Yang Tercecer dari Pasar Tanah Abang

Sebelum penataan pasar Tanah Abang, di Blok G ada rumah potong hewan (RPH). Tidak pantas memang ada RPH di situ. Oleh karena itu RPH direlokasi. Sayangnya lokasi baru masih di sekitar Tanah Abang yang merupakan pemukiman padat dan pusat bisnis. Lokasi baru itu di jalan Sabeni, Gang Kubur. Di situ ada pasar kambing. padahal Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2007 melarang RPH berada dekat pemukiman penduduk. Semoga lokasi ini bersifat sementara sebelum ditetapkan yang permanen.

Relokasi RPH sebaiknya merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya penataan Jakarta menuju Jakarta Baru. Jakarta tidak pantas mempertahankan kegiatan ekonomi yang bernilai tambah rendah dan tidak ramah lingkungan. Momentum relokasi RPH patut dijadikan sebagai bagian dari transformasi ekonomi Jakarta dan meningkatkan taraf hidup para pengusaha dan pekerja yang berkecimpung di dalamnya.

Pemotongan hewan cukup bermodalkan pisau. Siapa pun bisa melakukannya, tak perlu sekolah dan kursus ketrampilan. Karena sifatnya demikian, sudah hampir pasti tukang jagal dan para pembantunya menerima upah rendah. Karena upah rendah, mereka tak sanggup memiliki rumah atau mengontrak rumah yang layak. Perkampungan mereka jadi kumuh.

Nasib mereka selayaknya ditingkatkan menjadi pekerja formal. Pengusaha yang bergelut dalam RPH bisa naik kelas, misalnya mengolah daging dan bagian-bagian lainnya dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Saya membayangkan RPH direlokasi ke luar kota. Lokasi baru tak sekedar RPH, melainkan kawasan pengolahan daging terintegrasi. Di situ ada pengolahan kulit untuk industri sepatu, tas, bahkan kerupuk kulit; pengolahan isi perut untuk pakan ternak; serta proses pemisahan daging untuk rendang, steak, bakso, dan sosis. Ada pula industri dendeng, kerajinan dari tanduk hewan ternak, industri jaket kulit, dan banyak lagi.

Di kawasan pengolahan terpadu ini ada industri besar dan kecil, berdampingan dan saling bersinergi.

Di sekitar kawasan akan berkembang pusat kegiatan ekonomi baru. Karena harga tanah masih relatif murah, pemerintah DKI Jakarta bekerja sama dengan perusahaan daerah yang mengelola RPH (PD Dharma Jaya) dan pemerintah daerah tempatan membantu pembangunan prasarana. PT Jamsostek dan Bank DKI bisa membantu penyediaan dana untuk pembangunan perumahan layak huni bagi para pekerja yang sebelumnya tinggal di pemukimam padat yang tak layak huni. Pemda tempatan dan pemerintah pusat membantu penyediaan sarana pendidikan dan transportasi umum. Para pekerja cukup naik sepeda atau berjalan kaki dari pemukiman ke tempat bekerja.

Rasanya kalau demikian tak ada masalah serius lagi bagi pengusaha dan pekerja yang direlokasi dari RPH di tengah kota. Insentif untuk pindah sangat menggiurkan. Jakarta lebih rapi dan bersih. Industri berkembang. Pengusaha naik kelas dan pekerja makin sejahtera. Pemda tempatan niscaya dengan senang hati menerima kehadiran kawasan terintegrasi ini. Semua senang.

Daging yang masuk Jakarta sudah bersih. Di pasar rakyat tersedia alat penyimpanan daging dengan pengatur suhu.

Bagi yang masih ingin membeli daging segar bugar dipersilakan mendatangi kawasan baru yang nyaman dikunjungi.

Inilah salah satu contoh kecil cara membangun Jakarta yang bermartabat lewat konsep berbagi kemakmuran dengan daerah sekitar.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Urban Development and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Yang Tercecer dari Pasar Tanah Abang

  1. betul bang Faisal….bukan kosmetik belaka…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s