Faisal Basri: Kesulitan adalah Cambuk untuk Maju

Kompas, Selasa, 8 Juli 2014, hal. 33.

kompaskita

Foto: KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Pengantar Redaksi

FAISAL Basri tak hanya dikenal di lingkungan Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sebagai dosen, dia rajin menulis di berbagai media untuk berbagi ilmu dan pengetahuan tentang ekonomi dan politik.

Dia tak segan mengkritik kebijakan pemerintah dan memberikan pendapatnya akan suatu masalah. Meski pendapatnya belum tentu dipakai, Faisal tak putus asa. Dia meyakini, sebagai dosen, salah satu tugasnya adalah menyampaikan pendapat.

Dia pernah terjun ke dunia politik, bergabung di partai politik, dan mencalonkan diri sebagai kepala daerah dengan mengikuti pemilihan gubernur DKI Jakarta lewat jalur independen. Meski tak lagi aktif di politik praktis, dia tetap berambisi mendirikan sekolah pendidikan politik untuk anak muda.

”Saya peduli dengan bangsa ini. Indonesia negara kaya, tetapi punya begitu banyak ketimpangan. Itulah yang membuat saya prihatin dan menggugah saya untuk terus menulis dan aktif di sana-sini. Demi bangsa ini,” kata Faisal.

***

Bagaimana caranya menjadi dosen teladan seperti Bapak? (Ahmad Yahya, xxx@gmail.com, Depok)

Saya mempersiapkan bahan pengajaran yang mutakhir, kaitkan teori dengan kenyataan sehari-hari. Ajak mahasiswa berpartisipasi aktif dengan lebih dulu memberikan bahan bacaan. Dorong mereka meningkatkan daya analitis dengan penugasan membuat makalah. Pacu keingintahuan mahasiswa dan asah sensitivitas mereka terhadap lingkungan sekitar. Jangan kikir berbagi ilmu. Berbahagialah jika murid kita lebih pandai dari gurunya. Itu tanda guru berhasil.

 

Sebagai ekonom, pendidik, dan politisi, apa pendapat Anda tentang rendahnya minat baca pelajar dan mahasiswa serta perkembangan industri penerbitan buku? Pemerintah harus buat program apa? (Evi Afrizal, Jakarta)

Minat baca dan kemampuan membaca menurun selama 2003-2012. Penyebabnya, metode pengajaran, kualitas guru, harga buku mahal, dan fasilitas perpustakaan tak memadai. Kita perlu meluncurkan gerakan membaca nasional. Pemerintah memberi insentif kepada pengarang. Bisa juga mempercepat dengan penyebaran e-book.

Bupati Wonosobo patut diteladani soal menggalakkan minat baca. Perpustakaan pemda di depan alun-alun kota dibanjiri ribuan pengunjung tiap hari.

 

Sebagai ekonom, alangkah bijaknya sebelum pemerintahan baru nanti, Anda memberikan pendapat dan buah pikiran untuk memperbaiki kehidupan bangsa, bagaimana pendapat Anda? (Lim Kwet Hian, xxx@yahoo.com)

Alhamdulillah, sudah. Tulisan-tulisan saya di Kompas, Kompasiana, dan di blog pribadi turut memberikan sumbangsih. Upaya itu insya Allah berlanjut, saya menulis buku tentang perekonomian Indonesia dari tinjauan ekonomi politik.

Tinjauan ekonomi konvensional semata tak cukup memahami dinamika perekonomian Indonesia. Saya terpanggil menguak ”pelaku di balik peristiwa” agar mendapat gambaran lebih utuh agar terkuak siapa musuh kita di balik selimut yang selama ini ”“merampok” kekayaan nasional.

 

Apa yang harus diperhatikan masyarakat agar bisa memilih dengan bijak di Pilpres 9 Juli? (Vianelda Loreta Liyn, Tangerang)

Cermati sosoknya, rekam jejaknya, serta janjinya. Jika selama ini di dalam pusaran kekuasaan, tetapi tidak berbuat apa-apa dan kini mengumbar janji yang nyata-nyata tidak dia perbuat atau gagal mewujudkannya ketika punya otoritas, itu namanya calon pemimpin pembual. Jangan terbuai janji muluk, tetapi tak realistis. Belum berkuasa saja sudah memanipulasi data dan informasi, bahkan berbohong, bagaimana nanti kalau berkuasa?

