faisal basri

wear the robes of fire — kesadaran nurani dan akal sehat


  • Dunia perminyakan telah memasuki babak baru. Porsi minyak bumi dalam penyediaan energi turun dan akan terus turun lebih cepat, digantikan oleh gas dan energi terbarukan terutama energi surya.

    Secara geografis, peranan Timur Tengah sebagai pemasok energi akan mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan peranan Amerika Utara. Di Timur Tengah, supremasi Saudi Arabia melemah sejalan dengan kembalinya minyak Iran ke pasar minyak dunia pasca kesepakatan nuklir negara itu dengan negara anggota permanen Dewan Keamanan PBB plus Jerman (P5+1).

    Tekad masyarakat dunia untuk mengurangi kerusakan lingkungan dengan mengurangi konsumsi energi berbasil fosil akan terus menekan porsi konsumsi minyak. Ditambah dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat yang memungkinkan penggunaan energi terbarukan semakin efisien dan kompetitif sekalipun harga minyak relatif rendah, mau tidak mau memaksa perubahan model bisnis minyak.

    Perubahan mendasar dari sisi produksi dan konsumsi energi dunia berdampak terhadap pergerakan harga. Harga rerata Brent, West Texas Intermediate (WTI) dan Dubai Fateh—yang dijadikan acuan harga minyak dunia—pada April 2016 melonjak 36,8 persen dibandingkan posisi Januari 2016. Peningkatan harga terus berlanjut hingga pertengahan Mei. Namun, kebanyakan kalangan perminyakan meyakini harga minyak tidak akan kembali meroket. Harga rerata April 2016 sebesar 40,8 dollar AS per barrel tidak sampai separuh dari harga tertinggi tahun 2014 sebesar 108,37 dollar AS, bahkan tidak sampai sepertiga dari rekor harga tertinggi 132,8 dollar AS per barrel pada Juli 2008.

    Indonesia hanya memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 3,7 miliar barrel atau 0,2 persen dari cadangan minyak dunia. Dengan tingkat produksi sekarang dan tanpa penemuan cadangan baru, dalam waktu tak sampai 12 tahun cadangan minyak Indonesia akan habis.

    Yang hanya bisa dilakukan Indonesia adalah mengoptimalkan cadangan minyak yang ada seraya mengakselerasikan penemuan cadangan minyak baru agar sebesar mungkin mengimbagi peningkatan konsumsi sehingga bisa menekan impor yang dewasa ini mencapai sekitar 800.000 barrel per hari.

    Di tengah persaingan yang semakin ketat dengan negara produsen minyak besar yang mengobral berbagai macam insentif, terutama dari negara yang ongkos produksinya relatif rendah, Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk mempertahankan sistem insentif yang berlaku dewasa ini.

    Memaksimumkan penerimaan negara dari sektor migas sepatutnya bukan menjadi pertimbangn utama. Melainkan, bagaimana memaksimumkan sumbangsih sektor migas bagi perekonomisan nasional. Sektor migas jangan sampai menggerogoti devisa negara. Pembangunan kilang terpadu harus dipercepat agar meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian dan memacu industrilisasi. Puluhan miliar dollar AS bisa dihemat jika semakin banyak minyak mentah dan gas yang diolah di dalam negeri untuk menghasilkan bahan bakar dan berbagai produk petrokimia yang merupakan “ibu” industri manufaktur.

    Pendekatan menekan cost recovery tidak bisa menggunakan kriteria yang kaku mengingat karakteristik ladang migas yang sangat beragam dan dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi. Harus disadari bahwa kriteria multi-objectives yang dalam sejumlah kasus saling bertolak belakang semakin mustahil untuk diterapkan. Pemerintah harus fokus pada satu atau dua obyektif, apalagi mengingat banyak kendala (constraints) praktis tidak berkurang. Kalau hendak menggunakan obyektif tunggal, memaksimumkan maslahat bagi perekonomian nasional menjadi pilihan paling logis.

    Susunlah kriteria yang terukur, transparan, dan kredibel. Transformasikan kerangka institusional, dari extractive institutions menjadi inclusive institutions, agar kekayaan sumber daya alam dinikmati oleh rakyat banyak, tidak lagi menjadi ajang pemburuan rente segelintir elit pengusaha yang erat bergandengan tangan dengan penguasa.

