Menata Pasar Tanah Abang

Pasar Tanah Abang terkenal sebagai pusat grosir, bahkan sudah mendunia. Pembeli datang dari berbagai daerah dan negara, bahkan dari Afrika sekalipun. Potensi pasar Tanah Abang masih terbuka luas untuk dikembangkan lebih jauh sebagai pusat grosir aneka produk plus.

Yang saya bayangkan sebagai pusat grosir  aneka produk adalah tidak sebatas pusat perdagangan tekstil dan garmen semata, melainkan juga sebagai pusat grosir yang menyediakan berbagai macam produk khas dari berbagai daerah, misalnya kerajinan rakyat dan cenderamata, kopi dan teh nusantara, bumbu-bumbuan, serta jamu dan produk herbal.

Pasar grosir modern Tanah Abang dilengkapi dengan fasilitas perbankan, jasa logistik berbasis teknologi informasi. Pendek kata, para pembeli dengan cepat bertransaksi di satu atap hingga mengurus barangnya sampai di tujuan.

Kios tak perlu luas karena hanya menampilkan contoh barang, semacam display. Di dalam satu kawasan pasar grosir ini tersedia gudang dengan sistem inventori modern berbasis IT. Jadi tak banyak orang lalu lalang mengankat barang. Cukup dari gudang ke kendaraan pembeli atau ke perusahaan yang mengatur pengiriman.

Sedangkan pengertian plus adalah kawasan yang ditata apik sebagai pusat wisata mancanegara yang nyaman dan aman. Di sana ada pusat makanan dari berbagai daerah, baik makanan segar maupun makanan kering yang bisa jadi oleh-oleh para pendatang. Konsepnya tetap sebagai pusat grosir.

Blok G sebetulnya bisa dikembangkan untuk mewujudkan konsep pusat grosir aneka produk plus. Penataan tak sebatas di Blok G, melainkan juga kawasan di sekitarnya.

Relokasi pedagang kakilima ke Blok G bertentangan dengan konsep ini, karena bagaimana pun rasanya karakteristik pedagang kakilima adalah eceran, sedangkan pasar Tanah Abang sudah melekat sebagai pasar grosir. Orang tak akan datang ke Blok G sekedar membeli satu helai sajadah atau handuk. Hampir semua pengunjung pasar Tanah Abang adalah pembeli partai besar (grosiran). Iming-iming hadiah mobil sekalipun tak akan ampuh membuat Blok G ramai pembeli. Jangan banyak berharap Blok G bisa mengangkat harkat dan martabat pedagang kakilima.

Bagaimana nasib pedagang kakilima? Sediakan hanggar luas tanpa kios, cukup lapak. Lokasinya harus mudah diakses oleh pejalan kaki, harus tetap di tempat keramaian. Kalau tak memungkinkan di kawasan pusat grosir, sediakan tempat baru yang ramai. Jangan direlokasi ke tempat sepi, karena pedagang kakilima memang seharusnya di tempat ramai. Orang membeli sambil lewat atas melintas. Yang dibeli adalah kebutuhan sehari-hari atau sesuatu yang segera harus dimiliki, misalnya handuk kecil untuk sopir dan kondektur angkutan kota yang melintas.

Semoga Pemda DKI Jakarta bersedia memikirkan kembali konsep pengembangan pasar Tanah Abang agar bisa menjadi ikon baru Indonesia. Juga penanganan pedagang kakilima yang sesuai dengan karakteristik permasalahannya. Mereka bisa diajak untuk mengisi unsur-unsur yang perlu dihadirkan untuk mewujudkan pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir yang membanggakan.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Urban Development and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Menata Pasar Tanah Abang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s