Selasa besok malam (22/8), saya diundang oleh AMA Bandung menyampaikan tinjauan perekonomian Indonesia dan preospeknya pada 2017-18. Bahan yang saya persiapkan bisa diunduh dalam bentuk pdf di sini: 20170822-AMA_Bdg-outlook
faisal basri
wear the robes of fire — kesadaran nurani dan akal sehat
-
Oleh: Faisal Basri
Catatan: Rektor Universitas Palembang meminta saya memaparkan kondisi perekonomian Indonesia terkini di hadapan pada wisudawan Universitas Palembang. Dari bincang-bincang dengan Rektor dan Wakil Rektor, rupanya perbincangan tentang kemerosotan daya beli cukup mengemuka pula di Sumatera Selatan, khususnya di Palembang. Kebetulan saya beberapa kali menulis tentang topik itu di blog ini. Modifikasi dari beberapa tulisan itu menjadi bagian pembuka orasi. Bagian kedua memaparkan kecenderungan perkembangan ekonomi Indonesia jangka panjang dan menengah serta menganalisis penyebab utamanya. Bagian ketiga merupakan penutup yang mengutarakan harapan menyongsong peringatan satu abad kemerdekaan. Masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda dan para wisudawan merupakan bagian tak terpisahkan dari himpunan bergerak menggelora yang berpeluang mengantarkan Indonesia ke gerbang kejayaan. Insya Allah.
***
I
Belakangan ini muncul banyak nada pesimisme menggelayuti perekonomian Indonesia. Gemuruh yang menyatakan terjadi kemerosotan daya beli masyarakat ibarat awan pekat pertanda akan terjadi hujan disertai petir. Sejumlah pelaku usaha dan asosiasi bisnis mengeluhkan penurunan omzet penjualan. Penurunan penjualan terjadi di pusat-pusat perbelanjaan modern, antara lain menohok penjualan makanan, pakaian, dan elektronik. Demikian pula dengan penjualan semen. Pemakaian listrik juga dilaporkan turun.
Apakah dengan begitu memang telah terjadi penurunan daya beli masyarakat yang mencerminkan perekonomian melesu? Data pertumbuhan ekonomi terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Agustus ini menunjukkan perekonomian Indonesia pada triwulan II-2017 tumbuh 5,01 persen, persis sama dengan pertumbuhan triwulan I-2017. Berarti perekonomian tetap tumbuh—tidak merosot atau melesu—sekalipun tidak mengalami akselerasi atau percepatan pertumbuhan.

Konsumsi rumahtangga pada triwulan II-2017 justru mengalami kenaikan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya walaupun sangat tipis, dari 4,94 persen menjadi 4,95 persen. Memang dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi masyarakat menunjukkan kecenderungan menurun. Kecenderungan itu sejalan dengan trend jangka panjang. Tatkala pendapatan masyarakat masih rendah dan perekonomian baru pada tahapan awal membangun, porsi konsumsi masyarakat sangat dominan. Pada tahun 1960-65, konsumsi masyarakat rata-rata setahun mencapai 89 persen. Bandingkan dengan sekarang yang hanya 56 persen. Trend penurunan sempat terhenti akibat krisis ekonomi tahun 1998.
Jadi perlu dibedakan antara konsumsi masyarakat yang peningkatannya melambat dengan konsumsi masyarakat yang menurun atau merosot. Yang pertama nyata-nyata pertumbuhannya positif, sedangkan yang kedua pertumbuhannya negatif.

Perekonomian tidak menunjukkan kelesuan. Dunia usaha dan pemerintah terus menambah investasi sehingga pembentukan modal terus berlangsung yang meningkatkan kapasitas produksi perekonomian. Pada triwulan II-2017, pertumbuhan investasi (pembentukan modal tetap domestik bruto) bahkan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, masing-masing 5,35 persen dan 4,78 persen. Lambat laun peranan investasi dalam PDB meningkat (berkebalikan dengan peranan konsumsi rumahtangga), dari hanya 8,1 persen rata-rata setahun pada periode 1960-65 menjadi 31,5 persen pada semester I-2017.
Peranan konsumsi rumahtangga dalam perekonomian (produk domestik bruto) pada semester I-2017 sebesar 56,3 persen, sedangkan investasi 31,5 persen. Mengingat tiga komponen PDB lainnya tidak banyak berubah, maka komponen konsumsi rumahtangga dan investasi—menyumbang hampir 88 persen terhadap perekonomian—paling menentukan jatuh-bangunnya perekonomian.
Dari sisi produksi, pada triwulan II-2017, hanya dua sektor yang menderita kemerosotan atau pertumbuhan negatif, yaitu sektor listrik dan gas serta sektor pemerintahan atau sektor publik. Delapan sektor menikmati pertumbuhan di atas rata-rata atau di atas pertumbuhan PDB. Selebihnya tumbuh walaupun lebih rendah dari pertumbuhan PDB.

Perlu dicermati, semua sektor yang tumbuh relatif tinggi adalah sektor jasa (non-tradable). Sebaliknya, sektor barang atau sektor tradable (pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur) tumbuh relatif rendah. Pola pertumbuhan antara sektor tradable dan sektor non-tradable yang kembali semakin timpang tentu saja menimbulkan berbagai konsekuensi terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat. Transformasi struktural yang terjadi, terutama setelah krisis 1998, membawa Indonesia lebih cepat menjelma sebagai perekonomian jasa tanpa melalui pematangan proses industrialisasi dan penuntasan transformasi di sektor pertanian.

Apakah terdapat keganjilan atau anomali antara data mikro dan data makro? Sebagai kaum terdidik, kita tidak boleh cepat mengambil kesimpulan berdasarkan data sepenggal, pengamatan terbatas, kurun waktu sangat pendek, dan kejadian yang hanya kita alami sendiri di lingkungan kita sendiri.
Manfaat ilmu pengetahuan yang kita peroleh dari perkualihan antara lain adalah mempertajam kemampuan analisis terhadap suatu peristiwa atau gejala yang terjadi sehingga kita mampu memahami duduk perkara suatu peristiwa, menjelaskan peristiwa itu dengan kerangka teori yang tepat, dan kalau perlu memberikan pemecahannya serta memperkirakan apa yang bakal terjadi ke depan. Intelektual tidak menganalisis suatu peristiwa dengan muatan politik praktis atau menyuarakan kelompok kepentingan tertentu.
Penurunan omzet di pusat-pusat perbelanjaan modern tertentu dan menimpa beberapa jenis barang seperti makanan, pakaian, semen, pemakaian listrik, dan beberapa produk lain tidak bisa dijadikan patokan untuk menyimpulkan terjadi penurunan daya beli mayarakat. Betapa amat banyak ragam barang dan jasa yang beredar di pasar. Masyarakat pun terdiri dari berbagai kelompok pendapatan, ada yang sangat kaya, kaya hingga yang amat miskin. Di antaranya ada kelompok berpendapatan menengah yang bisa dipecah menjadi menengah-bawah, menengah-tengah, dan menengah-atas. Penduduk berpendapatan rendah bisa dipecah menjadi kelompok sangat miskin, miskin, dan nyaris miskin (near poor).
Tidak hanya konsumsi rumahtangga yang menunjukkan peningkatan (pertumbuhan positif). Survei Bank Indonesia terbaru[2] pun menunjukkan penjualan eceran Juni 2017 meningkat sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri sebagaimana tercermin dari peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2017 sebesar 6,3% dibandingkan Juni tahun lalu.
Telaahan lebih seksama menunjukkan bahwa yang terjadi bukan penurunan daya beli masyarakat, melainkan perubahan pola konsumsi masyarakat sejalan dengan transformasi struktural yang terjadi. Ari Kuncoro[3] juga menjelaskan tidak ada anomali data mikro dan makro. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi, antara lain karena perubahan gaya hidup kelas menengah-atas.
Fenomena yang tergolong baru ini mulai didalami oleh BPS. Temuan berdasarkan data tiga setengah tahun terakhir menunjukkan memang ada gejala pergeseran pola konsumsi. Pertumbuhan konsumsi leisure meningkat sedangkan konsumsi non-leisure menurun.[4]

Semakin banyak data pendukung yang menunjukkan perubahan pola konsumsi di atas.[5] Yang cukup kentara antara lain adalah peningkatan jumlah penumpang angkutan udara dan kereta api. Demikian pula dengan peningkatan nilai tambah sektor transportasi dan sektor hospitality.


Peningkatan pesat arus wisatawan mancanegara turut memberikan sumbangsih bagi pertumbuhan sektor transportasi dan hospitality. Pada tahun 2015 kedatangan turis asing telah menembus 10 juta dan setelah itu tumbuh semakin pesat. Pertumbuhan turis asing pada semester I-2017 sebesar 22,4 persen merupakan merupakan rekor tertinggi.

Ada yang berpandangan bahwa penurunan omzet pusat perbelanjaan modern bukan disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat melainkan karena kehadiran belanja online atau ecommerce. Memang betul peningkatan penjualan ecommerce sangat pesat, bahkan berlipat ganda. Namun, porsi penjualan ecommerce di Indonesia pada tahun 2016 hanya 1,2 persen dari keseluruhan penjualan eceran.[6] Singapura yang menduduki posisi teratas di ASEAN mencapai 4,1 persen. China memimpin dengan 13,8 persen.
II
Apakah pembuktian tidak terjadi penurunan daya beli masyarakat menandakan gerak perekonomian Indonesia berlangsung mulus? Tentu saja tidak. Penjelasan di atas sebatas upaya menjernihkan polemik di seputar “penurunan daya beli masyarakat.”
Gambaran umum tidak selalu sejalan kalau kita melakukan pemilahan. Ada bukti cukup kuat bahwa kelompok masyarakat 40 persen termiskin (Botom-40) mengalami penurunan daya beli. Kelompok ini didominasi oleh petani, buruh tani, buruh bangunan, pekerja informal lainnya, dan pekerja pabrik. Dalam dua setengah tahun terakhir, nilai tukar petani merosot.[7] Kemerosotan paling tajam dialami oleh petani tanaman pangan. Upah riil buruh tani turun 2,75 persen selama kurun waktu November 2014 hingga Juli 2017. Pada periode yang sama, upah riil buruh bangunan juga turun 2,52 persen.
Penurunan daya beli kelompok Bottom-40 tidak menyebabkan penurunan daya beli nasional karena porsi belanja kelompok ini hanya 17 persen, sedangkan belanja kelompok 40 persen menengah (Mid-40) dan Kelompok 20 persen terkaya (Top-20) meningkat.
Sepanjang penurunan daya beli tidak merembet ke kelompok Mid-40 dan Top-20, pertumbuhan riil konsumsi masyarakat masih bisa bertahan di sekitar 5 persen.
Ada tanda-tanda di lapisan terbawah pada kelompok Mid-40 mengalami tekanan daya beli. Penyebab pertama, penghapusan subsidi listrik untuk pelanggan 900 VA yang berjumlah 19 juta. Akibat penghapusan subsidi, pengeluaran kelompok pelanggan ini naik lebih dua kali lipat, dari rerata per bulan Rp 80.000 menjadi Rp 170.000. Kedua, gaji pegawai negeri/TNI/Polri dan uang pensiun sudah dua tahun tidak naik. Untuk tahun 2018 pemerintah telah mengumumkan moratorium gaji.[8]
**
Hampir semua indikator makroekonomi jangka pendek menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Suhu perekonomian yang diukur dengan laju inflasi stabil pada kisaran 4 persen, bahkan bulan lalu hanya 3,9 persen. Tekanan darah sebagaimana diukur oleh suku bunga juga cenderung turun. Suku bunga acuan Bank Indonesia (Repo Rate 7-hari) turun dan sudah 10 bulan bertengger di bawah 5 persen, tepatnya 4,75 persen.
Nilai tukar rupiah stabil dengan tingkat volatilitas yang mengecil walaupun di aras yang masih jauh di bawah nilai tertingginya. Sementara itu cadangan devisa bertambah 16,3 miliar dollar AS selama 8 bulan terakhir. Ekspor mulai tumbuh positif setelah lima tahun berturut-turut sebelumnya terus menerus merosot.
Kestabilan yang terjaga, sayangnya, belum mampu membawa perekonomian tumbuh mengakselerasi. Pertumbuhan ekonomi masih terus mengalami trend melemah, baik dalam jangka panjang maupun jangka menengah. Setelah krisis ekonomi 1998, pertumbuhan ekonomi tidak kunjung menembus 7 persen. Pada periode 2007-2012, pertumbuhan ekonomi hampir selalu di atas 6 persen. Namun, sejak 2013 hingga sekarang cuma berkutat di kisaran 5 persen, bahkan pernah di bawah 5 persen pada 2015. Tekad pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo untuk meraih pertumbuhan rerata 7 persen selama masa baktinya hampir mustahil tercapai. Jangankan 7 persen, untuk mencapai 6 persen saja membutuhkan keajaiban. Realisasi pertumbuhan rerata setahun selama 2015-2019 diperkirakan hanya 5,2 persen.
**
Ada dua faktor fundamental yang menghadang akselerasi pertumbuhan. Pertama, ibarat tubuh manusia, volume “darah” dan fungsi “jantung” dalam perekonomin Indonesia belum optimal. Jika kita kekurangan darah atau menderita anemia, tubuh akan pucat pasi. Jika fungsi jantung terganggu, kemampuan menyedot darah menurun, demikian pula kemampuan memompakan kembali darah ke sekujur tubuh secara merata.
Darah dalam perekonomian adalah uang atau dana yang beredar dalam sistem keuangan. Perekonomian memiliki dua jantung. Jantung pertama dan utama adalah sektor keuangan, khususnya perbankan. Jantung kedua adalah pemerintah. Kedua jantung berfungsi menyedot dana dari masyarakat dalam bentuk dana pihak ketiga (giro, tabungan, dan deposito) untuk perbankan dan pajak untuk pemerintah. Dana yang disedot dipompakan kembali dalam bentuk kredit (untuk perbankan) serta belanja semasa (current spending) dan belanja modal (capital spending) untuk pemerintah.
Karena hanya 39,1 persen penduduk usia dewasa yang memiliki akses ke perbankan (financial literacy) dan nisbah pajak (tax ratio) relatif rendah dengan kecenderungan menurun, darah yang mampu disedot terbatas. Akibatnya, kemampuan memompakan kembali pun terbatas pula. Padahal, untuk memacu pertumbuhan berkelanjutan, investasi usaha dan pembangunan infrastruktur harus terus dipacu, baik berupa perluasan kapasitas produksi maupun untuk penggantian dan pembaruan sejalan dengan kemajuan teknologi.
Sedemikian rendah penetrasi kredit terlihat dari kredit yang disalurkan kepada sektor swasta, hanya 39,1 persen dari PDB.[9] Bandingkan dengan China, Thailand, Afrika Selatan, Singapura, Malaysia, dan Vietnam yang kredit ke sektor swastanya mengucur kencang hingga di atas 100 persen. Sekedar dengan kamboja, Filipina, dan Bangladesh pun kita tertinggal. Data kredit yang disalurkan oleh sektor keuangan pun menunjukkan kondisi serupa.

