Sidang Century: Opini Ekonom Terbelah Soal “Bail Out”


Kompas, Rabu, 28 Mei 2014

Pada persidangan kasus Bank Century dengan terdakwa mantan Deputi Gubernur BI Budi Mulya, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/5), penasihat hukum terdakwa yang dipimpin Luhut MP Pangaribuan menghadirkan ekonom Faisal Basri sebagai saksi ahli.

Ekonom Universitas Indonesia itu merupakan ekonom kelima yang dihadirkan sebagai saksi ahli. Empat ekonom yang dihadirkan pada persidangan sebelumnya adalah Kwik Kian Gie, Hendri Saparini, Ichsanuddin Noersy, dan Sigit Pramono.

Dalam penjelasannya kepada majelis hakim yang diketuai Hakim Afiantara, Faisal mengatakan, pada November 2008, Indonesia terancam krisis keuangan sebagai imbas krisis global yang berpusat di Amerika Serikat.

Mengantisipasi dampak krisis, sejumlah negara tetangga Indonesia menerapkan penjaminan penuh atau blanket guarantee. Tujuannya, agar dana tidak ditarik dan dipindahkan nasabah ke bank di negara lain yang dianggap lebih aman.

Namun, Indonesia cuma menerapkan penjaminan terbatas atas simpanan nasabah di bank (maksimal Rp 2 miliar). ”Saat itu, menteri, Bank Indonesia, dan instansi terkait setuju blanket guarantee. Namun, Wapres Jusuf Kalla menolak,” katanya.

Akibatnya, kata Faisal, banyak dana dari Indonesia dilarikan ke negara, seperti Singapura, yang menerapkan blanket guarantee. Dalam suasana seperti itu, menurut Faisal, jika Bank Century tidak diselamatkan, dikhawatirkan memicu penarikan dana yang lebih besar sehingga akan menyebabkan krisis makin dalam.

Pendapat senada dikemukakan oleh Ketua Perhimpunan Bank-Bank Nasional Sigit Pramono yang juga dihadirkan sebagai saksi ahli oleh penasihat hukum terdakwa.

Pendapat berbeda Kwik

Namun, pandangan Faisal dan Sigit berbeda dengan pandangan saksi ahli Kwik Kian Gie, Hendri Saparini, dan Ichsanuddin Noersy, yang dihadirkan jaksa.

Ketiganya berpendapat bahwa pada November 2008 tidak terjadi krisis. Buktinya kondisi ekonomi dan perbankan tahun 2008 tetap bagus, sangat jauh dibandingkan krisis 1997-1998.

Angka rasio kecukupan modal industri perbankan pada 1997 adalah minus 15 persen, sementara tahun 2008 positif 17 persen. Rasio kredit bermasalah perbankan pada 1997 mencapai lebih dari 50 persen, sementara pada 2008 di bawah 5 persen. Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia tahun 1997 mencapai 40 persen, sementara tahun 2008 sekitar 12 persen.

Oleh karena itu, ketiganya berpendapat Bank Century sudah selayaknya ditutup. Apalagi, bank tersebut kolaps karena tindak kriminal pemiliknya sendiri, Robert Tantular. (faj)

Diunduh dari: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006869984

Untuk melihat kesaksian saya di pengadilan Tipikor, 26 Mei 2014, bisa diunduh di:  http://wp.me/p1CsPE-Wo

 

 

1 Comment

  1. Sebagai orang awam (bukan orang ekonomi atau hukum), kasus Century benar-benar membuat saya merasa kehilangan karena banyak kasus penting tiba-tiba lenyap dari fokus liputan media (rekayasa dalam kasus Antasari atau soal Lapindo, misalnya). 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: