Konsolidasi di Masa Turbulensi

Redakan dulu ambisi besar untuk sementara. Koreksi target selangit. Kocar-kacir ekonomi Indonesia belakangan ini merupakan bukti nyata bahwa fondasi kita masih lemah. Beberapa masalah structural harus segera ditangani serius. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan melompat-lompat. Akui kelemahan kita dengan rendah hati.

Langkah pertama adalah mengoreksi target penerimaan pajak pada APBN 2016. Belajarlah dari kesalahan fatal 2015. Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kemerosotan harga komoditas, justru pemerintah meningkatkan target penerimaan pajak dari Rp 1.147 triliun (realisasi APBN-P 2015) menjadi 1.489 triliun (APBN-P 2015) atau kenaikan tajam sebesar 30 persen.

Realisasi penerimaan pajak tahun 2015 diperkirakan paling banter sekitar Rp 1.150 trilun. Sepertinya tidak mau belajar dari kesalahan fatal, pemerintah mematok target penerimaan pajak untuk tahun 2016 (APBN 2016) sebesar Rp 1.547 triliun atau naik 34,5 persen, yang berarti lebih tinggi dari tahun 2015—luar biasa.

Kalau dibiarkan, bisa dibayangkan betapa bakal semakin beringas Kementerian Keuangan memburu pembayar pajak (tax payer). [Istilah pembayar pajak lebih sejuk ketimbang wajib pajak.]

Bukan target pajak saja yang harus segera dikoreksi, melainkan juga target pertumbuhan ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 yang belum berusia setahun sudah melenceng jauh.

Pertumbuhan ekonomi 2015 paling banter 4,8 persen, sedangkan yang tertera dalam RPJM 5,5 persen. Target pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi 2016 dalam APBN 2016 sebesar 5,3 persen, semakin jauh lebih rendah dari target RPJM sebesar 6,6 persen.

Revisi juga target industrialisasi. Dorong agar pertumbuhan industri agar bisa mendekati dua kali lipat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) agar sumbangan sector industri manufaktur dalam PDB naik lebih cepat ketimbang yang tertera di Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 yang kurang greget itu.

rpjm

Industrialisasi harus mampu meningkatkan kapasitas ekspor. Yang tampak sudah mulai berhasil adalah industri otomotif. Untuk pertama kalinya pada tahun 2015 industri otomotif mencetak surplus perdagangan (ekspor lebih besar dari impor).

Ekspor mobil utuh (built up) sampai November 2015 judah mendekati 200 ribu unit. Dalam bentuk CKD sudah melampaui 100 unit. Hampior nbisa dipastikan volume ekspor tahun 2015 bakal melampaui tahun sebelumnya. Peningkatan volume ekspor otomotif cukup membantu dalam mengompensasikan penurunan penjualan mobil di dalam negeri.

auto

Potensi industri tekstil berbasis rayon juga sangat menjanjikan. Kita memiliki keunggulan komparatif di subsektor ini sehingga setidaknya bisa mengimbangi kelemahan di industri tekstil  berbasis katun. Tekstil berbasis polyester juga berpotensi untuk terus dikembangkan seandainya terjadi integrasi antara industri pengilangan/pengolahan migas dan industri petrokimia.

Ditambah dengan penguatan industri baja, maka kita akan memiliki industri dasar yang semakin kokoh.

Dengan begitu berbagai jenis industri di tengah dan hilir memiliki peluang untuk berkembang lebih leluasa. Jika kita telah memiliki struktur industri yang lebih kokoh, maka industri skala kecil dan menengah bakal bergairah.

 

 

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Fiscal Policy, Industri, Makroekonomi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s