Mirip dengan fungsi jantung utama (sektor keuangan), fungsi jantung kedua pun bermasalah. Kenaikan pemerimaan pajak lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi, sehingga menurunkan nisbah pajak (tax ratio). Niscaya ada penyempitan pembuluh darah ke jantung kedua (pemerintah) yang harus ditangani, karena penurunan nisbah pajak sudah berlangsung cukup lama.
Akibatnya, kemampuan pemerintah untuk turut menggenjot pertumbuhan ekonomi sangat terbatas. Kualitas pelayanan pemerintah sulit ditingkatkan, peningkatan kesejahteraan aparatur negara terkendala. Kalau pemerintah memaksakan diri menggenjot pembangunan infrastruktur, pemerintah terpakasa harus lebih banyak berutang. Karena utang pemerintah lebih banyak dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN), terjadi efek mendesak (crodwing-out effect)[10]

Kedua, perekonomian Indonesia cenderung semakin tertutup. Dalam sepakbola bisa diibaratkan dengan klub yang menerapkan strategi bertahan.[11] Padahal, strategi menyerang lebih menjanjikan ketimbang bertahan. Tengok kompetisi sepakbola paling bergensi di dunia, Premier League di Inggris dan LaLiga Santander di Spanyol. Pemenang di kedua liga ialah Chelsea (Liga Inggris) dan Real Madrid (Liga Spanyol). Penyandang gerar juara atau setidaknya runner-up adalah klub yang paling banyak membobolkan gawang lawan, bukan yang paling sedikit kebobolan.
Percaya atau tidak, kenyataan menunjukkan Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang perekonomiannya semakin tertutup.[12] Terlepas dari perbedaan ideologi, jumlah penduduk, negara kaya atau miskin, kondisi geografis dan faktor musim, semua negara semakin membuka diri. Indonesia justru sebaliknya.
Sebaliknya dengan Indonesia. Selama 16 tahun terakhir perekonomian Indonesia menunjukkan kecenderungan semakin tertutup. Indonesia telah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Padahal, sejarah panjang Nusantara membuktikan keterbukaanlah yang membuat Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit berjaya. Bahkan, jauh sebelumnya, pada abad kedua, warga Nusantau (sebelum berubah menjadi Nusantara) telah menjejakkan kaki di benua Afrika dengan menggunakan kapal dan sistem navigasi buatan sendiri.


Taktik bertahan Indonesia tercermin dari penerapan berbagai macam pembatasan perdagangan dan investasi yang jauh lebih banyak ketimpang di negara-negara tetangga dekat.

III
Tidak ada waktu untuk terus bergundah gulana. Saatnya generasi muda membaliknya peruntungan Bangsa ini, memacu diri agar bersejajaran dengan negara lain, menjadi Bangsa yang bermartabat.
Kita pantas optimistik karena kita telah menyadari kekuarangan dan kesalahan kita. Kita tahu apa yang harus kita perbuat. Kita segera buat peta jalan untuk meraih kejayaan Indonesia. Semoga tidak terlalu lama lagi, ketika kita merayakan seabad merdeka, 2045.
Jalesveva jayamahe
Di laut kita jaya

[1] Orasi di hadapan acara Wisuda Universitas Palembang, Palembang, 19 Agustus 2017.
[2] Lihat http://www.bi.go.id/id/publikasi/survei/penjualan-eceran/Documents/SPE-Juni-2017-rev.pdf
[3] Ari Kuncoro, “Anomali Data Makro dan Mikro,” Kompas.id, 9 Agustus 2017, diunduh dari https://kompas.id/baca/opini/2017/08/09/anomali-data-makro-dan-mikro/
[4] Komsumsi non-leisure meliputi makanan dan pakaian; konsumsi non-leisure meliputi hospitality (hotel dan restoran) serta rekreasi dan budaya.
[5] Lihat Faisal Basri, “Pergeseran Pola Konsumsi,” faisalbasri.com, 14 Agustus 2017, diunduh dari https://faisalbasri.com/2017/08/14/pergeseran-pola-konsumsi/
[6] Nomura Research, berdasarkan data dari Euromonitor, Internet live stats, Similanweb, Statista, PWC, Alista.
[7] Nilai tukar petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, yang mencerminkan tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga mencerminkan daya tukar (terms of trade) produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi petani.
[8] Pemerintah telah mengumumkan belum akan menaikkan gaji pegawai negeri dan aparatur negara lainnya pada tahun anggaran 2018. Sama dengan tahun ini, mereka hanya akan menerima Tunjangan Hari Raya dan gaji ke-13.
[9] Investasi sektor swasta sekitar 90 persen dari investasi total, sedangkan investasi pemerintah hanya 10 persen.
[10] Pemerintah bersaing dengan perbankan untuk memperebutkan dana masyarakat. Untuk berlomba dengan pemerintah, perbankan akan menaikkan suku bunga sehingga berpotensi menurunkan pertumbuhan kredit dan investasi. Akibatnya, peningkatan belanja modal pemerintah tidak berdampak maksimal terhadap pertumbuhan atau tidak terjadi full multiplier effect.
[11] Wujud ekstrem dari taktik bertahan itu mirip dengan memarkir bus berjejeran di depan gawang seperti beberapa kali diterapkan pelatih Jose Mourinho ketika melatih Chelsea.
[12] Tingkat keterbukaan ekonomi diukur dengan persentase ekspor dan impor barang dan jasa terhadap PDB. Di era globalisasi, seluruh negara terlibat semakin dalam di pasar dunia. Singapura merupakan pengecualian karena negara kecil ini mengekspor dua kali lipat lebih banyak dari yang diproduksi, akrena Singapura aalah negara transhipment (“numpang lewat”). Jika ekspor negara tetangga turun, ekspor Singapura turut turun. Begitu juga sebaliknya untuk impor.
-

