BI Aneh?


Hari ini (14/1) Bank Indonesia (BI) menurunkan BI rate hanya sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen. Judul peraga di bawah saya buat sekitar dua bulan lalu. Kala itu inflasi sudah menunjukkan kecenderungan menurun dan diperkirakan mencapai titik terendah pada Desember 2015 karena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) November 2014 terhadap inflasi sudah sirna. Bahkan sejumlah petinggi BI beberapa kali mengatakan kemungkinan laju inflasi tahun 2015 bisa di bawah 3 persen atau setidaknya mengarah ke 3 persen.

Periode kepemimpinan BI sekarang terkesan paling konservatif jika dilihat dari perilakunya terhadap BI rate. Selama kepemimpinan Gubernur BI sekarang , BI rate sudah enam kali naik dan dua kali turun. Sekitar sebulan menjabat Gubernur BI, BI rate naik 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 6,00 persen. Dua bulan berturut-turut kemudian (Juli dan Agustus 2013) dinaikkan lagi masing-masing sebesar 50 basis poin. September kembali dinaikkan 25 basis poin menjadi 7,25 persen dan sekali lagi sebesar 25 basis poin pada bulan November 2013. Jadi, selama 6 bulan menjabat, Gubernur BI yang sekarang sudah menaikkan BI rate sebanyak 5 kali dengan kenaikan total 175 basis poin.

bi_rate-1

Yang hampir selalu menjadi alasan untuk menaikkan BI rate ialah tekanan eksternal, khususnya setelah muncul rencana pemotongan dana stimulus oleh The Fed.

“…. Kami bergabung dengan Bank Indonesia pada 24 Mei 2013, tepat dua hari setelah Chairman dari Federal Reserve memberikan sinyalemen akan mengurangi stimulus moneter (tapering). Sinyalemen yang singkat, namun pengaruhnya mendunia. Sejak saat itu, hari demi hari hingga akhir Agustus lalu, ekonomi kita ditandai dengan derasnya aliran keluar modal portofolio asing, yang kemudian menekan nilai tukar rupiah dengan cukup tajam.” (Paragraf pembuka isi pidato Gubernur Bank Indonesia pada acara “Governor’s Address & Annual Bankers’ Dinner 2013,” Jakarta, 14 November 2013).

Pernyataan itu sangat berlebihan. Kenyataannya nilai tukar rupiah melemah sejak Agustus 2011, jauh sebelum Mei 2013. Tidak  benar pula pernyataan “derasnya aliran keluar modal portfolio asing.” Bahkan sebaliknya, pada triwulan II-2013 dan setelahnya justru arus deras masuklah yang terjadi. Tekanan terberat justru terjadi sebelum pernyataan The Fed dan Gubebernur BI yang sekarang belum menjabat.

portfolio

Lagi-lagi alasan The Fed yang mendorong BI melakukan  pertemuan bulanan tambahan pada akhir Agustus yang menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin.

“Berlanjutnya ketidakpastian pengurangan bertahap (tapering) stimulus moneter oleh the Fed terus memberikan tekanan pada pasar keuangan di berbagai negara. Penarikan modal dan meningkatnya risiko investasi menyebabkan penurunan harga saham, meningkatnya yield obligasi, dan pelemahan nilai tukar di hampir seluruh negara emerging market, tidak terkecuali Indonesia. Tekanan yang tinggi pada pasar keuangan global ini terjadi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan kawasan Asia, termasuk China dan India, serta terus menurunnya harga komoditas primer, kecuali harga minyak. Kondisi ini telah memberikan tekanan pada kinerja perdagangan dan pasar keuangan Indonesia.” (Siaran Pers BI, 29 Agustus 2013)

BI kembali sangat reaktif dengan menaikkan BI rate pada November 2014 sehari setelah pemerintah menaikkan harga BBM yang mulai berlaku pada 17 November 2014. Pertemuan itu seakan merupakan pertemuan “darurat” karena 5 hari sebelumnya berlangsung pertemuan bulanan Dewan Gubernur BI. Sebaliknya, beberapa kali penurunan harga BBM tidak diikuti oleh langkah penurunan BI rate.