    Bagaimanapun pengusahaan migas merupakan kegiatan padat modal dan padat teknologi yang berisiko tinggi. Kepastian hukum menjadi prasyarat penting. Bagaimana mungkin kepastian usaha hadir jika aturan yang mendasari usaha migas tidak berbentuk nyata, hanya berupa lisan seperti yang terjadi pada proyek Masela.

    Indonesia pun berpacu dengan waktu untuk mewujudkan kemanan energi. Semakin mendesak meningkatkan cadangan operasional dan cadangan stategis di tengah perubahan geopolitik yang berpotensi menimbulkan gejolak dan konflik di berbagai kawasan. Bersamaan dengan itu, pilihan yang paling logis adalah mendorong penggunaan energi terbarukan untuk meningkatkan kemandirian energi. Oleh karena itu, perubahan sistem insentif tidak hanya terbatas pada energi fosil tetapi juga mencakup sumber energi primer yang terbarukan.

    Perlu dicamkan bahwa penundaan atau pengambilan keputusan yang betele-tele menimbulkan ongkos sangat besar. Banyak kesempatan hilang percuma. Tak terbilang kerugian negara yang ditimbulkannya.

    Tanpa perubahan mendasar segera, kekayaan migas yang menipis bukannya membawa berkah melainkan memperpanjang kutukan.

    ***

     


  • fes

    “Escaping the Middle Income Trap in Indonesia: An Analysis of Risks, Remedies and National Characteristics,” by Gatot Arya Putra and Faisal Basri can be read here:

    Klik untuk mengakses 12509.pdf

     

     


  • Oleh: Faisal Basri[2]

    Sejatinya ekonomi dan politik tidak terpisahkan. Ekonomi mengajarkan cara menggapai kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan politik hadir untuk menegakkan keadilan. Membangun bangsa merupakan tugas mulia, mengupayakan perubahan dan kemajuan (progress) di segala bidang untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan. Rasa keadilan itulah yang sekarang menyeruak di seantero ..

    Ketidakadilan terjadi di mana-mana. Globalisasi sejatinya meningkatkan kemakmuran masyarakat global. Terbukti dalam tiga dekade terakhir kemiskinan di dunia berkurang, semakin banyak penduduk keluar dari lembah kemiskinan. Bukan karena kebetulan, melainkan karena terjadi fusi peradaban (fusion of civilization), bukan a clash of civilization sebagaimana pandangan Samuel Huntington.[3]

    Namun, mengapa belakangan ini kian banyak yang menggugat sistem kapitalisme global dan praktek demokrasi liberal, di Amerika Serikat sekalipun? Tema sentral yang diusung oleh Bernie Sanders, kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, adalah revolusi, mengubah struktur kekuatan ekonomi yang semakin timpang. Buah dari kapitalisme Amerika Serikat hanya dinikmati oleh 1 persen warga terkaya, sedangkan sisanya yang 99 persen tidak mengalami kemajuan berarti. Mayoritas pekerja harus bekerja lebih lama untuk mempertahankan daya belinya. Mesin politik digerakkan oleh Wall Street, korporasi besar di industri farmasi dan raksasa minyak, juga raja judi. Mereka menghimpun miliaran dollar AS lewat wadah super PACs (political action commitees) dan saluran tersembunyi membiayai kampanye untuk mendukung atau menentang kandidat.

    Berdasarkan The Economist Intelligence Unit’s Democracy Index 2015, Amerika Serikat bukanlah negara demokrasi paling superior. Negara ini hanya menduduki peringkat ke-20 dari 167 negara. Komponen paling rendah adalah political participation dan functioning of government. Pemerintah dan masyarakat Amerika Serikat sedemikian terbelah. Amerika Serikat menjadi negara maju yang paling timpang di dunia.[4]

    Negara-negara Skandinavia menduduki peringkat tertinggi dalam indeks demokrasi. Dalam banyak hal pun negara-negara Skandinavia sangat superior, misalnya dalam Human development index, Globalization index, indeks ketimpangan, dan indikator sosial lainnya. Negara-negara ini dan negara-negara Eropa lainnya yang lebih tangguh menghadari gejolak pada umumnya menerapkan sistem demokrasi sosial dan sistem pasar sosial.

