Geliat Ekonomi 2014

Apakah pesta kembang api dan dentuman mercon yang mengharu biru pada penutupan tahun 2013 bisa menjelma sebagai gairah baru tahun 2014? Apakah keriangan masyarakat menyongsong tutup tahun merupakan pertanda optimisme menapaki hari-hari baru walaupun  tampaknya tak akan lebih sepi dari tantangan? Apakah gelombang pelancong yang memadati obyek-obyek wisata di Tanah Air yang semakin membludak bakal menjelma sebagai kekuatan tak terbendung dalam menopang pertumbuhan ekonomi?

Memang, yang kita saksikan lebih mencerminkan dinamika masyarakat strata menengah. Mayoritas mereka adalah strata menengah-bawah yang sudah mampu mencicil sepeda motor. Walaupun Bank Indonesia memperketat persyaratan uang muka kredit sepeda motor, penjualan sepeda motor hanya turun sebentar. Pada bulan Juli 2013 penjualan sepeda motor mencapai rekor penjualan bulanan tertinggi. Rekor itu pecah lagi pada Oktober 2013. Strata menengah-tengah pun membesar. Mereka mampu membeli mobil 1.500 cc ke bawah. Penjualan mobil “LCGC” dalam tiga bulan (September-November) 2013 laris manis, mencapai 36.907 unit, gara-gara dopping pemerintah berupa pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Lebih-lebih lagi kelompok menengah-atas dan kelompok superkaya, tak terperikan.

Puluhan pengusaha yang kami ajak berdiskusi di berbagai kota besar tak satu pun yang pesimistik, mereka akan terus melakukan ekspansi usaha. Mereka menggeluti beragam usaha: properti, hotel, perdagangan, restoran, transportasi, telekomunikasi, perkebunan, dan industri manufaktur. Boleh jadi yang kami jumpai tidak mencerminkan populasi, tetapi setidaknya kami tidak menjumpai seorang pun yang pesimistik memasuki tahun 2014.

Boleh saja Bank Indonesia menekan target pertumbuhan kredit menjadi 15-17 persen untuk tahun 2014, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 23 persen pada bulan September 2013. Sepanjang prospek usahanya bagus, kondisi keuangan perusahaan debiturnya sehat, dan proses penyaluran kreditnya memenuhi ketentuan, perbankan tetap cukup leluasa menyalurkan kredit.

Bukankah jadi aneh kalau investasi domestik diperketat sedangkan investasi asing didorong terus? Pemerintah kian membuka lebar-lebar kehadiran investor asing, bahkan di sektor-sektor yang selama ini dipandang strategis. Bukankah dampak peningkatan investasi terhadap pemburukan akun semasa (current account) berpotensi lebih besar dari investasi asing ketimbang investasi dalam negeri atau domestik?

Pemerintah sepatutnya tidak diskriminatif, bahkan sepatutnya lebih mengedepankan potensi domestik.

Kalau defisit akun semasa jadi momok dan pemerintah sudah sangat sadar penyebab utamanya, lakukanlah segala cara untuk menyelesaikan akar masalahnya. Apa lagi kalau bukan dengan menggenjot ekspor nonmigas dan mereformasi sektor migas. Niscaya bisa, dengan kerja keras dan terbebas dari cengkeraman kelompok-kelompok kepentingan pemburu rente.

Daya gunakan seluruh potensi yang kita miliki untuk menggenjot ekspor nonmigas. Deklarasikan tahun 2014 sebagai tahun diplomasi dagang. Seluruh jajaran Kementerian Luar Negeri berada di jajaran terdepan sebagai ujung tombak perluasan dan pendalaman pasar ekspor. Dukung sepenuhnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) membuka pasar luar negeri. Tugaskan maskapai penerbangan milik negara mengangkut produk-produk UKM dengan potongan harga dan pelayanan lebih baik. Dorong perusahaan perdagangan milik negara menjadi trading house bagi UKM. Tingkatkan anggaran untuk promosi dan bantuan teknis agar produk-produk UKM memenuhi standar internasional.

Banyak UKM dimotori pengusaha dan profesional muda. Kreativitas mereka luar biasa. Brownies kukus merek Amanda, misalnya, telah menembus pasar Asean, bahkan sedang merintis pasar Korea dan Timur Tengah.

Kolaborasi UKM dengan korporasi besar juga sudah menunjukkan hasil membanggakan. Radio transistor “jadul” disulap dengan kemasan industri kreatif bermotif budaya Nusantara. Radio transistor menjelma sebagai hiasan interior di ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang kerja. Juga kolaborasi batik Iwan Tirta dengan pengusaha UKM yang menghasilkan keramik. Dengan mengeksploitasi keunikan kekayaan Nusantara, keramik kita niscaya bisa memiliki tempat di mata konsumen global di tengah dominasi keramik bermotif Tiongkok buatan China yang sudah merupakan tradisi ribuan tahun di negeri tirai bambu itu.

Defisit perdagangan nonmigas terbesar Indonesia adalah dengan China. Mengapa China cuma jadi momok? Mengapa Negara Asean lain menikmati suplus perdagangan dengan China? Saatnya tahun 2014 menjadikan China sebagai target ekspansi ekspor Indonesia. Pasar dengan penduduk 1,3 miliar seharusnya menjadi potensi pasar yang menggiurkan bagi beragam produk Indonesia. Bukan hanya produk tambang dan mineral, tetapi juga berbagai produk manufaktur. China memiliki 23 provinsi dengan karakteristik pasar yang berbeda-beda. Pemerintah perlu membantu pemetaan pasar China untuk memudahkan penetrasi pasar bagi produk-produk ekspor Indonesia.

Semoga pemilihan umum terselenggara dengan lancar dan menghasilkan pemimpin yang sesuai dengan harapan rakyat kebanyakan. Sang pemimpin baru itu yang diharapkan bakal mampu menghimpun potensi yang selama ini berserakan dan merajutnya menjadi kekuatan nyata.

Oleh karena itu, cukup banyak alasan untuk menapaki tahun 2014 dengan penuh optimisme.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional, Makroekonomi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s