Semua Prediksi Kerek Turun Pertumbuhan Indonesia

APBN 2013 mematok sangat tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2013, yaitu 6,8 persen. Lalu pemerintah dan DPR mengoreksi menjadi 6,3 persen sebagaimana tercantum di APBN-P 2013. Koreksi itu dilakukan menjelang kenaikan harga BBM Juli lalu. Namun, angka asumsi APBN-P itu tampaknya sudah usang, walaupun ditetapkan baru beberapa bulan lalu.

Hari ini International Monetary Fund (IMF) meluncurkan World Economic Outlook (WEO) terbaru. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013 dikoreksi tajam 100 basis point, dari 6,3 persen menjadi 5,3 persen. Koreksi prediksi pertumbuhan tak hanya dialami Indonesia. Prediksi pertumbuhan ekonomi Dunia pun dikoreksi. Untuk tahun ini saja IMF sudah empat kali mengoreksi yang semuanya dikerek turun. Pada bulan Januari IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Dunia sebesar 3,5 persen. Pada bulan April dikoreksi turun menjadi 3,3 persen dan pada bulan Juli diturunkan lagi menjadi 3,1 persen. Hari ini prediksi pertumbuhan ekonomi dunia 2013 kembali diturunkan menjadi 2,9 persen.

Image

Koreksi turun terutama dialami negara-negara berkembang. China juga empat kali dikoreksi, dari 8,1 persen pada Januari lalu menjadi 7,6 persen pada Oktober ini. Namun, Indonesia yang mengalami koreksi turun paling tajam.

Tidak hanya IMF yang mengoreksi turun pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2 Oktober minggu lalu Asian Development Bank menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6,4 persen menjadi 5,7 persen. Dua hari kemudian, 4 Oktober 2013, giliran Bank Dunia mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,9 persen (pada laporan bulan Juli 2013) menjadi 5,6 persen (pada laporan terbaru).

Image

Dari dalam negeri, Bank Indonesia kemarin juga mengoreksi turun pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2013 dari antara 5,8%-6,4% menjadi 5,5%-5,9%.

Koreksi paling tajam dilakukan oleh majalah Economist, dari 5,8 persen menjadi 5,1 persen.

Pemerintah sejauh ini belum melakukan tindakan nyata untuk meredam kecenderungan perlambatan pertumbuhan ekonomi ini, semisal meluncurkan program stimulus ekonomi, kecuali stimulus untuk “mobil murah ramah lingkungan (LCGC). Mungkin perhatian pemerintah masih tercurah ke pertemuan puncak APEC di Bali.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Makroekonomi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s