    ***

    Indonesia telah menerapkan berbagai macam sistem politik dan sistem ekonomi. Setelah 70 tahun merdeka, pencapaian Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Padahal, kebanyakan negara yang merdeka setelah Perang Dunia II memulai pembangunan pada titik pijak yang hampir sama. Mengapa Korea dan Macan Asia lainnya mampu tumbuh pesat sehingga telah menyandang status negara maju dan di lapisan kedua seperti Malaysia dan Thailand telah menyandang negara berpendapatan menengah-atas, sedangkan Indonesia masih di kelompok negara berpendapatan menengah-bawah?

    Ada yang berpandangan tidaklah layak membandingkan Indonesian dengan Macan Asia yang penduduknya relatif kecil dan wilayahnya tak seluas Indonesia. Dibandingkan dengan China pun, Indonesia sudah tertinggal dan kian jauh. India yang penduduknya lebih satu miliar jiwa belakangan ini terbukti menikmati pertumbuhan tertinggi di dunia.

    Indonesia bahkan terancam mengalami perangkap pendapatan menengah (middle income trap). Cita-cita mencapai negara berpendapatan tinggi pada peringatan 100 tahun kemerdekaan amat sulit terwujud jika bangsa Indonesia tidak melakukan transformasi politik dan ekonomi yang radikal.[5]

    ***

    Ketika Presiden Abdurrahman Wahid melakukan kunjungan ketiga dan terakhir ke Washington, D.C. pada awal 2001, Presiden Clinton menyampaikan harapan kepada Gus Dus:

    “Mr. President, I wish Indonesia a great success. A successful Indonesia will help to characterize the 21st century. Indonesia is now the world’s third largest democracy. Indonesia is the fourth largest-population country, with the world’s largest Moslem population. If Indonesia can prove to the world that Islam and democracy are compatible – you show us the way.”[6]

    Harapan Clinton yang ditumpukan kepada bangsa Indonesia, bukan kepada negara-negara dengan pemeluk Islam sebagai mayoritas di Timur Tengah, Afrika, Turki, Pakistan atau Malaysia, tentu bukan tanpa alasan kuat. Sejarah membuktikan bumi Indonesia memancarkan kesejukan dan kedamaian bagi berbagai pemeluk agama dan kepercayaan. Toleransi di antara penduduk yang berbeda keyakinan sangat tinggi. Tidak ada penindasan oleh mayoritas atas kaum minoritas.

    Memang kita memiliki catatan sejarah kelam pada tahun 1965. Sayangnya apa yang sebenarnya terjadi belum terungkap tuntas. Upaya untuk meluruskan sejarah patut dihargai, harus terungkap siapa yang bersalah dan siapa yang menjadi korban. Setelah kebenaran sejati terungkap niscaya rekonsiliasi dan saling memaafkan akan lebih mudah terwujud. Tidak ada lagi dendam. Segenap energi dan sumber daya tercurah sepenuhnya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

    Bangsa Indonesia telah membuktikan mampu menegakkan demokrasi. Ketegangan politik menjelang hingga pasca pemilihan umum dan pemilihan presiden 2014 berakhir dengan damai. Tidak ada huru-hara. Tidak setetes darah pun menitik ke pangkuan Ibu Pertiwi akibat konflik antar pendukung kandidat presiden. Surat kabar, majalah, media sosial, televisi, radio, dan panggung orasi, bahkan surat kaleng sekalipun, berperan sebagai kanalisasi potensi konflik. Seluruh manuver pihak mana pun terbaca terang oleh publik. Tidak ada gerakan bawah tanah yang melakukan sabotase. Sekecil apa pun kecurangan terdeteksi cepat, sehingga hampir mustahil melakukan kecurangan masif. Setelah keputusan Mahkamah Konstitusi, pihak yang kalah menerimanya dengan lapang dada. Dendam teredam oleh proses konstitusional.

    Sudah hampir 20 tahun reformasi bergulir. Perubahan mendasar secara simultan terjadi di bidang politik, pemerintahan, dan ekonomi. Momentum kejatuhan Orde Baru telah melumatkan sebagian lemak-lemak politik dan ekonomi yang menyumbat jantung kehidupan berbangsa dan bernegara. Proses pembakaran lemak tidak boleh berhenti dan jangan sampai muncul lemak-lemak baru yang menyumbat pembaruan tatanan berbangsa dan bernegara.

