The Fourth Industrial Revolution


Malam ini saya bersyukur sambil bersantap dapat berdiskusi dengan dosen favorit saya tentang era baru, revolusi industri IV. Tanda-tanda era baru itu sudah tampak sosoknya.

Industri Amerika Serikat (AS) akan bangkit. Relokasi industri ke Amerika Serikat menjadi fenomena baru yang tak terbayangkan sebelumnya. Industri akan mendekat ke konsumen dan pusat desain dan R &D. Di sinilah letak daya tarik AS.

Kegiatan di pabrik hampir semua digerakkan oleh robot. Tidak ada lagi jasa antar-jemput barang dengan armada sepeda motor. Taksi dengan basis aplikasi pun lambat laun punah. Semua digantikan oleh kendaraan otomatis tanpa pengemudi dan jada pesawat tak berawak, drone.

Walaupun telah mengalami post-industrial society, sektor pertanian di AS tetap kuat karena peningkatan produktivitas secara berkelanjutan. Komputerisasi di lahan pertanian sudah cukup lama diterapkan di Israel. Jadi bukan hal yang baru. Sepanjang mata memandang di hamparan pertanian luas, tak tampak satu pun manusia. Penggunaan air, pupuk dan saprodi lainnya diprogram oleh komputer sesuai dengan kebutuhan lewat jaringan pipa. Lahan tandus sekalipun bisa ditanami. Sekali lagi, ini sudah terjadi. Makin banyak negara menerapkannya. Mereka pun menyambut kembali era industri baru.

Modus transaksi sudah barang tentu berubah. Mal besar berkurang drastis. Kalau mau bertahan, model bisnis mal harus berubah. Mal bukan cuma tempat berbelanja dan pusat kuliner, tetapi juga menjadi tempat menggali ilmu. Di kawasan mal ada museum ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Melangkah keluar kita menikmati hutan dan taman luas yang hanya bisa dinikmati kalau kita mendatanginya. Yang seperti itu pun sudah ada di kawasan Marina Bay, Singapura.

Pola hubungan industrial tentu saja berubah pula. Yang bakal menguat adalah asosiasi-asosiasi profesi lintas ilmu yang melakukan kajian atau berbagai kegiatan kolaboratif. Pusat-pusat kajian terintegrasi menggunakan data bersama yang skalanya amat besar untuk dianalisis berdasarkan kebutuhan masing-masing. Kita menyebutnya analytics.

Masih banyak lagi yang kami bahas. Sepulang dari pertemuan dengan menyisakan jejak rasa dari makanan yang saya santap, pikiran kembali ke realitas di tanah air. Kita masih belum selesai dengan revolusi industri II sekalipun. Urusan masih berkutat di seputar tata niaga pangan, cawe-cawe di mana-mana, kontroversi dalam banyak hal. Semua membuat lelah sampai-sampai abai mengantisipasi tantangan masa depan.

Tapi saya tidak pesimistik. Berkah keterbukaan akan membuat kita lebih cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan luar dan dalam. Yang tidak mau berubah akan digilas oleh zaman. Yang selalu menatap kaca spion akan menabrak aatau tertabrak.

Pemerintah Korea Selatan aktif sekali mempersiapkan era baru itu. Pemerintah negara ginseng ini menggelindingkan serangkaian langkah strategis yang membuat korporasi di sana tidak terlena di comfort zone. 

Kita pun berharap pemerintah mulai melangkah maju agar bangsa ini bisa bersejajaran di kancah persaingan global dengan penuh percaya diri. Kesadaran kolektif dari segenap anak bangsa pun perlu ditanamkan. Kita pasti bisa.

Ketika hendak menutup tulisan ini, saya singgah mencari di google tentang the forth industrial revolution. Ternyata banyak sudah tulisan tentang ini. Walau pernah mendengar sebelumnya, saya harus akui ilmu dari dosen saya adalah yang paling menyeluruh yang saya serap tentang revolusi industri IV. Penjelasannya sangat jernih, sejernih sang dosen memberikan kuliah di kelas 35 tahun yang lalu.

***

 

 

 

9 Comments

  1. Akhirnya ada tokoh-tokoh Indonesia yang mulai menyadari dan menulis tentang 4th Industrial revolution, tidak ada kata terlambat, paling tidak ada langkah maju untuk memulai.

  2. Menarik, tanda-tanda zaman Revolusi Industri IV sdh dimulai… ? Drone, mgkin cocok utk menghubungkan antar pulau kita, tapi… Apa yg seharusnya dilakukan negeri ini, harus melompatkah?

  3. kalau revolusi industri dilaksanakan. terus bagaimana dengan tenaga kerja? karena ketika diterapkan revolusi indusrtri II maka penyerapan tenaga kerja akan sangat berkurang, yang akan mengakibatkan naiknya tingkat penganguran dan kemiskinan di Indonesia, Pak Faisal Basri

    1. Saya juga prihatin, tetapi kita tak bisa mengelak. Tanda-tandanya sudah banyak.

      Kita benahi ketenagakerjaan kita. Tingkatkan produktivitasnya.

      Proses revolusi industri itu bertahap. Jadi masih ada ruang untuk kita mengembangkan industri yang satu level di bawahnya.

      1. Lalu, bgm kemungkinan efek “Bonus Demografi” dapat dioptimalkan seiring dengan revolusi industri kita, Pak Faisal? Bgm nasib posisi kelas menengah Indonesia? Jika salah urus, bisa jadi posisi kita melorot lagi (jebakan kelas menengah), semoga tdk terjadi hal demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s