Pada tulisan sebelumnya (Profil Pendidikan Penganggur yang “Aneh”) terlihat angka pengangguran paling rendah adalah pada kelompok pendidikan SD ke bawah, menyusul kemudian kelompok tamatan sekolah menengah pertama. Sebaliknya, kedua kelompok terbawah inilah yang merupakan mayoritas pekerja walaupun porsinya terus menurun. Pada tahun 2013, porsi pekerja tamatan sekolah menengah pertama ke bawah sebesar 66 persen. Pada tahun 2014 turun menjadi 65 persen dan pada tahun 2015 turun cukup tajam  menjadi 62 persen.

Rendahnya tingkat pengangguran pada kelompok berpendidikan SD ke bawah bukanlah berita baik. Bagi mereka, tidak ada pilihan kecuali bekerja. Terlalu miskin bagi mereka untuk tidak bekerja (too poor to be unemployed).

employment-edu

Secara absolut, penduduk berusia 15 tahun ke atas yang hanya berpendidikan SD ke bawah  turun dari 53,81 juta pada 2013 menjadi 50,83 juta. Muncul pertanyaan kemana sekitar 3 juta pekerja itu? Jika tersingkir dari pasar kerja, bagaimana nasib mereka? Kemungkinan besar sebagian mereka tersungkur hidup di bawah garis kemiskinan. Kenyataannya memang angka kemiskinan meningkat pada bulan September 2016 dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah orang miskin pada kurun waktu itu sebanyak 780.000 jiwa, dari 27,73 juta (10,96 persen) menjadi 28,51 juta (11.13 persen).

Salah satu penyebab mereka tergerus dari pasar kerja adalah kenaikan upah minimum yang naik hampir selalu dua digit dalam beberapa tahun terakhir. Modernisasi industri dan otomatisasi menambah ancaman bagi mereka. Indonesia merupakan negara yang paling rentan terhadap otomatisasi dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Karena mayoristas pekerja kita masih berpendidikan rendah, kunci memacu pertumbuhan adalah dengan meningkatkan produktivitas mereka lewat serangkaian upaya meningkatkan ketrampilan dan memperkenalkan teknologi tepat guna.