Perekonomian Timor-Leste tak ada apa-apanya dibandingkan Indonesia. Negeri yang sempat menjadi bagian dari Indonesia ini berpenduduk 1,2 juta (Indonesia 246,9 juta). Produk Domestik Bruto (PDB) Timor Leste berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) hanya 2,1 miliar dollar AS (Indonesia 1,2 triliun dollar AS). PDB per kapita berdasarkan PPP Timor-Leste 1.709 dollar AS (Indonesia 4.956 dollar AS).

Ekspor andalan nonmigas hanya kopi. Pantas saja kalau impor Timor-Leste lebih besar ketimbang ekspor. Namun, akun semasa (current account) Timor-Leste surplus karena penghasilan ekspor minyaknya dicatat sebagai pendapatan di akun semasa (Indonesia mengalami defisit akun semasa). Minyak menjadi berkah bagi perekonomian Timor-Leste, sedangkan bagi Indonesia sudah menjadi “kutukan”.

Mengapa minyak menjadi berkah bagi Timor-Leste? Karena pemerintahnya bijak bestari, tidak memperlakukan penghasilan minyak sebagai hak generasi sekarang semata dan dihambur-hamburkan. Harga BBM di Timor-Leste tidak disubsidi, sehingga generasi sekarang tidak merampok hak generasi mendatang. Hujahnya sederhana, karena minyak adalah sumber daya tak terbarukan (nonrenewable resources), sehingga harus dikelola bagi kemaslahatan generasi mendatang juga.

Penghasilan dari minyak dimasukkan ke Petroleum Fund yang dikelola oleh bank sentral Timor Leste, tidak dimasukkan ke dalam APBN dan dihabiskan pada tahun itu juga seperti di Indonesia. Bahkan, pendapatan minyak Indonesia yang diperoleh dari bagi hasil minyak dan pajak keuntungan perusahaan minyak lebih kecil dari subsidi BBM, sehingga APBN sektor minyak tekor.

Petroleum Fund Timor-Leste pada akhir Juli 2013 berjumlah 14 miliar dollar AS, meningkat dari 11,8 miliar dollar AS pada akhir 2012. Jadi, hanya dalam waktu tujuh bulan, Petroleum Fund meningkat 2,2 miliar dollar AS. Di Indonesia yang meningkat adalah impor minyak mentah dan BBM serta dampaknya terhadap defisit transaksi perdagangan, defisit akun semasa, dan pelemahan rupiah.

Pemerintah Timor-Leste baru menarik 180 juta dollar AS dari Petroleum Fund yang disalurkan ke Kementerian Keuangan.

Kebijakan pemerintah Timor-Leste sejalan dengan roh Surat Yusuf dalam Al-Qur’an (QS12:47): “Yusuf berkata: supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Boro-boro menabung untuk hari depan yang serba tak pasti dan niscaya akan hadir masa paceklik (perlambatan pertumbuhan ekonomi seperti sekarang dan kemerosotan ekonomi atau resesi), pemerintah Indonesia mengumbar segala sumber daya untuk memanjakan rakyatnya “minum” BBM sepuasnya. Bahkan terus disuruh minum lebih banyak dengan kehadiran “mobil murah ramah lingkungan” (LCGC).

[Tulisan ini menggunakan data dari publikasi World Bank, “Rebuilding Policy Buffers, Reinvigorating Growth,” East Asia and Pacific Economic Update, October 2013; dan terinspirasi oleh tulisan Budi Hikmat, “Revitalisasi Demokrasi untuk Menangkal Jebakan Kelas Menengah (forcoming).]