Sesat Pikir Pendidikan


Pendekatan pendidikan di Indonesia berdasarkan input. Yang ditetapkan terlebih dahulu adalah dana untuk pendidikan sebesar paling sedikit 20 persen dari APBN dan APBD provinsi dan kabupaten/kota.

Yang kerap jadi perbincangan adalah gaji guru, gedung sekolah rusak, dan kurikulum. Betul kita serba kekurangan atau jauh dari memadai dalam hampir segala hal. Segala hal di sini terkait dengan input pendidikan.

Jika terjadi perubahan APBN di pada tahun berjalan (bisa lebih dari satu kali), maka anggaran pendidikan pun otomatis ikut berubah. Jika karena krisis, misalnya, belanja APBN harus dipangkas, maka anggaran pendidikan pun otomatis terpangkas. Demikian juga sebaliknya. Pengalaman selama ini hampir selalu APBN diubah ke atas atau menggelembung, termasuk perubahan APBN tahun 2013 (APBN-P 2013).

Perubahan dilakukan bulan Juni 2013. Sebagian kegiatan sudah disusun rapi. Karena ada kenaikan nilai APBN, maka anggaran pendidikan pun ikut naik, padahal belum ada persiapan kegiatan baik program maupun proyek. Sudah barang tentu cara seperti ini sangat tidak sehat, cenderung membuat kegiatan batu tanpa perencanaan dan persiapan. Bisa jadi yang muncul adalah serangkaian kegiatan apa adanya atau bahkan “mengada-ada”. Bisa rawan disalahgunakan.

Pidato presiden yang mengantarkan RAPBN dan Nota Keuangan 2014 juga mencerminkan hal itu. Presiden mengatakan komitmennya pada peningkatan kualitas pendidikan dengan menggarisbawahi peningkatan anggaran pendidikan di atas Rp 300 triliun. Kita bersyukur anggaran untuk pendidikan naik terus. Namun, alangkah lebih baik kalau juga diseetai dengan capaian apa yang hendak dituju.

Ada baiknya merombak total pendekatan pendidikan. Tetapkan dahulu output yang hendak dicapai dan output tersebut terukur. Lazimnya, output pendidikan diukur dari reading literacy rate, scientific literacy rate, mathematical literacy rate, dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Data berikut tak memuat yang keempat.

Image

Indonesia sangat tertinggal dalam hal output pendidikan. Dari 65 negara yang disurvei oleh OECD untuk pelajar berusia 15 tahun, Indonesia berada di urutan ke-57. Negara Asean lain yang masuk daftar adalah Singapura di urutan ke-5 dan Thailand di urutan ke-50. Di posisi paling buncit adalah Kyrgyzstan.

Jika pendekatan yang digunaka adalah output, maka yang pertama kali dilakukan adalah menetapkan target output. Katakanlah kita hendak mengejar posisi 40 besar dalam lima tahun ke depan. Skor total tahun 2009 yang berada pada posisi ke-40 adalah  1.436. Skor total  Indonesia sekarang 1.156.

Langkah selanjutnya adalah memetakan kondisi input yang ada sekarang, antara lain: jumlah dan komposisi guru serta kompetensinya, kurikulum, kondisi gedung sekolah, dan kelas, alat bantu pendidikan, dan manajemen pendidikan. Kemudian dihitung berapa yang dibutuhkan untuk mencapai skor yang ditargetkan. Setelah itu baru dihitung kebutuhan dananya.

Pendekatan output menempatkan keluarga sebagai faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan. Selain itu adalah innate ability dan peers. Yang terakhir adalah school inputs. Secara sederhana, rumusannya adalah sebagai berikut:

Education = f (family, peers, school inputs, innate ability)

Sejauh ini kita berkutat pada school inputs.

Satu data perbandingan lagi, namun maaf saya sudah tak ingat sumbernya. Data di bawah menunjukkan betapa kinerja negara dalam pendidikan sangat buruk.

kinerja_pendidikan

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Education and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sesat Pikir Pendidikan

  1. totokaryanto says:

    Sama2 Bang Faisal. Saya banyak belajar dari tulisan2 anda. Selamat berkarya dan sehat selalu. Amien.

  2. Pingback: Memperbaiki Citra Pendidikan di Indonesia – Bagian 1 | Blog Toto Karyanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s