena impor barang modal dan bahan baku/penolong bakal menggerus cadangan devisa.

gfcf

Syarat kedua masih belum muncul tanda-tanda yang meyakinkan. Pertumbuhan industri manufaktur pascakrisis hampir selalu di bawah pertumbuhan PDB, sehingga peranannya turun terus. Diversifikasi industri pun belum menampakkan perbaikan berarti.
mfg
Pekerjaan rumah paling besar boleh jadi adalah kondisi pasar kerja. Ditambah dengan kualitas sumber daya manusia dan status pekerjaan yang masih didominasi oleh pekerja informal.
status_pekerjaanmutu_sdm

Melihat gambaran di atas, amat berat tantangan yang dihadapi Indonesia supaya tak mengalami middle-income trap. Walaupun demikian, cukup banyak potensi yang bisa digerakkan untuk melaju. Salah satu yang terpenting adalah berpijak pada kekuatan luar biasa yang kita miliki, yaitu jatidiri sebagai negara maritim.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