    Amat disayangkan partai politik sebagai salah satu pilar utama demokrasi belum kunjung menunjukkan perubahan berarti. Perilaku partai masih jauh dari cerminan budaya politik demokrasi yang sehat. Oligarki partai tetap mencengkeram. Pratek demokrasi di dalam partai politik masih jauh dari sehat. Hari-hari ini kita menyaksikan betapa figur yang nyata-nyata tidak terpuji masih melenggang menjadi calon kuat ketua umum partai besar dan terbesar selama Orde Baru. Partai dikelola seperti perseroan terbatas atau bahkan perusahaan pribadi/keluarga.

    Tidak terhitung elit politik hingga ketua umum partai yang telah masuk penjara. Tidak lagi jelas batas antara penguasa dan pengusaha. Sejumlah menteri, gubernur, bupati dan walikota pun demikian. Mereka menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan serta memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

    Pertarungan politik tidak banyak mengedepankan gagasan, apalagi visi jangka panjang bagi kejayaan bangsa. Sentimen ras dan agama dijadikan alat untuk menyudutkan lawan, rasa kebencian dihembuskan untuk mengadu-domba rakyat.

    Mereka lupa rakyat tidak bisa lagi dicekoki dengan kebohongan dan kemunafikan. Di alam kebebasan, kebenaran sedemikian tampak nyata dan kebusukan tidak bisa ditutup-tutupi, walaupun tak terhindarkan muncul juga ekses negatif.

    Civil society dan media massa, termasuk media sosial, tumbuh menjadi pilar demokrasi pengimbang dari keroposnya partai politik sebagai pilar utama demokrasi, sehingga fungsi politik tidak dimonopoli sepenuhnya oleh partai politik. Di sinilah letak pentingnya kehadiran calon independen, walaupun masih sebatas untuk pemilihan kepala daerah (gubernur, bupati, dan walikota). Tanpa kehadiran calon independen atau perseorangan, partai politik cenderung leluasa menentukan kepala daerah dengan topangan kekuatan pemodal kuat atau bandar. Keberadaan calon independen bukan untuk mengerdilkan keberadaan partai atau anti partai, melainkan untuk mengoreksi perilaku partai, sehingga justru meningkatkan kualitas dalam “pasar” politik.

    ***

    Banyak faktor yang menentukan kemajuan suatu negara. Keberhasilan negara-negara yang terhindar dari middle income trap ditentukan oleh tiga faktor utama: kualitas sumber daya manusia (terutama pendidikan dan kesehatan), produktivitas dan teknologi sebagaimana tercermin dari sumbangan produk teknologi tinggi dalam ekspor, dan harmoni sosial. Faktor ketiga sangat ditentukan oleh rendahnya jurang kaya-miskin.

    Dengan menggunakan indikator indeks gini—yang notabene sangat lemah karena di Indonesia berdasarkan data pengeluaran—ketimpangan di Indonesia semakin memburuk karena sudah menembus angka 0,4.

    Data berdasarkan kekayaan menunjukkan kondisi ketimpangan di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Satu persen keluarga terkaya menguasai lebih dari separuh kekayaan total, terburuk ketiga di dunia setelah Rusia dan Thailand.

    Segelintir kelompok keluarga terkaya itu cenderung lebih mengandalkan kedekatan dengan penguasa. Kelompok terkaya mampu memengaruhi kebijakan pemerintah dan memperoleh beragam konsesi untuk mengakumulasikan dan melindungi kekayaannya. Tak sedikit kebijakan pemerintah yang lebih memenuhi preferensi kelompok kaya karena balas budi.

    Di antara banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu negara, faktor kelembagaan (institutions) yang paling menentukan.[7] Tugas sejarah kita adalah mentransformasikan instutusi politik dan institusi ekonomi, dari extractive political and economic institutions menjadi inclusive political and economic institutions.

    Dengan begitu, para elit tidak lagi leluasa merampok kekayaan negara dan rakyat. Dalam bahasa Acemoglu, salah satu ciri dari institusi yang baik adalah:

    “Constraints on the actions of elites, politicians, and other powerful groups, so that these people cannot expropriate the incomes and investments of others or create a highly uneven playing field.”

