Konsumen Inovasi dan Nasionalisme


Kita mendambakan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam kancah pergaulan dunia. Menjadi bangsa yang bermartabat dan berkepribadian, berdaulat dan mandiri. Menjadi bangsa yang unggul. Tidak harus unggul dalam segala hal. Setidaknya, unggul dalam bidang-bidang yang kita memiliki potensi relatif besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan sesuai dengan modal dasar yang kita miliki. Itulah nasionalisme yang azali.

Bermodalkan semangat semata tidaklah cukup. Kerja keras jadi kuncinya, menghasilkan inovasi yang meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan, yang berkeadilan.

Kita patut prihatin semakin terbenam sebagai konsumen teknologi. Inovasi sangat kering. Pada tahun 2011, aplikasi patent (patent applicatons) kita sangat sedikit, hanya 0,13 persen dari aplikasi paten oleh China. perkembangan aplikasi paten Indonesia yang bergaris merah terputus pada tahun 2007 dan 2008 karena data tidak tersedia.

Kini China telah menjadi negara pengekspor terbesar di dunia. penopang utamanya bukan kekayaan sumber daya alam dan upah buruh murah, melainkan kandungan teknologi yang melekat dalam produk-produk ekspor mereka.

Sebagaimana diungkapkan oleh Arthur Lewis (1977), perdagangan bukanlah mesin pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan. Perdagangan internasional hanya wadah atau medianya:

“International trade became the engine of growth in the 19th century …. but the engine of growth should be technological change, international trade serving as lubricating oil and not as fuel ….. trade cannot substitute for technological change, so those who depend on it as their major hope are doomed to frustration.”

patent

Kinerja inovasi Indonesia lebih memprihatinkan untuk teknologi masa depan seperti biotechnology, nanotechnology, ICT, dan green technology, sebagaimana diungkapkan  Gindo Tampubolon pada akhir Maret dalam seminar yang diselenggarakan oleh PPI-Leeds.

Untuk memacu inovasi, kuncinya adalah pada kualitas sumber daya manusia, terutama pendidikan dan kesehatan. Bagaimana mungkin memacu inovasi jika kinerja pendidikan kita sangat buruk dan cenderung mengalami stagnasi. Berdasarkan PISA survey terakhir tahun 2012, Indonesia berada di urutan ke-64 dari 65 negara yang disurvei, kedua terbawah. Survey yang dilakukan oleh OECD ini bisa dikatakan yang paling kredibel dan komprehensif. Dibandingkan dengan Malaysia dan Vietnam pun, Indonesia tertinggal.

pisa

Kenyataan ini sejalan dengan urutan Indonesia dalam Global Innovation Index yang juga tercecer.

gii

Sehingga, tak heran jika kwaci pun sekarang sudah kita  impor.

kwaci

Dalam hal indicator kesehatan dasar pun kita sangat mengecewakan. Walaupun sudah memperoleh bantuan teknis puluhan tahun, tingkat imunisasi menyeluruh maupun DPT3 sampai tahun 2012 masih di bawah ambang batas WHO. Kualitas sumber daya manusia seperti apa yang bakal menjadi penopang pembangunan kalau kondisinya seperti ini?

Tak heran indikator kesehatan kita seburuk seperti tertera di bawah.

health-02

Nasib bangsa kita tidak akan berubah kecuali kita sendiri yang mengubahnya. Tidak ada kata terlambat.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s