Soal Serial Sesat Pikir

lie

alittlewiser63.blogspot.co.id

Sudah cukup banyak saya menulis di blog ini dengan tema atau judul atau kategori SESAT PIKIR. Tiada niatan untuk mengumbar energi negatif atau menyudutkan siapa pun. Tidak juga berpretensi paling benar sendiri.

Yang dulu benar barangkali sekarang tidak relevan lagi. Perubahan sedemikian sangat cepat. Yang kita ketahui sangatlah sedikit, apalagi tentang masa depan. Kita dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan di sekitar kita, yang dekat maupun yang jauh. Kegagalan memahami perubahan lingkungan strategis bisa mengakibatkan petaka.

Siapa nyana nasib Nokia telah ditelan bumi. Padahal tidak seberapa lama sebelumnya Nokia disanjung setinggi langit oleh para ahli marketing, dijadikan studi kasus di buku-buku teks dan sekolah bisnis. Sony terseok-seok, beberapa unit bisnisnya sudah dijual.

Sebagai negara, Indonesia juga terbukti terseok-seok dibandingkan negara-negara tetangga. Ketika merdeka, tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia hampir sama dengan Korea Selatan. Sampai tahun 1997, pendapatan per kapita Indonesia selalu di atas Tiongkok. Sekarang? Korea sudah terbang dengan gross national income (GNNI) per capita 7,5 kali Indonesia. GNI per kapita (berdasarkan Atlas method yang digunakan Bank Dunia) China dua kali lipat Indonesia. Bahkan, Timor-Leste sempat di atas Indonesia selama tujuh tahun (2007-2013).

Tentu ada yang kendur dalam motor penggerak pembangunan Indonesia. Salah satu contohnya adalah semakin banyak komoditas pangan kita yang harganya merangkak naik terus di dalam negeri sedangkan di pasaran internasional sebaliknya merangkak turun. Tidak hanya setahun tetapi sudah bertahun-tahun. Lihat Menohok ke Akar Masalah

Kita sudah mengalami triple deficits dalam perdagangan luar negeri: defisit produk manufaktur, pangan, dan migas. Tidak hanya satu-dua tahun, tetapi sudah satu dekade lebih.

Kenyataan juga menunjukkan ekspor kita semakin tidak beragam sedangkan impor semakin beragam. Sudah 70 tahun merdeka tetapi struktur ekspor kita masih didominasi oleh produk-produk primer atau komoditas.

Di tengah era globalisasi, taktala hampir semua negara semakin terlibat dalam perdagangan internasional, degree of openness Indonesia justru turun. Nilai ekspor Indonesia selama kurun waktu 2009-2014 naik hanya 47 persen, sementara nilai impor naik 93 persen. Lihat Perekonomian Indonesia Kian Loyo.

Bukan hanya ekonomi. Dalam kehidupan politik pun kita perlu berbenah. Kembali ke masa lalu bukanlah pilihan. Kita perkuat sekrup-sekrum yaang renggang.

Ada baiknya kita mulai introspeksi diri, mengidentifikasi yang bengkok-bengkok, lalu kita berupaya dengan keras meluruskannya.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Dengan latar belakang di atas, insya Allah saya akan terus menulis serial SESAT PIKIR.

 

 

 

 

 

 

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Development, Sesat Pikir. Bookmark the permalink.

3 Responses to Soal Serial Sesat Pikir

  1. peta says:

    “insya Allah saya akan terus menulis serial SESAT PIKIR..” asyik, lanjutkan pak.

  2. Mas Yunus says:

    Saya mulai faham motifnya, dukung!
    Menggerakkan bangsa kita sebesar ini memang butuh “terapi kejut”. Jangan sampai Indonesia terjebak dalam middle class trap dlm kurun waktu lama seperti Brazil…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s