Faisal Basri Sang Pendobrak

ImageReportase24.com, 24 Oct 2013 // SelisikSosok

Reportase24.com -Jakarta- Faisal Basri adalah sosok tokoh Indonesia yang memiliki wajah beragam. Selain di kenal sebagai ekonom senior, ia juga di kenal publik sebagai aktivis, penulis dan politisi. Kiprah dan sepak terjangnya hampir selalu disorot oleh publik, sebab di samping ide serta gagasannya selalu segar. Lelaki kelahiran Bandung 6 November 1959 ini, juga sangat kuat dalam menjaga prinsip terkait kebenaran yang di yakini, kendati harus dimusuhi oleh banyak orang.

Pergolakan politik 1998, ekonom UI tersebut, juga mempunyai andil besar dalam menggulingkan rezim otoriter Orde Baru. Ia bergabung di Majelis Amanat Rakyat(MARA), salah satu organ gerakan reformasi yang menuntut Soeharto turun. Beserta tokoh nasional seperti Amin Rais, Goenawan Mohammad, Rizal Ramli, Emil Salim dan lainnya, MARA kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Partai Amanat Nasional(PAN).

Di PAN, beserta 7 tokoh lainnya, ia merupakan salah satu tokoh yang merumuskan platform dan garis haluan partai. Ayah dari 3 anak ini kemudian didapuk sebagai Sekretaris Jenderal serta Amin Rais sebagai Ketua Umum. Meski kemudian mengundurkan diri karena alasan terjadinya perubahan asas dan haluan partai, tapi aktivitas gerakan sama sekali tidak.

Selain kembali sebagai akademisi, ia selanjutnya aktif di gerakan masyarakat sipil. Jiwa aktivisnya terus bergelora yang tercermin dari beragam kegiatan, misalnya, aktif dalam gerakan ekstraparlementer, produktif menyumbangkan pemikiran melalui kajian dan analisisnya sebagai koreksi disamping berfungsi sebagai masukan bagi rezim penguasa.

Bersama beberapa tokoh muda, seperti: Budiman Sudjatmiko, Arie Sujito, Faisol Reza, Ade Indira Damayanti di tahun 2004 mendeklarasikan ormas Pergerakan Indonesia. Salah satu cita-cita dari Pergerakan Indonesia, antara lain bertujuan melahirkan kader-kader politik yang mempunyai jiwa negarawan. Faisal juga berharap melalui ormas tersebut dapat menyemai bibit-bibit muda yang kelak akan melahirkan pemimpin-pemimpin pro rakyat.

Pilkada DKI Jakarta 2012, peraih penghargaan “Pejuang Anti Korupsi 2003,” yang diberikan oleh Masyarakat Profesional Madani (MPM) tersebut juga tidak berpangku tangan. Ia kemudian di usung oleh kalangan masyarakat sipil maju sebagai calon gubernur melalui jalur independen. Pilihan jalur independen tentu bukan tanpa dasar alasan. Sebagai politisi yang pernah mendirikan partai, ia paham betul bahwa kehidupan parpol di Indonesia tidaklah berjalan sehat. Karena itu, dalam bahasa dia, perlu ‘sabuk pengaman demokrasi’ agar parpol segera berbenah dan menjalankan fungsinya sebagai penyalur aspirasi rakyat.

Karena itu, pilihan jalur independen merupakan cara untuk memperbaiki kehidupan partai agar segera berbenah dan mengorientasikan tujuan-tujuan politiknya hanya untuk masyarakat meski tidak meraih kemenangan, tapi capain suara yang bisa mengalahkan pasangan calon yang di usung dari parpol adalah prestasi besar.

Selain itu, yang paling penting, Faisal Basri beserta teamnya telah mampu memperagakan politik yang bermartabat, murah dan menempatkan warga sebagai subjek politik. Karena hanya ingin mengabdi pada warga, ia menggalang dana melalui saweran warga karena tidak mau ketika memimpin di sandera.  Bahkan, majunya dari jalur independen dalam pilkada DKI Jakarta 2012, oleh salah satu koran nasional di nilai memiliki kontribusi besar bagi perubahan di Tanah Air.

Kesuksesan ekonom ini dalam perhelatan pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2012 dinilai layak serta pantas. Menurut pandangan beberapa tokoh, tekad yang kuat serta keberaniannya untuk terus melaju melalui jalur independen dianggap mampu memberikan inspirasi sekaligus pendidikan politik yang baik bagi warga dan berhasil merubah konstelasi politik yang cenderung stagnan dan kian pragmatis. Terlebih saat itu Faisal kerap mendapat cibiran dari sebagian kalangan yang meragukan kemampuannya untuk bisa bersaing dengan calon gubernur lain.

Lelaki yang suka membawa tas ransel itu juga telah mendapat tempat di hati masyarakat. Bahkan, menurut koran ternama di Jakarta, banyak kalangan menilai Faisal Basri merupakan pemain penting dalam menggiring kemenangan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok).

Analisisnya, jika calon yang maju hanya pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke- Nara), Alex Noerdin-Nono Sampono (Alex- Nono), Jokowi-Ahok, sangat mungkin kemenangan akan diraih Foke. Semua parpol diprediksi bakal merapat ke Foke seperti pada pilgub sebelumnya.

Melihat rekam jejaknya, nampaknya Faisal Basri adalah sosok yang selalu menjadi pendobrak kejumudan. Gelora perbaikan dan perubahan selalu menyatu dalam satu tarikan napas serta menjadi tindakan aksi hampir di semua waktu dan kesempatan. Sebagai intelektual, keprihatinan atas kondisi bangsa tidak hanya ditumpahkan melalui kajian-kajian dan penelitiannya, melainkan di manifestasikan menjadi gerakan nyata secara terus-menerus agar perubahan ke arah yang lebih baik segera terwujud sebagaimana cita-cita para founding father.

[Arif Nurul Imam/R24]

Sumber: diunduh dari http://www.reportase24.com/faisal-basri-sang-pendobrak/

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in News, Sosok. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s