Pertumbuhan Merangkak Naik, Bukan Stagnasi


thedailystar.net

Cukup banyak pemberitaan yang mengatakan ekonomi Indonesia mengalami stagnasi. Per definisi, stagnasi ialah “a prolonged period of little or no growth in an economy. Economic growth of less than 2 to 3 percent annually is considered stagnation, and it is highlighted by periods of high unemployment and involuntary part-time employment. Stagnation can also occur on a smaller scale in specific industries or companies.”

Berikut beberapa berita terkait penggunaan istilah stagnasi yang kurang pas:

Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam empat tahun terakhir mencapai rerata 5 persen. Memang pada tahun pertama pemerintahan Presiden Jokowi, pertumbuhan ekonomi melambat dari 5,01 persen tahun 2014 menjadi 4,88 persen tahun 2015. Namun tiga tahun berturut-turut kemudian merangkak naik menjadi 5,03 persen tahun 2016 dan 5,07 persen tahun 2017. Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi 2018 yang kembali lebih tinggi, yaitu 5,17 persen.

Jadi, lebih elok mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama empat tahun terakhir bertengger anteng di aras 5 persenan.

Tingkat pengangguran terbuka pun menunjukkan perkembangan serupa. Setelah naik dari 5,820 persen tahun 2014 menjadi 5,995 persen tahun 2015, tingkat pengangguran terbuka terus turun menjadi 5,555 persen tahun 2016, lalu 5,415 persen tahun 2017, dan 5,235 persen tahun 2018.

Pertumbuhan 2018

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, penopang utama pertumbuhan 2018 adalah sektor jasa atau sektor non-tradable. Dari 14 sektor jasa, 11 di antaranya tumbuh di atas pertumbuhan PDB. Kondisi ini tidak berubah dibandingkan 2014.

Sebaliknya, ketiga sektor penghasil barang (tradable) tumbuh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Sektor industri manufaktur yang merupakan penyumbang terbesar bagi PDB terus melanjutnya penurunan perannya, dari 20,52 persen pada 2016 menjadi 20,16 persen pada 2017 dan turun lagi ke aras di bawah 20 persen tahun 2018.

Tiada pilihan lain kecuali mengakselerasikan industri manufaktur untuk membuat pertumbuhan ekonomi lebih berkualitas.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan konsumsi rumahtangga meningkat cukup signifikan dari 4,94 persen pada 2017 menjadi 5,05 persen pada 2018. Faktor inilah yang menjadi kunci pertumbuhan PDB bisa lebih tinggi tahun lalu, mengingat sumbangan konsumsi rumahtangga lebih dari separuh PDB.

Penyumbang terbesar kedua adalah pertumbuhan investasi fisik atau pembentukan modal tetap bruto. Komponen ini–yang menyumbang 32,29 persen dalam PDB–juga mengalami peningkatan pertumbuhan, dari 6,15 persen pada 2017 menjadi 6,67 persen pada 2018.

Komponen yang mengerek pertumbuhan ke bawah adalah pertumbuhan impor yang melonjak dan sebaliknya pertumbuhan ekspor merosot.


 [Dimutakhirkan pada 7 Februari 2019, pk. 05:50]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.