Tak ayal, penurunan BI rate hari ini menyisakan rongga menganga yang sangat lebar antara BI rate dan laju inflasi: 390 basis poin.

bi_rate

Dengan perilaku BI seperti itu, tak haran jika prediksinya sering meleset, targetnya juga begitu. Peraga di bawah menunjukkan prediksi BI tentang pertumbuhan ekonomi 2014 sejak Juli 2013. Berubah terus dalam waktu sangat singkat. Realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2014 adalah 5,0 persen.

bi

Kalau keliru baca medan dan kerap meleset, kredibilitas BI bakal tergerus. Apa-apa yang disampaikannya tidak didengar dan diikuti oleh pelaku pasar. Kebijakannya jadi makin tumpul alias tidak efektif mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lampu Kuning Perekonomian Indonesia


Pemburukan indikator-indikator makroekonomi Indonesia tidak lagi sebatas fenomena jangka pendek satu atau dua bulan atau bahkan satu sampai dua triwulan, melainkan sudah mulai banyak yang berlangsung lebih dari satu tahun. Kecenderungan demikian harus sangat diwaspadai, karena bisa berlanjut ke tahapan yang lebih serius, yakni akselerasi pemburukan.

Kita mulai dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Perlambatan pertumbuhan ekonomi sudah terjadi selama empat triwulan berturut-turut. Bahkan sudah turun di bawah 6 persen atau tepatnya 5,8 persen pada triwulan II-2013. Pertumbuhan PDB di bawah 6 persen ini pertama kali dalam 10 triwulan terakhir.[i]

Transaksi perdagangan luar negeri (ekspor barang dikurangi impor barang) sudah mengalami defisit sejak tahun 2012. Baru separuh tahun pertama 2013, defisit perdagangan sudah menggelembung hampir dua kali lipat menjadi 3,3 miliar dollar AS. Sebelum tahun 2012 transaksi perdagangan tercatat selalu menikmati surplus.

Defisit transaksi perdagangan secara langsung menekan akun semasa (current account), yaitu ekspor barang dan jasa dikurangi impor barang dan jasa). Sejak tahun 2012 pula akun semasa mengalami defisit dan berlanjut hingga triwulan II-2013.

Dampak selanjutnya adalah tekanan terhadap neraca pembayaran. Walaupun sepanjang tahun 2012 masih mencatatkan surplus sebesar 165 juta dollar, namun pada triwulan 1_2012 dan triwulan II-2012 sempat defisit. Dua triwulan berikutnya sempat surplus, namun sejak triwulan I-2013 kembali menderita defisit.

Tekanan pada neraca pembayaran inilah yang membuat cadangan devisa melorot. Cadangan devisa Indonesia per 31 Juli 2013 turun lagi sebanyak 5,4 miliar dollar AS dibandingkan posisi akhir Juni 2013. Selama 3 bulan terakhir cadangan devisa sudah tergerus sebanyak 14,6 miliar dollar AS. Kemerosotan lebih tajam jika dibandingkan posisi akhir tahun lalu, yaitu sebesar 20 miliar dollar AS. Lebih tajam lagi jika dibandingkan dengan posisi tertinggi akhir Agustus 2011, yaitu terkuras sebesar 32 miliar dollar AS. Per 31 Juli cadangan devisa tinggal 92,7 miliar dollar AS, sedangkan posisi tertinggi adalah pada akhir Agustus 2011 sebesar 124,6 miliar dollar AS.

Tak heran jika nilai tukar rupiah pun semakin lunglai. Pada 15 Agustus 2013 nilai tukar rupiah bertengger pada posisi Rp 10.297 per dollar AS. Rupiah pertama kali menembus Rp 10.000 per dollar AS  pada 15 Juli 2013 setelah hampir empat tahun terakhir.

