Menghindari Perangkap Pendapatan Menengah


Kami, Gatot Arya Putra dan Faisal Basri, baru saja menyelesaikan kajian berjudul Escaping the Middle Income Trap in Indonesia: An Analysis of Risks, Remedies and National Characteristics. Versi awal telah dipresentasikan di Bangkok bersama kajian dari beberapa negara Asia. Pemaparan hasil kajian di Indonesia pertama kali berlangsung di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta, pada 18 April 2016. Pemaparan kedua pada 23 April di Jambi dalam forum Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Reguler Mandiri (HIMAPREM) Fakutas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi. Kajan ini sepenuhnya didukung ollen Friedrich Ebert Stiftung Indonesia Office.

Beirut adalah versi pemaparan di Jambi dalam bentuk powerpoint.

***

mit-1

mit-2

 

mit-3mit-4

mit-5mit-6mit-7mit-8

mit-9mit-10

mit-11mit-12

mit-13mit-14

mit-15mit-16

mit-17mit-18

mit-19mit-20

mit-21mit-22

mit-23mit-24

mit-25mit-26

mit-27mit-28

mit-29mit-30

mit-31mit-32

mit-33mit-34

mit-35mit-36

mit-37mit-38

mit-39

 

 

 

 

 

5 Comments

  1. Terimakasih bang Faisal sudah sudi share ilmu dan pengetahuannya bersama teman2 dan adek2 mahasiswa di FEB Univ Jambi. Semoga menjadi “peringatan dini” bagi penataan dan pengelolaan ekonomi Indonesia ke depan, Sukses selalu, semoga ada waktu lagi untuk datang ke Jambi.

  2. Salah satu program pemerintah yang salah kaprah yang akan menyokong terperosoknya Indonesia ke Middle Income trap adalah, rencana strategis KemDikNas yang justru fokus ke pendidikan kejuruan/SMK. Untuk melahirkan inovasi justru Indonesia perlu menggenjot pendidikan tinggi di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). JIka dilihat lagi dengan data berapa banyak dan persentase negara2 Taiwan, Korea, dan China pelajar dan mahasiswa yang enroll ke pendidikan STEM pasti porsinya tinggi. Karena pendidikan STEM inilah tulang punggung inovasi yang menjadi salah satu penyokong produktivitas tinggi dan akhirnya membantu untuk meraih tujuan menjadi negara Maju.

    1. Santa separate. Jumlah scientists dan engineers Indonesia sancta kurang. Ditambah dengan pengeluaran untuk R&D yang sancta minim, bagaimana mungkin inovasi bakal menjamur.

      1. Mohon pak Faisal Basri menggemuruhkan concern ini ke kalangan kemDikNas, budget mereka saat ini besar sekali, sayang sekali kalau strateginya salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s