Saatnya Ikut Torehkan Perubahan dengan Tidak Golput


Banyak sahabat dan handai tolan yang mengatakan pada saya tidak akan menggunakan hak pilihnya alias golput. Ada yang sudah bulat tidak ingin ke tempat pemungutan suara (TPS). Ada pula yang berniat ke TPS tetapi akan merusak surat suara, misalnya dengan mencoblos semua partai politik peserta pemilu.

Partisipasi dalam pemilu legislatif mengalami penurunan dalam dua pemilu terakhir. Angka tertinggi terjadi pada pemilu 1999, yaitu sebesar 93,3 persen. Lalu turun menjadi 84,9 persen pada pemilu 2004 dan turun tajam menjadi 70,9 persen pada pemilu 2009. Sebagai perbandingan, pemilu 1955 tingkat partisipasinya sebesar 87 persen.

Jika tingkat partisipasi pada pemilu 2014 turun, apalagi turun tajam–katakanlah menjadi 65 persen–maka ada peluang yang meredup untuk menguakkan perubahan dalam perjalanan Bangsa ini.

Pada umumnya yang tak mau menggunakan hak pilihnya adalah orang yang terkikis asanya bagi perubahan Negeri atau merasa satu suara yang dimilikinya tidak ada artinya apa-apa untuk mengobarkan api perubahan. Mereka memandang partai-partai dan para calegnya tak memberi harapan, buruk semua. Jadi sama saja memilih atau tidak memilih.

Sekecil-kecilnya peluang bagi perubahan ke arah yang lebih baik, ada baiknya dimanfaatkan. Bayangkan kalau yang golpout mencapai sekitar sepertiga dari seluruh warganegara yang memiliki hak pilih, berarti kita kehilangan sepertiga pemilih yang sebetulnya berpeluang menorehkan perubahan. Jika mereka tidak golput, mereka punya kesempatan memilih caleg dan partai yang lebih baik di antara yang buruk-buruk. Jika mereka golput, berarti peluang caleg dan partai yang lebih baik, yang memberikan harapan sekecil apa pun, akan meredup. Sebaliknya, caleg dan partai paling “busuk” punya kesempatan lebih besar untuk menang.

Kedua, besarnya perolehan suara partai menentukan  calon presiden dan wakil presiden. Hanya partai yang memiliki kursi 20 persen di DPR atau memperoleh 25 persen suara sah yang dapat mencalonkan presiden dan wakil presiden tanpa harus berkoalisi. Jika kita sudah mulai memiliki preferensi calon presiden mana yang terbaik, maka dukunglah partai yang mengusungnya pada pemilu 9 April 2014. Pilihan golput justru mempersulit bakal calon kita untuk terus maju pada pemilihan presiden.

Semakin banyak perolehan kursi DPR atau perolehan suara sah dari partai yang mengusung calon presiden yang kita favoritkan, semakin sedikit partai yang perlu diajak “koalisi” dalam membentuk pemerintahan. Dengan begitu diharapkan pemerintahan lebih kuat dan efektif.

Jika orang-orang baik berdiam diri saja, tak mau melangkahkan kakinya ke TPS, maka asa sangat boleh jadi kian terkikis. Dan, peluang orang-orang jahat berkuasa semakin besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s