 

Apa pendapat Anda tentang dua pasang capres-cawapres kita? Mengapa tak ada calon independen? (Samuel, xxx@yahoo.co.id)

Semoga kita bakal memiliki pemimpin terbaik dari yang ada. Jangan berhenti setelah memilih. Tanggung jawab kita terus memastikan pemimpin pilihan kita menjalankan agenda rakyat, memenuhi janji kampanye. Pembangunan tak hanya bergantung pada pemerintah dan DPR. Kekuatan masyarakat sipil amat menentukan. Kalangan kampus, LSM, dan media massa menjadi pilar ketiga.

Kita manfaatkan modal reformasi yang membawa kita ke alam kebebasan dengan penuh pengorbanan, menjadi kekuatan utama mengokohkan otonomi individual dan kelompok menjadi insan yang unggul dan bermartabat. Kebebasan yang dibingkai institusi politik dan ekonomi inklusif.

Apalagi memasuki periode bonus demografi yang berlangsung hingga tahun 2030. Momentum ini harus mampu kita manfaatkan untuk mengakselerasi pembangunan, memerangi kemiskinan, dan menciptakan lapangan kerja bermutu.

 

Mengapa Anda memihak salah satu capres? (Martogi, Deli Serdang, Sumatera Utara)

Hidup ini harus memilih. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Sebelum memilih, himpun informasi dan berdialog dengan hati nurani. Bukan untuk kebaikan kita saja, melainkan kemaslahatan rakyat, bangsa, dan negara.

Kita bentangkan tantangan negara ini ke depan, analisis figur seperti apa yang paling cocok untuk menakhodai biduk menuju cita-cita kemerdekaan. Jangan lupa menyelisik rekam jejak calon pemimpin. Pergantian pemimpin nasional amat menentukan perjalanan bangsa kita, jangan sampai kita mundur kembali dan konsolidasi demokrasi mandek.

 

Sistem ekonomi apa yang cocok diterapkan di Indonesia? (Nanda Akhmad, xxx@yahoo.com)

Sistem ekonomi gado-gado. Jika mengacu UUD 1945, Indonesia sejatinya menerapkan sistem ekonomi pasar sosial (epasos), bukan kapitalisme yang didorong sektor keuangan atau komunisme/sosialisme. Indonesia mengakui hak milik pribadi, dengan catatan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Mekanisme pasar menjadi panduan dan negara wajib mengendalikannya. Jadi bukan sistem pasar bebas. Negara menghadirkan sistem jejaring pengaman pasar dan perlindungan sosial. Kian lengkap jika pemerintah aktif mengurangi volatilitas perekonomian, antara lain dengan membentuk sovereign wealth funds.

 

Saya kagum terutama ketika Anda keluar dari partai yang Anda dirikan karena alasan ideologi. Apakah Anda akan masuk partai lagi, membuat partai baru, atau seperti sekarang? (Ahmad Yahya, Surabaya)

Kala keluar dari partai, saya terpikir mendirikan sekolah politik untuk menggembleng kader anak muda agar menjadi politisi bermoral, berkarakter, dan kental ideologinya, hingga kini belum terwujud. Baru sekadar memberi pelatihan dan diskusi di sejumlah tempat dan komunitas. Tak perlu semewah sekolah politik di Jepang karya pendiri Panasonic, Konosuke Matsushita. Sekolah itu, Institute of Government and Management, menghasilkan politisi muda progresif.

Kita dorong terus anak muda melakukan pembaruan dari dalam partai. Generasi muda harus lebih berani menyampaikan pandangan subyektifnya karena merekalah yang akan lama menapaki Indonesia kelak.

 

Siapa calon presiden yang memiliki visi dan program ekonomi yang lebih unggul pada Pilpres 2014? (Hilmy Konstantinus Deo Amal, Pomalaa, Sulawesi Tenggara)

Tengok visi misi pasangan nomor 1 mengedepankan MP3EI yang banyak mengandung sesat pikir. Apakah hendak dilanjutkan? Pertumbuhan di atas 10 persen, fondasi kita belum sanggup mengejarnya. Benahi dulu landasannya, luruskan yang bengkok-bengkok, campakkan pemburu rente. Saya melihat program pasangan nomor 2 lebih membumi dan berupaya meluruskan yang bengkok. Misalnya, mengedepankan kualitas pertumbuhan dan menekan ketimpangan.