     

    [1] Naskah orasi ilmiah yang dipersiapkan untuk acara wisuda Institut Bisnis Nusantara, Hotel Bidakara, Jakarta, 10 Mei 2010.

    [2] Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia untuk maka kuliah Ekonomi Politik dan Program Magister Manajemen Universitas Tanjungpura untuk mata kuliah Analisis Bisnis Global.

    [3] Kishore Mahbubani and Lawrence H. Summers (2016), “The Fusion of Civilization: The Case for Global Optimism,” Foreign Affairs 95/3 (May/June): 126-135.

    [4] Joseph E. Stiglitz, The Great Divide: Unequal Societies and What We Can Do About Them, New York: WW Nonton, 2016.

    [5] Gatot A. Putra dan Faisal Basri, “Escaping the Middle Income Trap in Indonesia: An Analysis of Risks, Remedies and National Characteristics,” Friedrich Ebert Stiftung, 2016. (http://library.fes.de/pdf-files/bueros/indonesien/12509.pdf)

    [6] Sebagaimana dikisahkan oleh Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yang turut serta dalam kunjungan ke Gedung Putih.

    [7] Daron Acemoglu and James A. Robinson, Why Nations Fail: The Origin of Power, Prosperity, and Poverty, New York: Crown Business, 2013.

     


  • Kami, Gatot Arya Putra dan Faisal Basri, baru saja menyelesaikan kajian berjudul Escaping the Middle Income Trap in Indonesia: An Analysis of Risks, Remedies and National Characteristics. Versi awal telah dipresentasikan di Bangkok bersama kajian dari beberapa negara Asia. Pemaparan hasil kajian di Indonesia pertama kali berlangsung di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta, pada 18 April 2016. Pemaparan kedua pada 23 April di Jambi dalam forum Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Reguler Mandiri (HIMAPREM) Fakutas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi. Kajan ini sepenuhnya didukung ollen Friedrich Ebert Stiftung Indonesia Office.

    Beirut adalah versi pemaparan di Jambi dalam bentuk powerpoint.

    ***

    mit-1

    mit-2

     

    mit-3mit-4

    mit-5mit-6mit-7mit-8

    mit-9mit-10

    mit-11mit-12

    mit-13mit-14

    mit-15mit-16

    mit-17mit-18

    mit-19mit-20

    mit-21mit-22

    mit-23mit-24

    mit-25mit-26

    mit-27mit-28

    mit-29mit-30

    mit-31mit-32

    mit-33mit-34

    mit-35mit-36

    mit-37mit-38

    mit-39

     

     

     

     

     


  • Anton Hermansyah
    Reporter

    The Jakarta Post, Posted: Monday, April 18 2016 | 04:43 pm

    Current economic policies have yet to show adequate support for the development of the manufacturing industry, which may lead the country further into the middle income trap, experts have said.

    Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF ) director Enny Sri Hartati said the fair economic growth in the country was supported by low value-added commodity, while the highly value-added manufacturing sectors were down.

    “We were focused on natural resources, that’s where the economy is concentrated. Small and micro industries never ascend to medium and large industries, and 99 percent of the economic structure is the same,” she said on Monday in Jakarta.

    Economist Faisal Basri underlined that the key to avoid the middle-income trap was to maintain the performance of manufacturing sectors, like South Korea did in the 1970’s when its economic and political conditions were similar to that of Indonesia today.

    “Since 2001, Indonesia has prioritized mining and agricultural commodities export and has been less-supportive of manufacturing,” Faisal said, further explaining that, to avoid the middle income trap, the government needed to focus on industrialization and support it with a strong political will.

    Emphasizing that the current tools for economic empowerment were different to those of the past, Emil Salim, an economist during the New Order era, suggested that the solution to avoid the middle income trap was to be found among Indonesian youth.

    “The ones who will bring us out from the middle income trap are the youngsters with their updated technology,” he said. (ags)

    http://bit.ly/1SrqOHi

     


  • Hardani Triyoga – detikNews
    Sabtu 30 April 2016, 21:37 WIB

    Jakarta – Ekonom Faisal Basri menilai keberadaan calon independen dalam Pilkada membuat kualitas demokrasi meningkat. Faisal yang pernah maju sebagai calon Gubernur DKI lewat jalur independen ini menyebut rakyat menjadi penentu dalam Pilkada, bukan partai politik.

