Neraca Pembayaran Memburuk dan Strukturnya Kian Rentan

Belum ada komentar

Kita semakin memahami lebih mendalam mengapa nilai rupiah kian melemah selama dua tahun terakhir dengan dipublikasikannya data neraca pembayaran (balance of payments) triwulan II-2013 pada 16 Agustus 2013.

Neraca pembayaran terdiri dari dua bagian. Pertama, akun semasa (current account) yang terdiri dari ekspor barang dan jasa dikurangi impor barang dan jasa. kedua, transaksi modal dan finansial yang terdiri dari investasi langsung (direct investment) dan investasi portofolio (portfolio investment). 

Selain kedua kelompok itu, ada pos yang bukan merupakan transaksi. Pertama, selisih perhitungan bersih (net errors and omissions) yang menampung kesalahan pencatatan maupun ketidakcocokan perhitungan. Kedua, cadangan devisa dan yang terkait (reserves and related items) yang merupakan pos penyeimbang, sehingga jika keseluruhan pos neraca pembayaran dijumlahkan maka nilainya sama dengan nol. Pos terakhir ini sekaligus menunjukkan surplus/defisit neraca pembayaran atau pertambahan/pengurangan cadangan devisa. Jika angka pada pos reserves and related items bertanda negatif, berarti terjadi surplus neraca pembayaran dan cadangan devisa bertambah sebesar angka yang tercantum. Sebaliknya jika bertanda positif.

Image

Pertama, transaksi perdagangan semakin memburuk, bahkan untuk pertama kali dalam sejarah menderita defisit pada triwulan II-2013. Sebetulnya ekspor mengalami peningkatan, namun impor meningkat lebih cepat. Peningkatan terjadi pada impor nonmigas. Akibatnya, surplus transaksi perdagangan nonmigas tergerus, tinggal sebesar 1,7 miliar dollar AS. Gas juga menyumbang surplus perdagangan barang sebesar 3 miliar dollar AS. Sumbangan gas menurun sejalan dengan makin banyak porsi produksi gas digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pada triwulan II-2013, surplus perdagangan nonmigas dan gas sebesar 4,7 miliar dollar. Jadi mengapa transaksi perdagangan total mengalami defisit? Apa lagi kalau bukan minyak. pada periode yang sama perdagangan minyak mengalami defisit sebesar 5,3 miliar dollar AS. Maka jadilah sekcara keseluruhan transaksi perdagangan menderita defisit sebesar 0,6 miliar dollar AS.

Kedua, defisit jasa-jasa non-faktor (bukan faktor produksi) menunjukkan peningkatan, dari 2,5 miliar dollar AS pada triwulan I-2013 menjadi 3,1 miliar dollar AS pada triwulan II-2013. Penyumbang defisit terbesarnya adalah jasa transportasi, yaitu sebesar 77 persen. Hal ini disebabkan karena sebagian besar barang yang diekspor maupun yang diimpor menggunakan kapal berbendera asing.

Ketiga, jasa-jasa faktor (faktor produksi). Penyumbang terbesar dari defisit ini adalah repatriasi laba perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Pada triwulan II-2013, repatriasi laba menyumbang 56 persen dari defisit  di pos pendapatan (income).

Satu-satunya yang memberikan sumbangan positif bagi transaksi jasa faktor (factor services) adalah remitansi (remittances). Tenaga Indonesia yang bekerja di luar negeri yang pada triwulan II-2013 berjumlah 4 juta orang menyumbang devisa masuk sebesar 1,9 miliar dollar AS, sedangkan tenaga kerja asing di Indonesia mengirimkan pendapatnnya keluar negeri sebesar 626 juta dollar AS, sehingga surplus 1,2 miliar dollar AS.

Karena tekanan dialami hampir semua pos, akibatnya transaksi akun semasa mengalami lonjakan defisit, dari hanya 5,8 miliar dollar AS (2,6 persen terhadap PDB) pada triwulan I-2013 menjadi 9,8 miliar dollar AS (4,4 persen terhadap PDB) pada triwulan II-2013. Ini merupakan defisit selama tujuh triwulan berturut-turut.

Walaupun akun semasa mengalami tekanan berat, defisit neraca pembayaran jauh lebih kecil dari defisit akun semasa. Defisit neraca pembayaran turun tajam dari 6,6 miliar dollar AS pada triwulan I-2013 menjadi 2,5 miliar dollar AS pada triwulan II-2013.

Pos yang membantu adalah transaksi keuangan dan finansial. Tak tanggung-tanggung, pos ini melonjak dari defisit sebesar 0,3 miliar dollar AS pada triwulan I-2013 menjadi surplus sebesar 8,2 miliar dollar AS pada triwulan II-2013.

Di pos ini ada investasi langsung dan investasi portofolio. Investasi asing langsung yang masuk ke Indonesia naik tipis dari 4,1 miliar dollar AS pada triwulan I-2013 menjadi 4,2 miliar dollar AS pada truwulan berikutnya. Sedangkan investasi langsung perusahaan Indonesia ke luar negeri terjadi kenaikan dari 206 juta dollar AS dan 902 juta dollar AS. Akibatnya investasi langsung bersih, walaupun cukup besar tetapi turun dari 3,9 miliar dollar AS menjadi 3,3 miliar dollar AS.

Investasi portofolio juga memberikan sumbangan positif, yaitu secara bersih sebesar 2,5 miliar dollar AS pada triwulan II-2013, sedikit turun dibandingkan triwulan I-2013 sebesar 2,8 miliar dollar AS. 

Dari gambaran di atas tampak neraca pembayaran Indonesia semakin tertekan dan faktor-faktor penyebabnya cenderung bersifat struktural. Selain itu terlihat pula struktur neraca pembayaran Indonesia semakin rentan terhadap gejolak eksternal, karena bertambah besarnya peranan modal asing masuk (capital inflows) dalam menopang neraca pembayaran sehingga tidak mengalami pemburukan yang lebih drastis. Tanpa kehadiran capital inflows ini tak terbayangkan bakal seperti apa nilai rupiah.

Catatan: Data rinci neraca pembayaran terbaru bisa diunduh di website Bank Indonesia: http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/0AF44705-EA06-42EE-9F2E-3A14AF2E0D0B/29772/LaporanNPITwII2013.pdf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.