ambulatoryadvisor.com Nota Keuangan dan RAPBN 2018 yang disampaikan Presiden Joko Widodo di hadapan Sidang Paripurna DPR kemarin (16/8) secara keseluruhan bisa dikatakan cukup berhati-hati dan terukur. Tidak ada lonjakan target jika dibandingkan dengan APBN-P 2017.
Ada pesan bahwa pemerintah akan lebih bekerja keras meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Target pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4 persen pada tahun 2018, lebih tinggi dari target pertumbuhan ekonomi 2017 yang tertera di APBN-P 2017 sebesar 5,2 persen, tetapi lebih rendah dari harapan Presiden bisa di atas 6 persen yang kemudian dijabarkan oleh jajaran kementerian di kisaran 5,4 persen sampai 6,1 persen.
Pemerintah pun bertekad menekan laju kenaikan harga-harga atau inflasi dari 4,3 persen tahun ini menjado 3,5 persen tahun depan.
Nilai tukar rupiah tahun depan diharapkan sedikit menguat dibandingkan dengan tahun ini, dari Rp 13.500 per dollar AS menjadi Rp 13.400 per dollar AS.
Suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) nominal dinaikkan dari 5,2 persen menjadi 5,3 persen. Namun, suku bunga riil SPN (nominal dikurangi inflasi) naik dua kali lipat dari 0,9 persen menjadi 1,8 persen. Apakah ini mencerminkan ekspektasi pemerintah bahwa tahun depan pasar SPN lebih ketat sehingga pemerintah harus menawarkan suku bunga riil yang lebih tinggi? Bukankah sovereign rating versi S&P sudah dinaikkan menjadi BBB- sehingga berhak memperoleh status investment grade?
Asumsi harga minyak tidak mengalami perubahan. Dengan penurunan lifting minyak dari 815 ribu barrel per hari menjadi 800 ribu barrel per hari, penerimaan pajak migas turun dari Rp 42 triliun menjadi Rp 36 triliun.

Untuk menilai postur RAPBN 2018, agaknya tidak cukup membandingkannya dengan APBN-P 2017. Besar kemungkinan target pertumbuhan 2017 tidak tercapai. Sejauh ini, hingga semester I-2017, pertumbuhan ekonomi hanya 5,01 persen. Bisa bertahan di aras itu saja sudah cukup baik. Konsumsi rumahtangga diperkirakan tidak beranjak di sekitar 4,9 persen sampai 5,0 persen. Ekspor dan impor saling meniadakan. Tinggal bergantung pada investasi, sedangkan konsumsi pemerintah cenderung jalan di tempat karena pengetatan anggaran akan berlanjut.
Jika pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya mencapai 5,0 persen, boleh dikatakan target 5,4 persen tahun depan cukup ambisius.
Target inflasi 3,5 persen merupakan tantangan cukup berat. Kuncinya adalah stabilisasi harga pangan. Sejauh ini sektor produksi masih banyak masalah. Kestabililan harga pangan agak semu karena banyak dilakukan dengan taktik “injak kaki”.

Jika kita cermati perilaku angaran sejak 2015, tampak realisasi penerimaan pajak jauh lebi rendah dari target. Tahun 2015 target penerimaan pajak Rp 1.489 triliun tetapi realisasinya hanya Rp 1.240 triliun atau hanya 83 persen dari target. Sebaliknya, realisasi belanja mencapai 91 persen dari target. Akibatnya defisit APBN membengkak dari 1,9 persen PDB menjadi 2,6 persen PDB.
Pola serupa kembali terjadi pada 2016. Realisasi penerimaan pajak tidak beringsut dari 83 persen seperti tahun sebelumnya. Bahkan angka realisasi penerimaan pajak melorot ke 77 persen jika tidak memasukkan penerimaan denda dari program amnesti pajak. Adapun realisasi belanja tetap lebih tinggi, yaitu 89 persen dari target.
Tahun 2017 cukup besar kemungkinan target penerimaan pajak kembali tidak tercapai sekalipun APBN-P 2017 sudah memangkas Rp 71 triliun dari yang tertera di APBN 2017. Kalau itu terjadi, pemerintah bakal repot karena defisit sudah mendekati batas 3 persen yang ditetapkan Undang-Undang Keuangan Negara.
Mencermati realisasi penerimaan pajak hingga Juli 2018, ada kemungkinan shortfall sekitar Rp 50 triliun sampai Rp 70 triliun. Karena defisit tidak boleh di atas 3 persen, maka tidak ada pilihan lain bagi pemerintah kecuali memotong pengeluaran, termasuk belanja modal, termasuk juga belanja infrastruktur. Pemotongan tidak akan terlalu menggganggu keberlanjutan pembangunan infratruktur, karena sebatas menunda satu sampai dua tahun saja. Stabilitas makroekonomi jauh lebih strategis ketimbang dampak penundaan pembangunan infrastruktur.
Jika skenario itu yang terjadi, maka target pertumbuhan 5,2 persen tahun ini sulit terpenuhi. Lebih realitistik membayangkan pertumbuhan tahun ini sekitar 5,0 persen. Dampak dari pertumbuhan yang 5 persen tahun ini tentu memengaruhi target pertumbuhan 5,4 persen tahun depan.
Target penerimaan pajak di RAPBN 2018 meningkat 12,7 persen dibandingkan APBN-P 2017. Dengan pertumbuhan alamiah 9,9 persen (pertumbuhan ekonomi 5,4 persen ditambah inflasi 3,5 persen), maka peningkatan 2,8 persen berasal dari upaya ekstra yang mendekati maksimum. Jauh lebih berat lagi kalau realisasi penerimaan pajak tahun ini berkurang Rp 50 triliun, sehingga kerja super ektra keras harus menghasilkan tambahan penerimaan pajak 6,86 persen. Hampir mustahil target penerimaan pajak 2018 terpenuhi jika shortfall mencapai Rp 70 triliun, karena harus ada tambahan kenaikan 8,6 persen di luar pertumbuhan alamiahnya.