    “Jadi kita tidak mendikotomikan partai independen. Independen itu kita perjuangkan sebagai jaring-jaring pengaman parpol. Ingat tahun 2007, independen belum boleh. Calonnya cuma dua, Adang Daradjatun dan Foke (Fauzi Bowo),” kata Faisal di Tea Addict, Jl Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (30/4/2016).

    Faisal berbicara dalam acara silaturahim dengan Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto serta bakal cagub DKI yang juga pengamat tata kota Marco Kusumawijaya.

    Peluang calon independen maju di Pilkada menurutnya tak boleh dipersulit. Posisi independen juga sebagai pelengkap calon yang diusung dari parpol.

    “Dan menariknya calon independen itu membuat kualitas demokrasi Pilkada jadi meningkat,” sebutnya.

    Sebagai bentuk dukungan terhadap calon independen, Faisal mengklaim sudah menyerahkan KTP untuk bakal petahana gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

    Keberadaan sosok seperti Ahok sebagai calon independen di Pilkada diperlukan untuk mengingatkan parpol.

    “KTP saya sudah saya serahkan untuk Ahok. Kenapa? Karena manuver Ahok dibutuhkan untuk mengingatkan Parpol. Tidak ada Ahok kacau. Parpol bisa semena-mena lagi,” tuturnya.
    (hty/fdn)

    http://news.detik.com/berita/3200659/dukung-calon-independen-faisal-basri-berikan-ktp-untuk-ahok

     


  • Agust Supriadi, CNN Indonesia

    Senin, 18/04/2016 20:32 WIB

    Jakarta, CNN Indonesia — Dalam 10 tahun ke depan Indonesia berpotensi terjebak dalam perangkap negara berpendapatan menengah (middle income trap). Pernyataan tersebut merupakan kesimpulan dari hasil riset dua akademisi Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri dan Gatot Arya Putra.

    Faisal menyebut ada beberapa masalah struktural yang membuat Indonesia sulit untuk naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi dan justru menjadikan negara ini rentan terpeleset masuk ke dalam perangkap negara berpendapatan rendah.

    Faktor pertama, kata Faisal, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan. Mengutip studi PISA, selama periode 2003-2012, ekonomi nasional tumbuh kurang meyakinkan di tengah perkembangan tingkat kepandaian masyarakatnya yang relatif lebih lambat jika dibandingkan dengan negara tetangga di Asia. Persoalan pendidikan ini terkait pula dengan kewajiban pemerintah dalam memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakatnya.

    “Pendidikan tidak akan berhasil jika manusia yang dididik tidak sehat. Reformasi jaminan sosial merupakan persyaratan penting dalam menjamin kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujar Faisal saat mempresentasikan hasil risetnya di Universitas Atmajaya, Jakarta, Senin (18/4).

    Menurut Faisal, masalah kualitas pendidikan yang mendasari tingkat kepandaian SDM berpengaruh pula pada faktor yang kedua, yakni tingkat daya guna teknologi. Dia menilai tingkat penggunaan teknologi tinggi dalam proses produksi di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan negara-negara lain. Hal ini erat kaitannya dengan tingkat keahlian dan kepandaian sumberdaya manusia (SDM) untuk bisa menyerap perkembangan teknologi secara optimal dalam proses produksi.

    “Faktor yang ketiga adalah kinerja ekspor berbasis manufaktur yang rendah,” tuturnya.

    Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi ini menjelaskan, sejarah menunjukkan bahwa sektor manufaktur menjadi motor inovasi teknologi yang efektif dalam meningkatkan produktivitas ekonomi di banyak negara.

    Dia membuat komparasi peran manufaktur terhadap ekonomi di Korea Selatan dan Indonesia. Pada 1966, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB Indonesia lebih rendah dibaningkan Korea Selatan. Kondisinya berbalik pada era 1966-2001, kinerja manufaktur Indonesia justru mengungguli Negeri Ginseng. Saat ini tepatnya sejak 2001, manufaktur Korea Selatan melesat meninggalkan Indonesia.

    Faktor berikutnya yang berpotensi menyeret Indonesia ke middle income trap adalah kesenjangan pendapatan yang tercermin dari kondisi kesejahteraan pekerja yang rendah. Hal ini tercermin dari koefisien rasio gini Indonesia yang trennya meningkat sejak 1999.

