Negarawan


Kemarin lusa, Buya Syafii Maarif, mantan ketua umum PP Muhammadiyah, mengirim SMS: “Bung Faisal, mengapa rahim bumi Nusantara ini masih mandul untuk melahirkan para negarawan?”

Berikut jawaban saya: “Buya, insya Allah benih-benihnya sudah bermunculan. Tapi wadahnya masih kotor dan ringkih. Tugas sejarah kita mungkin turut membuat wadah itu bersih dan bercahaya.”

Saya memberanikan diri mengatakan bahwa benih-benih negarawan sudah mulai bermunculan karena makin banyak pemimpin di tingkat lokal yang energik, memiliki visi yang tajam, mengusung gelora perubahan, dan, yang lebih penting, masih berusia belia.

***

Pada 17 Februari 2009 saya menghadiri pelantikan Bupati Kubu Raya, bernama Muda. Walau menjabat sebagai ketua DPW PAN Kalimantan Barat, ia berlaga lewat jalur independen, karena DPP PAN mengusung calon lain yang bukan kader terbaiknya. Usia Muda masih 30-an. Ayahnya mantan rektor Universitas Tanjung Pura. Profesinya sebagai notaris.

Upacara pelantikan berlangsung di dalam tenda besar yang dipadati pengunjung. Saya memilih duduk di luar tenda utama, di tengah terik mentari, bersama dengan rakyat biasa. Antusiasme rakyat luar biasa. Banyak di antaranya benar-benar relawan pendukung Muda yang tak dibayar. Semoga Muda jadi Bupati teladan dan menjadi penggerak pembangunan di kabupatennya dan juga di Kalimantan Barat. Tanda-tanda ke arah sana sudah  mulai terlihat.

Bulan ini, kami di FEUI memiliki dekan baru, dekan termuda sepanjang sejarah UI, baru berusia 30-an awal. Ia menyisihkan senior-seniornya yang jauh lebih tua. Doktor lulusan Prancis ini diharapkan membuka lembaran baru FEUI yang selama ini dicap oleh sementara kalangan sebagai pendukung kemapanan dan sarang Mafia Berkeley

Di pesantren dan organisasi keagamaan juga banyak yang muda-muda. Generasi baru yang telah muncul pascareformasi bertaburan di berbagai bidang dan profesi. Mereka gandrung perubahan, mendambakan masa depan yang lebih cerah dan siap berkiprah di alam persaingan sehat dan bebas KKN.

Masih banyak lagi benih-benih pemimpin penuh harapan. Sebut saja beberapa: Kholil Arif (Bupati Wonosobo), Arif (wakil walikota Surabaya). Di tingkat nasional ada Sri Mulyani, Chatib Basri, Yudhi Krisnadi, Oneng, Nurul Arifin, Budiman Sujatmiko.

***

Kita sedang berada di akhir masa transisi. Peluang untuk menghasilkan negarawan makin terbuka, walau probabilitasnya masih 50:50 dengan menghasilkan para bandit. Setidaknya, sekarang dan ke depan, mesin produksi negarawan sudah beroperasi walau masih tersengal-sengal. Wajar, karena selama Orde baru mesin produksi negarawan tak bekerja, hanya menghasilkan para pembeo yang menghendaki kemapanan. Merekalah yang sekarang sedang bertarung.

* Pertama kali dimuat di Kompasiana, 27 April 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s