Semoga ketika pembahasan RAPBN 2018 antara pemerintah dan DPR data mutakhir semakin mendekati gambaran keseluruhan tahun 2017. Semakin cepat semaki baik, agar pemotongan anggaran tidak menunggu menjelang akhir tahun yang dampaknya lebih buruk bagi perekonomian secara keseluruhan.
Kalau kondisi terburuk terjadi, terpaksa bakal ada APBN-P 2017 jilid kedua. Jika terjadi, APBN 2018 akan banyak mengalami perubahan dari posturnya yang sekarang sebagaimana tercantum dalam RAPBN 2018.
Dalam kondisi tertekan seperti sekarang ini, pembangunan apartemen untuk anggota Dewan sepatutnya dikesampingkan.
-

Ketika berkunjung ke Madura beberapa waktu lalu bersama Dirut PT Garam (Persero), saya diperlihatkan contoh garam produksi PT Garam (berwarna putih) dan garam rakyat (berwarna kecokelatan). Saya sempat mengambil sendiri garam yang sudah menggumpal dari onggokan di udara terbuka di lahan PT Garam. Lebih dari satu tahun, garam yang saya letakkan di piring masih dengan mudah diurai dengan tangan.
Tak heran garam rakyat dihargai murah. Tak kuasa rakyat bersaing dengan hasil produksi PT Garam peninggalan zaman Belanda dengan segala kelengkapan fasilitas penunjangnya. Dua tahun terakhir Kementerian Kelautan dan Perikanan meluncurkan berbagai program untuk membantu garam rakyat. Hasilnya sudah mulai dirasakan petambak rakyat.

Minggu lalu, saya dapat kiriman foto beragam jenis garam dengan kemasan yang sangat apik. Prof. Misri Gozan mengambil foto di salah satu hypermart Seoul, Korea Selatan. Hypermart yang dikunjunginya tergolong megah, milik koperasi petani dan nelayan. Koperasi juga memiliki bank. Gerakan petani dan nelayan Korea itu praktis telah memiliki tiga pilar utama koperasi: peningkatan produksi, sarikat dagang, dan lembaga keuangan. Nilai tambah hasil keringat petani/nelayan/petambak sebagian besar dinikmati sendiri, bukan dicekik oleh kapitalis pedagang dari kota. Korea telah membuktikan mampu menghimpun kekuatan petani yang berserakan menghadapi kaum kapitalis kota. Begitulah kira-kira gerakan koperasi yang digagas Bung Hatta.
Panjang garis pantai Korea hanya 4,4 persen dari garis pantai Indonesia. Korea hanya menghasilkan sekitar 300 ribu ton garam setahun, berada di urutan ke-46 produsen garam dunia. Produksi mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga, namun tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan garam domestik, terutama untuk kebutuhan industri. Untuk itu, Korea mengimpor garam.
Korea merupakan pengimpor garam terbesar kelima di dunia. Empat negara pengimpor terbesar di atasnya (Amerika Serikat, Jepang, China, dan Jerman) juga merupakan negara industri utama dunia. Tiga di antaranya merupakan 10 besar produsen garam dunia: Amerika Serikat di urutan kedua, Jerman kelima, dan China kesembilan.

Foto oleh Prof. Misri (FMIPA-UI) di hypermart di Seoul, Korea
PT Garam telah mampu menghasilkan beberapa produk garam berkualitas. Sayangnya masih dalam jumlah relatif kecil. Produsen garam milik negara ini masih berkutat menghasilkan produk garam dalam kemasan kecil, praktis tanpa sentuhan teknologi. Satu-satunya teknologi sangat sederhana yang digunakan adalah alat penutup kemasan berupa besi yang dipanaskan dengan sambungan listrik. Berat setiap kemasan hanya dikira-kira, tanpa menggunakan timbangan. Kegiatan itu sangat layak dilakukan usaha rumahtangga. Seyogyanya PT Garam membina masyarakat sekitar, setidaknya dalam melakukan proses pengemasan.

Hampir seluruh garam Indonesia dihasilkan dari air laut. Garam dari air laut hampir mustahil bisa bersaing dengan garam tambang. Tidak heran jika garam tambang bisa diolah menjadi berbagai macam produk, termasuk sebagai wadah untuk lampu duduk. Warna garam kristal padat berwarna oranye amaliah menyerupai batu. Harga lampu garam berukuran kecil yang dijajakan di kakilima di kota Edinburgh ini dibanderol 25 poundsterling.

Sentuhan teknologi masih memungkinkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas garam kita. Swasembada garam untuk kebutuhan rumahtangga dan industri makanan & minuman sudah dalam genggaman. Produksi garam nasional dengan kondisi cuaca normal mencapai sekitar 2 juta ton. Dalam jangka menengah bisa ditingkatkan menjadi 3 juta sampai 3,5 juta ton.
Untuk swasembada total, hitung-hitungannya harus lebih cermat. Jika kita memacu pertumbuhan industri lebih cepat, kita butuh garam sangat banyak. Industri CAP dan farmasi saja butuh sekitar 2 juta ton setahun.
Masalahnya bukan sekedar bisa atau mampu. Pesawat terbang sekalipun kita sanggup hasilkan, apatah lagi sekedar garam. Yang harus dipikirkan adalah keunggulan relatif (comparative advantage) kita, oportunity cost (lahan untuk produksi garam bisa digunakan untuk berbagai kegiatan bernilai tambah jauh lebih tinggi seperti pariwisata), dan kesejahteraan petambak garam. Agar petambak garam sejahtera seperti di Korea, tiga pilar utama koperasi rakyat harus kokoh.
Buatlah peta jalan yang apik untuk itu, jangan tergesa-gesa seperti yang dibayangkan Menko Kemaritiman.
-

tutorialspoint.com Dua kompetisi sepakbola paling bergengsi di dunia adalah Premier League di Inggris dan LaLiga Santander di Spanyol. Pada musim 2016/2017, juara Premier League adalah Chelsea dan juara LaLiga adalah Real Madrid. Kedua juara itu bukanlah yang paling sedikit kebobolan.
Di Liga Inggris, yang paling sedikit kebobolan adalah Tottenham Hotspur (26) di posisi kedua dalam klasemen akhir, menyusul Manchester United (29) di posisi keenam. Sang juara, Chelsea, kebobolan sebanyak 33.
Di Liga Spanyol, yang paling sedikit kebobolan adalah Atletico Madrid (27) di posisi ketiga dalam klasemen akhir, menyusul Villarreal (33) di posisi kelima. Real Madrid yang menyabet piala LaLiga kebobolan cukup banyak, 41 kali.
Walaupun bukan yang terbanyak, namun kedua pemenang di liga paling bergengsi di dunia itu adalah yang sangat subur menjebolkan gawang lawan. Kedua tim masing-masing menjadi tersubur kedua. Di kedua ajang kompetisi itu, yang paling subur sama-sama menduduki posisi kedua klasemen akhir.
Menyerang lebih menjajikan untuk meraih gelar juara.