    “Ketimpangan pendapatan meruakan indikator yang sangat serius untuk melihat apakah Indonesia akan mampu melewati perangkap pendapatan menengah ataupun rendah,” jelasnya.

    Terakhir faktor depresiasi nilai tukar. Faisal mengatakan jika negara terlalu sering melakukan depresiasi mata uangnya dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor produk dengan upah murah, maka negara tersebut gagal dalam melakukan transformasi pembangunan dengan menciptakan produk-produk berbasis keahlian tinggi.

    Kegagalan Lintas Orde

    Faisal Basri menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang selama ini ditunjang oleh motor penggerak yang tidak jelas, bukan semata-mata kesalahan pemerintahan Joko Widodo. Pasalnya, buruknya ekonomi Indonesia selama ini merupakan tumpukan kesalahan kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, maupun Orde Reformasi.

    “Harus diakui tugas pemerintahan Joko Widodo sangatlah berat untuk menjamin bahwa Indonesia terbebas dari middle income trap,” katanya.

    Hasil riset duo akademisi UI tersebut mendapatkan tanggapan dari Emil Salim, Ekonom senior yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup di era Orde Baru. Menurutnya, selama ini Indonesia terjebak oleh booming harga komoditas sehingga pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan sosial.

    Eksplorasi perkebunan sawit dan lahan tambang selama ini, menurut Emil salim, merupakan contoh aktivitas bisnis yang mengatasnamakan pembangunan tanpa didukung oleh “otak” yang mumpuni.

    Indonesia, katanya, sebenarnya selama 28 tahun terkurung dalam jebakan negara berpendapatan rendah (low income trap). Untuk bisa naik menjadi negara berpendapatan menengah, setidaknya pertumbuhan ekonomi harus dijaga stabil di atas 5 persen per tahun.

    Untuk bisa naik menjadi negara berpendapatan tinggi sekaligus lolos dari jebakan kelas menengah, Emil Salim memperkirakan eranya baru akan muncul pada periode 2026-2034.

    “Untuk itu perlu perspektif jangka panjang dalam pembangunan, tidak bisa hanya bergantung pada kabinet yang lima tahun saja,” katanya.

    Untuk bisa naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi 2030, Emil menekankan empat hal, yakni produktivitas ekonomi ditingkatkan, daya saing industri harus lebih baik, keahlian pelaku industri harus ditingkatkan, serta didukung oleh sistem transportasi yang terintegrasi.

    “Untuk itu, produktivitas buruh harus ditingkatkan dan keterbatasan infrastruktur harus segera diatasi,” katanya. (gen)

    http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160418185810-78-124832/faisal-basri-ri-kesulitan-jadi-negara-berpendapatan-tinggi/


  • Indonesia merupakan produsen otomotif terbesar kedua di ASEAN.

    oto-1-asean-prod

    Sejak 2014 penjualan otomotif di Indonesia terbesar di ASEAN, menyusul Thailand.

    oto-2-asean-sales

    sebagian besar mobil yang terjual di Indonesia adalah passanger cars, sedangkan di Thailand dan Filipina yang dominan adalah commercial cars.

    oto-3-asean-sales_compo

    Komposisinya tidak mengalami perubahan berarti sejak 2007.oto-4-ina-sales_compo

    Di Indonesia, pengelompokan jenis mobil berbeda. Ini terkait dengan struktur insentif dan sejarah perkembangan otomotif di Tanah Air.

    oto-6-ina-sales_compo

    Sejarah industri otomotif di Indonesia cudah cukup panjang. Jatuh-bangun sangat dipengaruhi kebijakan.

    oto-5-history_ina

    Tahun lalu industri otomotif Indonesia memasuki sejarah baru dengan mencatatkan surplus perdagangan.

    oto-7-exports_ina


  • Kita memiliki pengalaman berharga kala menghadapi krisis finansial global tahun 2008. Kala itu, perekonomian dunia mengalami resesi, hampir semua negara maju dan negara emerging markets mengalam kontraksi ekonomi. Indonesia bisa menikmati pertumbuhan positif, bahkan mencapai 4,6 persen yang hanya sedikit lebih rendah ketimbang pertumbuhan tahun 2015.