 

Apa sebabnya pada Ramadhan dan menjelang Lebaran, harga kebutuhan pokok selalu naik? Mengapa setiap liburan sekolah dan Tahun Baru, tarif angkutan naik? (Syafruddin AL, Bogor)

Bukan menjelang Ramadhan dan Lebaran saja harga naik. Kenaikan harga lebih parah karena kenaikan harga BBM bersubsidi dan faktor cuaca atau musim. Selain itu, inflasi saat Ramadhan dari tahun ke tahun kian rendah. Harga beberapa jenis barang naik tajam saat Ramadhan, tetapi terbatas komoditasnya, seperti daging, telur, dan cabai. Mayoritas fast moving consumer products tidak naik, cenderung turun karena perang diskon.

Tarif angkutan naik tajam karena fenomena mudik, tetapi itu tak hanya terjadi di Indonesia. Rata-rata inflasi selama Ramadhan hampir selalu satu digit. Seharusnya pemerintah belajar untuk meredam kenaikan harga selama Ramadhan dan mampu mengantisipasinya, benahi sistem logistik.

 

Bagaimana konsep Anda agar bangsa Indonesia tak lagi kesusahan? (Bagus Priambodo, Surabaya)

Di banyak negara akses terhadap pendidikan dan kesehatan terbukti ampuh meningkatkan mobilitas vertikal. Saya dan banyak dari generasi saya menikmatinya walau kami tak berada. Dalam satu dekade terakhir, hasil survei PISA-UNESCO, kinerja pendidikan kita mengalami deselerasi (kemunduran). Pendidikan berkualitas kian mahal dan kian sulit diakses rakyat kekurangan.

Untuk kesehatan, indikator kunci (seperti tingkat imunisasi) masih di bawah standar WHO. Harus ada perubahan mendasar untuk memacu pendidikan dan kesehatan agar tak tertinggal.

Negara harus menjamin rakyat tak terjerembap guncangan ekonomi dari dalam dan luar. Negara harus menghadirkan jejaring pengaman sosial atau sistem jaminan sosial universal. Di sini ada Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), tetapi hanya untuk kesehatan. Empat pilar lainnya belum hadir. SJSN pun perlu diperkuat dengan sistem perlindungan sosial.

Bernegara tak boleh ugal-ugalan, kasihan rakyat yang daya tahannya pas-pasan. Ketika perekonomian cerah, menabung lebih banyak, sebagai bekal jika perekonomian merosot atau menghadapi krisis. Apalagi kita memiliki beragam sumber daya alam yang tak terbarukan, jangan dihambur-hamburkan generasi kini, generasi nanti pun berhak menikmatinya.

 

Dapatkah lima tahun ke depan Indonesia menjadi anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) lagi? (Lynda Widjanarko, Jakarta Selatan)

Hampir mustahil. Produksi awal 2014 di bawah 800.000 barrel per hari. Produksi merosot terus dari tingkat tertingginya 1,6 juta barrel per hari. Laju penemuan sumur baru lambat dan konsumsi BBM naik pesat. Sejak 2013, Indonesia defisit perdagangan minyak mentah. Untuk BBM, Indonesia puluhan tahun defisit. Kandungan minyak diprediksi cukup besar, terutama di laut dalam yang biaya produksinya tinggi.

Minyak bukan lagi komoditas energi, melainkan potensi kekuatan industri dan perekonomian. Bangun kilang secepatnya. Selain BBM, kilang menghasilkan kondensat yang menjadi bahan baku utama industri petrokimia. Industri petrokimia adalah ”ibu” dari industri yang memproduksi beragam barang dari kemasan plastik hingga obat sakit kepala. Harus ada kebijakan energi nasional yang mampu menghasilkan kemandirian energi serta industrialisasi yang kokoh dan berdaya saing.

 

Apa yang menjadi motivasi atau pengalaman Bapak untuk bangkit dari kesusahan? (Ceria Kristi Br Tarigan, Medan)

Kesulitan adalah cambuk untuk maju. Kemiskinan membawa pada kekufuran. Membahagiakan diri sendiri saja tak cukup. Puncak kebahagiaan kita nikmati ketika dapat membahagiakan banyak orang. Apalagi jika berhasil memberdayakan mereka. Kita tak perlu berbuat setelah berkuasa. Pada posisi apa pun dan di mana pun kita bisa bahu-membahu dengan lingkungan kita.

