Faisal Basri: FTZ Batam mengecewakan


www.antaranews.com, Selasa, 11 Februari 2014 18:33 WIB

“Kok keterbukaan Kepri jadi seperti ini. Seharusnya pertumbuhan ekspor lebih dari impor.”

Batam (ANTARA News) – Pengamat ekonomi, Faisal Basri, menilai pelaksanaan Kawasan Perdagangan Bebas (free trade zone/FTZ) Batam, Bintan dan Karimun di Provinsi Kepulauan Riau mengecewakan, karena pertumbuhan ekonominya justru didukung sektor konsumsi, dengan nilai ekspor lebih rendah dibanding impor.

“Kok keterbukaan Kepri jadi seperti ini. Seharusnya pertumbuhan ekspor lebih dari impor,” kata Faisal Basri usai Seminar Nasional Pemberdayaan UMKM Sektor Kelautan dan Perikanan dengan Pendekatan Ekonomi Biru, di Batam, Selasa.

Dari data Bank Indonesia, ia menyebutkan nilai ekspor di Kepri minus, menandakan lebih besar impor ketimbang ekspor. Padahal, awalnya Kepri diharapkan dapat menjadi pusat industri yang hasilnya diekspor ke luar negeri.

Kepri hanya menjadi industri “tukang jahit”, hampir seluruh komponen produksinya diimpor dari luar, kemudian dirakit di Batam, lalu diekspor kembali, sehingga nilai impor lebih tinggi ketimbang ekspor.

Selain itu, berbagai kebebasan pajak impor yang diminta oleh pemerintah Kepri dan Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun justru mendorong masyarakat lebih konsumtif.

“Kepri minta KEK (kawasan ekonomi khusus-red) buat senang-senang. Bukan buat produksi, tapi konsumsi. Dosa kalau gitu,” kata dia.

Masih dari data BI, ia menyebutkan pertumbuhan konsumsi di Kepri di atas 10 persen, di atas pertumbuhan konsumsi nasional yang hanya sekitar lima persen tiap tahun. Pertumbuhan ekonomi Kepri yang di atas laju ekonomi nasional juga disebabkan dari faktor konsumsi, bukan produksi.

“Kepri sudah seperti China, di dunia ini, pertumbuhan konsumsi yang di atas 10 persen hanya China dan Kepri,” kata dia.

Secara investasi, ia mengatakan sepanjang 2013, pertumbuhan ekonomi di Kepri tidak tumbuh. “Investasi PMA flat,” kata dia.

Sementara untuk mengembalikan perekonomian FTZ Batam kembali sesuai yang diharapkan, ia mengatakan pemerintah sebaiknya fokus pada kelebihan-kelebihan Batam, seperti lokasinya yang strategis dan kekuatan maritimnya.

“Batam sangat menarik karena lokasinya menarik dekat dengan Singapura, manfaatkan apa yang dibutuhkan Singapura,” kata dia.

Untuk Kepri, kata dia, harus dikembalikan ke jati dirinya, sebagai provinsi kepulauan yang berada terdepan, paling dekat pusat perekonomian dunia seperti Singapura dan China. “Penetrasi ekspor, andalkan kelautan,” kata dia.

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/418461/faisal-basri-ftz-batam-mengecewakan#.Uv-ynW3Dc0U.twitter

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

4 Responses to Faisal Basri: FTZ Batam mengecewakan

  1. ishaksomantri@gmail.com says:

    Kalau begini bang faisal serahkan saja pengelolaaaan kep riau ama singapura silahkan bangu sesuai dengan format singapura dan kasih konsesi selama 50 tahun dan kita dapatkan pajak tahunan sebesar 200 trilyun daripada dikelola sama koruptor , dan danannya dipakai membanun fasilkitas buat rAkyat kecil …….harus tega daripada dikelola oleh koruptor
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

  2. Antok says:

    Saya tinggal di Batam, kadang2 sedih lihat tumpang tindih birokrasi untuk pulau sekecil batam. Tp inilah efek reformasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s