    Tahun ini bahaya menghadang dari segala penjuru. Pertumbuhan ekonomi China melemah, perekonomian Brazil terjun bebas. Emerging markets mengalami penurunan belanja modal dan peningkatan utang swasta. Perekonomian negara maju belum menunjukkan tanda-tanda mampu tumbuh memadai walaupun telah menempuh kebijakan moneter super-longgar, bahkan sejumlah bank sentral telah menggulirkan kebijakan suku bunga negatif. Harga-harga komoditas masih dalam kondisi tertekan.

    Sebagian besar bursa saham dunia goyah. Laba korporasi melandai di mana-mana. Tidak perlu panik, karena selalu ada peluang dalam turbulensi sekalipun–reason not to worry.

    Untuk menghadapi kondisi tertekan dengan ancaman dari berbagai penjuru, ada baiknya pemerintah menitikberatkan pada upaya menjaga kestabilan ekonomi. Lebih baik melunakkan target. Karena pasar dunia sedang tertekan, ada baiknya tidak memasang  target peningkatan ekspor terlalu tinggi. Sekedar tumbuh saja sudah lumayan, mengingat selama empat tahun terahir selalu merosot dan kian parah dalam dua bulan pertama tahun 2016.

    Yang cukup mengkhawatirkan adalah penerimaan negara dua bulan pertama tahun ini turun dibandingkan tahun 2014 dan 2015. Boleh jadi karena potensi penerimaan tahun ini sudah disedot tahun lalu karena “kalap” defisit APBN bisa menembus 3 persen dari PDB sehingga melanggar Undang-Undang Keuangan Negara.

    Akibat penerapan jurus “jalan pintas” muncul komplikasi di sektor lain.

     

    IMG_6709

    Muncul pula beragam kebijakan jalan pintas atas nama swasembada yang merusak keseimbangan pasar, yang akibatnya memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Ada pula dengan bendera “nasionalisme”untuk mengeruk rente.

    Belum lagi silang sengketa dan kegaduhan di antara sesama menteri. Seharusnya menghadapi tantangan dan ancaman dari luar yang tak habis-habisnya, para pejabat semakin kompak, dan Presiden efektif sebagai konduktor memandu semua pemain musik tunduk pada partitur agar orkestrasi menghasilkan nada-nada indah.

    Lebih menjaga yang sudah dalam genggaman ketimpang mengandalkan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Terpenting adalah menjaga daya beli masyarakat. Kedua, mendorong agar investasi swasta terus naik, termasuk penanaman modal asing langsung.


  • Pesawat Garuda dari bandara Soekarno-Hatta ke Palembang siang tadi penuh tanpa satu kursi pun kosong. Keluar dari pintu kedatangan bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, poster di bawah menyambut.

    festival

    Memasuki kota Palembang, lalulintas tersendat karena di sepanjang jalan sedang dibangun konstruksi LRT. Suasananya mirip dengan di beberapa ruas jalan di Jakarta yang sedang dalam tahapan konstruksi proyek MRT dan jalan layang jalur trans-Jakarta.

    Hotel-hotel penuh dipesan turis asing maupun domestik. Banyak turis asing lalulalang  di tengah kota.

    Kedai mpek-mpek “Saga” Sudi Mampir yang berlokasi persis di seberang kantor Walikota Palembang ramai pengunjung. Beberapa jenis makanan dan minuman habis. Mungkin pemiliknya tidak mengantisipasi sedemikian banyak pelancong ke Palembang untuk menyaksikan GMT besok pagi.

    IMG_6745

    Kacamata khusus untuk melihat GMT sangat sulit didapat. Di mana-mana sudah habis terjual. Entah kemana lagi mencarinya. Pihak hotel tak bisa lagi membantu mencarikan kacamata khusus itu.

    Besok warga Palembang dan pendatang bisa menikmati bersama GMT  di Jembatan Sungai Musi. Pemda menyelenggarakan serangkaian kegiatan. Untuk itu Jembatan akan ditutup untuk kendaraan.

    Semoga besok pagi cuaca cerah sehingga kita bisa menikmati fenomena alam semesta yang langka ini.

    Maha Besar Allah yang menciptakan alam semesta dengan segala keteraturannya.