Dalam kancah persaingan dunia yang kian terbuka, negara yang paling banyak meraih keuntungan dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya lebih cepat adalah yang melakukan penetrasi ke segala penjuru dunia. Mereka tidak menerapkan taktik mercantilism seperti banyak dipraktekkan pada abad pertengahan, yakni dengan memacu ekspor tetapi membentengi diri dari impor agar menghasilkan surplus perdagangan sebesar-besarnya. Mereka membuka diri terhadap barang-barang impor, bukan dengan strategi “memarkir bus berjejeran di depan gawang” seperti diterapkan beberapa kali oleh Jose Mourinho ketika melatih Chelsea.
Indonesia cenderung menggunakan taktik “parkir bus di depan gawang” dengan menerapkan paling banyak pembatasan perdagangan dan investasi dibandingkan negara-negara tetangga. Perbedaan Indonesia dengan negara-negara tetangga sedemikian sangat kontras.

Hampir seluruh negara melibatkan diri semakin mendalam di kancah perdagangan dunia. Produksi barang dan jasa yang diekspor semakin besar. Porsi barang dan jasa yang mereka impor pun semakin besar. Peningkatan porsi barang yang diekspor dan diimpor yang semakin besar itu mencerminkan strategi permainan terbuka. Jika kita menuntut negara lain membuka pasarnya untuk produk-produk kita, maka kita pun harus berani membuka pasar domestik untuk produk-produk mereka. Itulah azas resiprositas.
Sangat ironis, Indonesia adalah satu-satunya negara–dengan pengecualian Singapura–yang perekonomiannya semakin tertutup. Baik ekspor maupun impor mengalami penurunan dinyatakan dalam persentase terhadap produk domestik bruto (PDB). Tidak peduli perbedaan ideologi, jumlah penduduk, lokasi, negara maju atau negara berkembang, semua menunjukkan peningkatan keterbukaan ekonomi.

Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah data di atas semacam rekayasa untuk tujuan dramatisasi yang menghasilkan ironi bagi Indonesia. Data itu bisa saja dipilih yang paling kontras karena hanya menyajikan dua titik waktu, 1981 dan 2016.
Untuk mengurangi–syukur-syukur menghilangkan–keraguan, berikut disajikan data jangka panjang dengan menggunakan rerata lima tahun. Hasilnya, selama 16 tahun terakhir, perekonomian Indonesia konsisten semakin tertutup.

Agar bisa meraih keuntungan maksimum dari peningkatan perdagangan dua arah (ekspor dan impor), suatu negara harus siap tempur, yakni dengan memperkokoh perdagangan intra-industri. Semakin banyak porsi perdagangan intra-industri dalam perdagangan total suatu negara, semakin besar keuntungan perdagangan yang digapai. Bukan sekedar memperoleh gains from trade tetapi juga additional gains from trade. Keuntungan ganda hanya bisa diraih jika yang diperdagangkan semakin banyak produk manufaktur. Untuk itu harus didorong secara total football akselerasi industrialisasi. Data mendukungnya.
Kalau terus mengandalkan ekspor komoditas, lama kelamaan kita akan kebobolan juga walau sepiawai apa pun taktik pertahanan yang kita terapkan.


-

thinglink.com Barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu perekonomian–diukur dengan produk domestik bruto atau PDB (Y)–terdiri dari konsumsi rumahtangga (Cp), konsumsi pemerintah (Cg), investasi (I), ekspor (X), dan impor (M). Tulisan ini menitikberatkan pembahasan pada komponen Cp.
Ketika suatu negara masih berpendapatan sangat rendah atau miskin dan baru pada tahapan awal pembangunan, komponen Cp sangat mendominasi. Indonesia pun mengalaminya pada tahapan awal pembangunan. Pada periode 1966-70, porsi konsumsi rumahtangga mencapai rata-rata 88,9 persen per tahun.
Trend jangka panjang sempat terganggu oleh krisis 1998, namun setelah tahun 2000 kembali menunjukkan trend menurun secara konsisten hingga 2016.
Sejalan dengan derap pembangunan, peranan investasi mengalami peningkatan. Pada tahun 1960-an, peranan investasi–yang diukur dengan pembentukan modal tetap bruto–masih di bawah 10 persen. Sejak 2009 hingga sekarang porsi investasi telah menembus 30 persen. Pada triwulan II-2017, peranan investasi mencapai 31,4 persen. Pengalaman Indonesia menunjukkan hubungan terbalik antara peranan konsumsi rumahtangga dan investasi.

Jika Indonesia telah menjadi negara maju, boleh jadi porsi Cp akan meningkat dan stabil di sekitar dua pertiga dari PDB sebagaimana ditunjukkan oleh Amerika Serikat dan Inggris.
Pengalaman negara lain bervariasi, bergantung antara lain pada jumlah penduduk, tingkat keterbukaan ekonomi (degree of openness), dan tingkat pendapatan per kapita.

***
Pembangunan ditandai oleh transformasi struktural di berbagai bidang. Dalam hal konsumsi rumahtangga, Sejalan dengan kenaikan pendapatan per kapita, pola konsumsi berubah:
- Pengeluaran rumahtangga untuk bahan makanan dan pakaian turun.
- Belanja untuk barang konsumsi tahan lama meningkat.
- Pengeluaran untuk jasa meningkat
- Pengeluaran untuk leisure meningkat.
Pergeseran pola konsumsi pertama dan kedua agaknya tidak perlu dibahas karena lebih nyata terlihat. Pergeseran ketiga mulai tampak pasca krisis 1998 dan mengakselerasi.
Delapan sektor yang tumbuh di atas pertumbuhan PDB pada triwulan II-2017 semuanya adalah sektor jasa. Sebaliknya, semua sektor barang mengalami pertumbuhan lebih rendah dari pertumbuhan PDB. Pertumbuhan sektor jasa (non-tradable) semakin meninggalkan pertumbuhan sektor barang (tradable).
Tak dinyana, peranan sektor jasa dalam PDB telah mencapai 58 persen. Jadi, perekonomian Indonesia telah menjelma sebagai perekonomian jasa, tanpa melalui tahapan negara industri.