Saya belajar dari mereka yang tak berpendidikan tinggi. Ada Masril Koto dari Sumatera Barat, ada Mbak Mur dari Bantul. Mereka bukan orang kecukupan, tetapi tulus mengangkat kehidupan ribuan petani. Mereka tak punya modal intelektual konvensional atau modal finansial, tetapi kaya modal sosial. Pada tahap tertentu, dengan modal sosial yang kaya, mereka berhasil menghimpun modal intelektual dan finansial secara kolektif. Alangkah luar biasa jika kelak hadir pemimpin yang amanah dan mampu menggerakkan segala potensi bangsa untuk mencapai tujuan bersama.

 

Apa pendapat Anda tentang politik di Indonesia kini? (Frandom Telesonic John, Nusa Tenggara Timur)

Politik miskin ideologi, bahkan tak berani menyatakan ideologinya apa. Partai hanya punya asas. Tiada perbedaan signifikan antarpartai. Politisi dengan mudah berpindah partai. ”Koalisi” pun amat pragmatis, bukan berlandaskan kesamaan ideologi atau program. Saya masih berharap keadaan bakal membaik. Kuncinya tak hanya pada politisi dan partai poliitk, tetapi juga kita semua sebagai pemilih yang terus mengusung tanggung jawab merawat demokrasi, bukan menganggap setelah mencoblos urusan selesai.

 

Adakah kemungkinan capres nanti diusung masyarakat independen? (Guno Satwiko, Ngemplak, Sleman, DI Yogyakarta)

Kemungkinan selalu terbuka, walau jalan untuk capres independen perlu perjuangan lebih berat, mengubah pasal tentang capres di UUD 1945. Perubahan itu hanya bisa lewat MPR. Rakyat mayoritas, termasuk saya, masih berharap ada perubahan dalam perpolitikan kita. Rakyat berharap perubahan dari politisi dan partai politik. Harapan ini tecermin dari voter turnout pada pemilu April yang naik menjadi 75,1 persen, dari 70,1 persen pada pemilu sebelumnya. (TIA)

—————————————————————————

FAISAL BASRI

 

♦ Nama Lengkap: Faisal Batubara

♦ Lahir: Bandung, 6 November 1959

♦ Profesi: Dosen, Peneliti, Pengamat Ekonomi, Penulis

 

♦ Pendidikan:

• Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta (1985)

• Program Master Bidang Ekonomi Pembangunan, Vanderbilt University, Tennessee, AS (1988)

 

♦ Karier:

• Anggota Tim Perkembangan Perekonomian Dunia pada Asisten II Menko Ekuin (1985-1987)

• Sekretaris Program Pusat Antar-universitas Bidang Ekonomi UI (1991)

• Koordinator Bidang Ekonomi, Panitia Kerja Sama Kebahasaan Brunei-Indonesia-Malaysia (Mabbim) (1993-1997)

• Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEUI (1993-1995)

• Ketua Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan FEUI (1995)

• Expert dan Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) (1995)

• Tenaga Ahli Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Ditjen Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi (1995-1999)

• Research Associate dan Koordinator Penelitian Bidang Ekonomi, kerja sama penelitian Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia- University of Tokyo (1997-1998)

• Redaktur Ahli Koran Mingguan “Metro” (1999-2000)

• Ketua STIE Perbanas (2000-2003)

• Anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI (2000)

• Ketua Editor Jurnal Kebijakan  Ekonomi (JKE) diterbitkan Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FE UI (2005)

 

♦  Keluarga:

• Istri: Syafitrie

• Anak:

1. Anwar Ibrahim Basri

2. Siti Nabila Azuraa Basri

3. Muhammad Attar Basri

 

Sumber: Litbang ”Kompas”/DEW, dari pemberitaan media

Diunduh dari: http://print.kompas.com/2014/07/08/Kesulitan-adalah-Cambuk-untuk-Maju

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Sosok. Bookmark the permalink.

One Response to Faisal Basri: Kesulitan adalah Cambuk untuk Maju

  1. Pingback: leoyuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s