Sesat Pikir Mobil Listrik


Belum jelas bagaimana nasib mobil Esemka yang bergema dari Solo, muncul mobil listrik yang dimotori oleh Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Sosok kedua jenis mobil ini sudah nyata.

 

moblis

Sementara itu pemerintah baru saja meluncurkan kebijakan tentang mobil murah hemat energi (low cost green car = LCGC). Pemerintah telah menyetujui kebijakan pembuatan LCGC sejak sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013. Sejauh ini insentif yang diberikan baru sebatas pembebasan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).

lcgc

Sudah lama muncul gagasan atau cita-cita memiliki mobil nasional. Pada tahun 1993, B. J. Habibie memelopori mobil nasional yang diberi nama Maleo. Alasannya sangat rasional. Teknologi membuat pesawat terbang sudah dikuasai. Oleh karena itu membuat mobil sebetulnya sudah dalam genggaman. Sumber daya manusianya juga sudah tersedia. Ribuan mahasiswa dikirim ke luar negeri untuk menguasai berbagai macam teknologi, termasuk teknologi pesawat terbang dan otomotif.

Jika akumulasi pengetahuan dan teknologi yang sudah dalam genggaman bisa didayagunakan secara maksimal, rasanya kita bisa mengisi beragam kebutuhan kendaraan bermotor di dalam negeri.

Apakah bijak dengan langsung melompat ke mobil listrik? Bajaj masih diimpor. Juga motor roda tiga berwujud angkutan barang di bagian belakang diimpor dari China. Nyata-nyata kedua jenis kendaraan ini sangat sederhana dan dibutuhkan oleh warga perkotaan untuk angkutan pemukiman. Angkutan pedesaan pun sangat dibutuhkan.

Penjualan sepeda motor sudah mencapai 10 juta unit dan penjualan mobil telah menembus 1 juta unit. Keekonomian skala (economies of scale) sudah memungkinkan untuk menghadirkan produksi dengan merk sendiri. 

Kita bisa mulai mengembangkan industri alat angkut massal yang sederhana. Bisa juga dikembangkan untuk kebutuhan tentara dan polisi. Pasarnya sudah jelas ada. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi pembeli utama. Bank BUMN bisa dijadikan sebagai lembaga penunjang pembiayaan.

Namun, mengapa yang dikedepankan adalah mobil listrik? Bukankah mobil listrik pasar utamanya untuk di dalam kota yang telah memiliki fasilitas pendukung yang prima? Tetapi, bukankah angkutan dalam kota yang harus lebih diutamakan adalah angkutan umum?

Di negara-negara yang telah menguasai industri otomotif sekalipun porsi mobil listrik masih sangat terbatas. Pada tahun 2030 diperkirakan pangsa mobil listrik hanya 1 persen dari produksi mobil dunia, sedangkan 87 persen masih menggunakan BBM.

Semangat nasionalisme yang mulai tumbuh bisa disalurkan untuk tujuan-tujuan yang lebih produktif dan lebih langsung memenuhi kebutuhan rakyat kebanyakan, bukan disalahgunakan untuk kepentingan atau ambisi segelintir orang yang sedang berada di dalam kekuasaan.

Pak Dahlan Iskan bisa menjadi pelopor untuk menyatupadukan kekuatan yang sudah ada, terutama sejumlah BUMN yang memang sudah lama berkecimpung dalam upaya mengembangkan kemandirian teknologi.

Lebih jauh, Pak Dahlan Iskan mulai serius pula membangunan kekuatan maritim kita, dengan mensinergikan BUMN strategis seperti PT PAL, PT DI, PT Pindad, dan beberapa BUMN pendukung lainnya.

Ayo, kita bangkit. Usung nasionalisme setinggi langit dengan akal sehat. Tunjukkan keberpihakan kepada rakyat banyak. Jangan lagi sesat pikir.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Industri, Sesat Pikir and tagged , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Sesat Pikir Mobil Listrik

  1. Pingback: Apa Kabar Mobil Nasional ??? | Lampung Metro

  2. brampuji says:

    apakah mobil listrik ini termasuk kendaraan umum ramah lingkungan (bahan bakar gas atau listrik) yang juga dibuat dalam negri, saya pikir ketimbang fokus di kendaraan pribadi, kendaraan umum harus jadi prioritas, walaupun untuk angkot di beberapa kota tidak jauh beda dgn kendaraan pribadi. Salam 🙂

    • faisal basri says:

      Yang sudah dibuat kendaraan pribadi, sedan. Setuju sekali untuk membenahi transportasi umum yang ramah lingkungan. Kendali sepenuhnya ada di tangan pemerintah. Lebih masuk akal.

  3. Andiboss says:

    Angkutan umum saat ini masih belum memberikan solusi, malah menimbulkan masalah. Terutama angkutan kota di pinggiran kota yang dimiliki oleh perorangan, karena orientasinya masih mencari setoran buat pemilik, bukan pelayanan pemindahan orang berdasarkan waktu. Busway sudah tepat tetapi kurang banyak. Mobil listrik ? Saat ini hanya show off saja untuk membuktikan kita bisa membuatnya.

    • faisal basri says:

      Padahal, pesawat pun sudah bisa kita buat. Roket pun sudah bisa. Kalaulah sumber daya yang kita miliki dimanfaatkan berdasarkan asa maslahat untuk rakyat kebanyakan, rakyat negeri ini barangkali sudah sejahtera.

  4. Febriansyah says:

    Orang Pintarnya sudah banyak…marketnya sudah tersedia,….yang masih kurang dan harus terus di tambah jumlahnya di negeri ini adalah para entrepreneurs yang bisa mengolah dan memberdayakan semua potensi dan sumber daya Indonesia yang melimpah ruah ini….tapi tentunya kelasnya adalah entrepreneurs sejati, bukan para pencari proyek yang gemar menggelembungkan nilai proyek dari yang seharusnya.
    Entrepreneur yang memiliki integritas, yang memiliki tujuan akhir bukan bersifat material semata.
    Entrepreneurs yang bermental baja, bukan bermental pengemis, yang melihat kegagalan sebagai bagian dari permainan.

    Janganlah jumlah PNS terus yang ditambah…baik kuantitas maupun kualitasnya…sehingga kembali muncul di kalangan para orang tua, pekerjaan favorit adalah menjadi PNS…Yang perlu di tambah adalah produktivitas mereka….

    Bisa saya bayangkan betapa majunya Indonesia, kalau misalnya dalam 1 keluarga, minimal itu ada 1 entrepreneur. Jangan dua2 nya menjadi karyawan. Jangan keduanya membentuk lingkungan yang sepenuhnya lingkungan pegawai di rumahnya. Bagaimana anak2 kita akan terbiasa dan terajar dari kecil mengamati dan merasakan suasana kewirausahaan di rumahnya…
    Jika ada salah satu saja dari orangtuanya berwirausaha, anak akan mulai merasakan aura wirausaha sedini mungkin, sehingga di masa depan, mereka bisa memilih apa yang akan dijalaninya untuk hidup dan kehidupannya dengan objektif, terbuka dan tepat.

    Just a Thought : One Family One Entrepeneur for Better Indonesia…

    There are still hopes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s