Sekedar perbandingan, sumbangan sektor tradable dan non-tradable di China masih seimbang, padahal pendapatan per kapita China jauh lebih tinggi dari Indonesia.

Pergeseran pola keempat tampaknya mulai terjadi. Badan Pusat Statistik (BPS) mulai memperkenalkan pengelompokan leisure dan non-leisure. BPS mengakui gejala itu perlu dikaji lebih mendalam. Gejala dininya sudah mulai tampak sejak 2015.
Gejala perubahan gaya hidup diperkuat oleh Ari Kuncoro dalam tulisannya Anomali Data Makro dan Mikro.

Data lain juga memperkuat kecenderungan di atas. Pertumbuhan jumlah penumpang angkutan udara dan kereta api mencapai dua digit. Sementara itu, pertumbuhan sektor hospitality (akomodasi serta makanan & minuman) meningkat.

Jika benar kecenderungan itu telah terjadi, maka sinyalemen penurunan daya beli masyarakat yang terlihat dari penurunan penjualan barang-barang tertentu tampaknya lemah.
-
antaranews.com, 13th August 2017 | 990 ViewsJakarta (ANTARA News) – The head of Indonesias Central Bureau of Statistics, Suhariyanto, stated that public consumption behavior has changed from common commodities to those connected with leisure activities.“Consumption for leisure activities has risen, showing that the public has started thinking about lifestyle,” he said at a discussion at the ministry of communication and informatics here on Saturday.
He explained that commodities included in the leisure activities include hotels, restaurants, places of recreation, and cultural activities.
“Therefore, it has shifted from non-leisure to leisure consumption,” he noted.
People with fixed income tend to go for vacation and recreation, as shown by a lot of destinations offering cheap leisure commodities.
“Indeed, there has been a shift there. It is not clear if it is part of lifestyle or because they are bored and want to take a break,” Suharyanto remarked.
Economic observer Faisal Basri stated on the occasion that there has indeed been a shift in consumption pattern due to the change in the lifestyle of the upper-middle class of the society that covers 60 percent of the community.
The upper-middle class tends to develop fondness for tourism activities as seen from the added value of transportation sector, warehousing, and growth of hospitality.
“The number of domestic air passengers has grown by 10.22 percent (Jan to June 2017). That is also consumption. Railway passengers have also grown quite high at 8.53 percent (Jan to June 2017),” he revealed.
According to data, the number of foreign tourists to the country grew 22.42 percent in the first semester this year compared to the same period last year.(*)
-
Mari raih kemenangan
Melawan para koruptor
Melawan para pendukung koruptor
Tidak berteman dengan koruptor
Kobarkan perang
Menentang perilaku korup
Yang membuat orang miskin semakin papa
Yang membuat kaum tak berdaya kian terpinggirkan
Yang membuat Negeri kian dibelit utang
Koruptor tak kunjung jera
Menari di tengah derita rakyat
Koruptor hidup berfoya-foya
Sementara petani terkikis daya belinya
Koruptor melarikan hasil jarahannya ke luar negeri
Membuat wajah perekonomian pucat pasi
Hanya ada satu kata
LAWAN
Hanya ada satu tekad
BASMI
-