Jalu inflasi kembali menembus 5 persen sejak Februari 2013 setelah 19 bulan berturut-turut bertengger di bawah 5 persen. Bahkan pada bulan Juli 2013 laju inflasi meningkat tajam menjadi 8,6 persen, terutama akibat kenaikan harga BBM pada paruh kedua bulan Juni 2013.

Adalah laju inflasi yang relatif rendah dan stabil ini yang membuat BI rate anteng di aras 5,75 persen. Namun karena ancaman inflasi ini pula BI akhirnya menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin pada bulan Juni 2013 dan 50 basis poin sebulan berikutnya, sehingga sekarang berada di aras 6,50 persen. Ada kemungkinan bulan ini BI rate kembali dinaikkan.

Tampaknya kenaikan BI rate yang sudah mendekati 100 basis point bakal direspon oleh perbankan dengan menaikkan suku bunga deposito dan suku bunga pinjaman, sehingga berdampak pada perlambatan investasi dalam negeri. Padahal, sebelum kenaikan suku bunga pinjaman sekalipun, laju pertumbuhan investasi—yang diukur berdasarkan pembentukan modal tetap bruto—sudah mengalami penurunan selama empat triwulan berturut-turut, yakni 12 persen pada triwulan II-2012 menjadi 10,0 persen pada triwulan III-2012, dan 7,3 persen pada triwulan IV-2013. Penurunan berlanjut pada triwulan I-2013 dan triwulan II-2013, masing-masing 5,8 persen dan 4,7 persen. Investasi ini merupakan ujung tombak terpenting kedua setalah konsumsi rumah tangga. Sejak tahun 2009 porsi investasi selalu di atas 30 persen terhadap PDB.

Celakanya, konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama pertumbuhan–porsinya sekitar 54 persen dalam PDB–juga mengalami perlambatan walaupun kenaikannya masih di atas 5 persen. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga sudah berlangsung selama tiga triwulan, dari 5,7 persen pada triwulan III-212 menjadi 5,4 persen pada triwulan IV-2012, lalu turun lagi menjadi 5,2 persen pada triwulan I-2013 dan akhirnya 5,1 persen pada triwulan II-2013.

Kalau sudah begini, niscaya ada faktor-faktor struktural yang menghambat gerak maju perekonomian. Tak bisa lagi dianggap enteng.


[i] Faisal Basri, “Ekonomi Suram Jelang Lebaran,” Kompas, 5 Agustus 2013, hal.15.

Inflasi Melambung


Akhirnya menjadi kenyataan bahwa laju kenaikan harga-harga (inflasi) Juli jauh melampaui target pemerintah sebesar 7,2 persen dan perkiraan banyak lembaga riset. Juga jauh melampaui perkiraan Bank Indonesia sebesar 2,87 persen month to month.

Inflasi bulan Juli mencapai 8,6 persen (year on year) dan 3,29 persen (month to month). yang mengenaskan, penyumbang terbesar adalah makanan (50persen) dan transpor, komunikasi dan jasa keuangan (45 persen). BBM dan cabai menjadi penyumbang terbesar.

rawit

Peranan volatile foods yang cukup besar terhadap inflasi bulan Juli seharusnya bisa diredam kalau pemerintah lebih sigap mengantisipasi jauh-jauh hari, karena fenomena ini sudah merupakan ritual tahunan.

Melonjaknya inflasi juga merupakan wujud dari penundaan kenaikan harga BBM. Harga-harga sudah naik lebih dulu , lalu harga BBM bersubsidi naik, kemudian harga-harga naik lagi. Momennya menjelang puasa dan lebaran. Maka maksimallah kenaikan harga-harga pada bulan Juli, tertinggi selama hampir lima tahun terakhir.

Image

Maka bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan Bank Indonesia kembali menaikkan BI rate sehabis lebaran nanti.

Ongkos penundaan memang sangat mahal. Rakyatlah yang paling merasakan dampaknya.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