Faisal Basri: Bailout Bank Century Keputusan yang Tepat

Sabtu, 15 Februari 2014 , 20:16:00 WIB

Laporan: Samrut Lellolsima

RMOL. Pengamat ekonomi Faisal Basri buka suara seputar kondisi ekonomi tahun 2008, dalam mengantisipasi krisis yang terjadi saat itu. Faisal mengungkapkan adanya informasi yang tidak lengkap menyusul krisis yang terjadi pada saat itu, seolah-olah pemberian bantuan likuiditas hanya dilakukan pada satu bank saja, yaitu Bank Century.

“Informasi juga tidak lengkap ya. Jadi seolah-olah yang mengalami itu hanya Century,” kata Faisal Basri dalam diskusi “Menguak Kebenaran: Siapa Paling Bertanggung Jawab Atas Century” di Jakarta, Sabtu (15/2).

Padahal, lanjutnya, waktu itu industri perbankan mengalami masalah kekeringan likuiditas dan pinjaman antar bank terganggu. Jadi bank-bank yang kekurangan likuiditas sulit sekali memperoleh likuiditas dari bank lain lewat pinjaman antar bank.

“Hingga bank sebesar Bank Mandiri, BRI dan BNI waktu itu dapat suntikan masing-masing Rp 5 triliun, jadi Rp 15 Triliun. Itu bank sehat semua tapi kan ada persoalan likuiditas jangka pendek yang mana untuk itu pinjaman antar bank tidak normal,” terangnya.

Menurut Faisal, pemberian bailout bagi Bank Century pada saat itu adalah keputusan yang tepat karena tidak ada blanked guarantee pada waktu itu seperti yang dilakukan negara tetangga seperti Singapura. Waktu itu tidak diterapkan blanked guarantee karena Wapres Jusuf Kalla menolaknya.

The only solution buat Century yang mengalami masalah itu adalah diselamatkan karena berpotensi menimbulkan efek merembet dan kepanikan perbankan. Jadi kebijakan itu sudah benar untuk mengantisipasi krisis,” tegasnya.

Oleh karena itu, Faisal Basri menilai pemanggilan Wakil Presiden Boediono hanya dijadikan ajang panggung politik oleh Tim Pengawas Kasus Century DPR. Padahal, proses hukum dari kasus Century ini tengah berjalan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ini kan ada satu perkembangan yang unik ya menurut saya, proses hukum sudah berjalan sebentar lagi ada di pengadilan Tipikor, kemudian manggil-manggil wapres mau apa lagi gitu kan, datangi tokoh mau apa sih, mau apa, mereka sudah mempunyai kekuasaan politik,” tutupnya. [zul]

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s