kumparan
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri memastikan bahwa daya beli masyarakat tidak menurun. Bahkan menurutnya, tidak ada kejadian luar biasa yang menyebabkan daya beli masyarakat secara keseluruhan tiba-tiba merosot. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan riil konsumsi masyarakat (private consumption) mencapai rata-rata 5 persen. Pertumbuhan nominal konsumsi masyarakat pada kuartal pertama 2017 masih 8,6 persen.“Jadi, baik secara nominal maupun riil, konsumsi masyarakat masih naik. Memang benar kenaikan konsumsi masyarakat sedikit melambat menjadi di bawah 5 persen atau persisnya 4,93 persen pada kuartal pertama 2017, tetapi jauh dari merosot atau turun sebagaimana banyak diberitakan belakangan ini,” ujar Faisal di acara Forum Merdeka Barat, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Sabtu (12/8).Menurut Faisal, masyarakat terdiri dari berbagai kelompok, ada yang sangat kaya, kaya, berpendapatan menengah, berpendapatan rendah, dan kelompok miskin dan sangat miskin. Bahkan yang dikonsumsi oleh masyarakat juga amat beragam, mulai dari kebutuhan pokok hingga barang dan jasa sangat mewah.“Sangat boleh jadi ada kelompok masyarakat yang memang mengalami penurunan daya beli. Pegawai Negeri setidaknya sudah dua tahun tidak menikmati kenaikan gaji sehingga sangat boleh jadi daya belinya turun,” katanya. -
Daya beli (purchasing power) merupakan sekedar istilah, bukan teori. Menurut Oxford Dictionary of Economics, puchasing power adalah
“The amount of real goods and services each unit of money will buy. Purchasing power is thus the reciprocal of a suitable price index: if prices go up, the purchasing power of money goes down.”
Definisi tidak jauh berbeda oleh Investopedia:
“Purchasing power is the value of a currency expressed in terms of the amount of goods or services that one unit of money can buy. Purchasing power is important because, all else being equal, inflation decreases the amount of goods or services you would be able to purchase.”
Istilah purchasing power memiliki arti yang berbeda sesuai konteks. Masih menurut Investopedia, dalam terminologi investasi, purchasing power adalah
“the dollar amount of credit available to a customer to buy additional securities against the existing marginable securities in the brokerage account.”
Dalam khazanal ekonomi internasional, kita mengenal teori paritas daya beli (purchasing power parity (PPP) theory). Teori ini menjelaskan daya beli suatu mata uang terhadap mata uang lain yang mengaitkannya dengan kemampuan masing-masing mata uang membeli barang dan jasa yang sama. Berikut penjelasan Oxford Dictionary of Economics tentang teori PPP:
“The theory that exchange rates between currencies are determined in the long run by the amount of goods and services that each can buy. In the absence of transport cost and tariffs, if the price of tradable goods are lower in the one country than another, traders could gain by buying buying goods in the country where they are cheaper and selling in the other one: relative price levels thus determine the equilibrium exchange rate. Not all goods are tradables, and even for tradables transport costs and tariffs mean that prices need not be equal, but the same forces of arbitragelimit their differences, and thus limit the deviations of exchange rates from PPP. An alternative form of PPP says that changes in the equilibrium exchange rate are determined by changes in relative price levels.”
Badan Pusat Statistik (BPS) setiap bulan merilis data nilai tukar petani (NTP) dengan tujuan untuk menangkap perkembangan tingkat “kesejahteraan” petani di pedesaan. BPS mendefinisikan NTP sebagai berikut:
“Perbandingan indeks harga yg diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, mencerminkan tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga mencerminkan daya tukar (terms of trade) produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi petani.”
Jika harga produk pertanian yang dihasilkan petani naik lebih lambat dari harga barang dan jasa yang dibeli petani, ceteris paribus, berarti daya beli petani menurun. Dengan uang yang sama yang diperoleh dari penjualan produk pertanian yang dihasilkan, kian sedikit barang dan jasa yang bisa dibeli petani, baik untuk konsumsi maupun untuk ongkos produksi petani.
Petani bisa membeli lebih banyak kebutuhannya jika produktivitas petani naik dan atau petani melakukan ekspansi lahan tanam.
***
Perbincangan yang marak belakangan ini tentang sinyalemen daya beli masyarakat yang merosot di tengah data makroekonomi yang tidak mengalami pemburukan sangat boleh jadi disebabkan oleh duduk perkara yang tidak jelas. Jika duduk perkaranya jelas, boleh jadi tidak terjadi anomali antara data makro dan data mikro.
Pihak yang mengatakan daya beli masyarakat merosot bertolak dari kenyataan omzet beberapa outlet penjualan ritel modern dan penjualan sejumlah barang mengalami penurunan. Sudah barang tentu kenyataan itu tidak mencerminkan daya beli masyarakat secara keseluruhan. Lihat Daya Beli Masyarakat Tidak Merosot dan Data PDB Terbaru dan Daya Beli.
Jika kembali ke definisi pertama yang diperluas, daya beli masyarakat secara keseluruhan akan turun seandainya peningkatan pendapatan masyarakat lebih lambat ketimbang peningkatan harga-harga umum sebagaimana terefleksikan dari laju inflasi. Pendapatan masyarakat sebagaimana tercermin dari pendapatan nasional berdasarkan harga berlaku selama kurun waktu 2013-2016 mengalami kenaikan rerata 9,8 persen. Bahkan pada tahun 2016 kenaikannya tertinggi selama periode itu, yaitu 11,7 persen.
Karena selalu terjadi kenaikan jumlah penduduk, pertumbuhan pendapatan nasional per kapita lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan nasional. Selama periode 2013-2016, pendapatan nasional per kapita rerata setahun naik sebesar 8,23 persen, dengan peningkatan tertinggi 10,3 persen pada tahun 2016.
Untuk mendapatkan pendapatan nasional riil, kita harus memperhitungkan kenaikan harga dengan menggunakan deflator PDB atau deflator pendapatan nasional. BPS menyajikan data itu. Agar lebih mengerucut pada daya beli, kita gunakan saja indeks harga konsumen yang lazim dipakai untuk mengukur laju inflasi. Ternyata laju inflasi selalu lebih rendah dari pertumbuhan nominal pendapatan nasional maupun pendapatan nasional per kapita, bahkan laju inflasi menunjukkan kecenderungan menurun hingga di bawah 4 persen pada Juli 2017.

Pendapatan nasional (national income) telah mengeluarkan pajak tidak langsung.
Pendapatan perseorangan (personal income) diperoleh dari national income dikurangi transfer payments bersih. Jika personal income dikurangi dengan pajak perseorangan, maka didapat pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income).
Karena tarif pajak perseorangan tidak naik, maka tidak terjadi tekanan terhadap pendapatan yang siap dibelanjakan atau tidak terjadi tekanan terhadap daya beli karena faktor pajak. Jika pemerintah menurunkan pendapatan tidak kena pajak, barulah daya beli masyarakat menurun.
Selain itu, bisa saja kelompok masyarakat tertentu menikmati peningkatan pendapatan tetapi konsumsinya tidak naik, karena porsi pendapatan yang ditabung meningkat. Kecenderungan demikian terlihat dari peningkatan pertumbuhan dana pihak ketiga di perbankan sejak Oktober 2016. Jadi penurunan konsumsi bukan berarti daya beli turun, melainkan karena switching ke tabungan.

Riitel modern dan beberapa barang yang penjualannya turun seperti semen dan pakaian tidak mencerminkan seluruh belanja masyarakat. Terbukti survei Bank Indonesia terbaru menunjukkan penjualan eceran Juni 2017 meningkat sejalan dengan kenaikan permintaan total masyarakat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, yang tercermin dari peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2017 sebesar 6,3% dibandingkan Juni tahun lalu.
Tulisan Ari Kuncoro menjelaskan tidak terjadi anomali data mikro dan makro. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi, antara lain karena perubahan gaya hidup kelas menengah-atas.
Oleh karena itu wajar saja terjadi penurunan di sektor tertentu tetapi lebih banyak sektor yang menikmati peningkatan. Analisis Ari Kuncoro ditopang oleh data.
Rilis BPS terbaru menunjukkan, walaupun pertumbuhan subsektor perdagangan besar dan eceran mengalami penurunan (tumbuh tapi melambat) dari 5,41 persen pada triwulan I-2017 menjadi 3,94 persen pada triwulan II-2017, selama semester I-2017 subsektor ini tumbuh 5,41 persen–lebih tinggi dari pertumbuhan PDB sebesar 5,01 persen.
Kelas menengah-atas yang semakin gandrung melancong tampak dari nilai tambah sektor transportasi & pergudangan serta sektor hospitality yang terus tumbuh, bahkan beberapa subsektor tumbuh dua digit.

Tengok pula peningkatan jumlah penumpang dan volume barang yang diangkut yang juga naik relatif tinggi.

Turis mancanegara dan turis domestik juga sangat berperan menggairahkan kedua sektor itu. Sejak 2015 jumlah turis asing telah menembus 10 juta dengan peningkatan dua digit pada 2016 dan diperkirakan berlanjut seperti itu tahun ini. Pada semster I-2017 jumlah turis mancanegara tumbuh 22,42 persen dibandingkan semester yang sama tahun lalu.

Sudah barang tentu tidak semua kenaikan sektor transportasi dan hospitality berasal dari turisme, melainkan juga dari kegiatan bisnis yang terus meningkat. Ikhwal peningkatannya tidak mengakselerasi, itulah yang menjadi tantangan kita bersama.
Indonesia tidak cukup dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen, apalagi kalau kurang berkualitas sebagaimana tampak pada perkembangan lima tahun terakhir.