Memahami Resesi


Pengantar

Belakangan ini kita kian kerap mendengar istilah RESESI. Oleh sementara kalangan resesi dipandang sebagai hantu gentayangan yang siap menerkam. Ada yang lebih jauh mengaitkan hantu resesi dengan hantu yang menjelma sebagai krisis ekonomi tahun 1998. Lebih dramatis lagi, ada yang melontarkan isu bakal ada penjarahan seperti terjadi tahun 1998. Memang kala itu kita mengalami krisis ekonomi yang amat berat, terparah dalam sejarah perjalanan Bangsa. Sedemikian parahnya karena berbarengan dengan krisis politik dan krisis pemerintahan.

Krisis ekonomi tahun 1998 dipicu oleh krisis keuangan/finansial. Ditandai oleh kejatuhan harga-harga aset, bisnis dan konsumen tak mampu membayar utang, dan lembaga keuangan kekeringan likuiditas karena masyarakat panik sehingga menarik dananya di perbankan, takut nilai uang mereka semakin susut.

Pasar saham “nyungsep” atau mengalami crash. Nilai tukar rupiah melorot karena masyarakat tidak percaya dengan mata uangnya sendiri dan dunia usaha berburu dollar untuk membayar utang yang banyak dalam valuta asing. Orang-orang kaya, koruptor, dan konglomerat melarikan uangnya ke luar negeri.

Semua itu membuat perekonomian lumpuh. Perekonomian mengalami kontraksi lebih dari 13 persen. Akibatnya pengangguran melonjak dan puluhan juta orang jatuh miskin.

Pengertian Resesi

Resesi ekonomi didefinisikan sebagai penurunan signifikan aktivitas ekonomi secara meluas yang terjadi dalam beberapa bulan atau beberapa triwulan atau bahkan beberapa tahun yang ditunjukkan oleh kemerosotan produk domestik bruto (PDB) riil. Seiring dengan itu, pengangguran melonjak, pendapatan turun, dan penjualan eceran merosot.

Resesi merupakan salah satu fase dari siklus bisnis (business cycle). Aktivitas ekonomi ibarat roda pedati, kadang di atas, lalu menurun hingga titik terendah, lalu naik lagi hingga mencapai titik tertinggi. Sesekali terjerembab sangat dalam, suatu waktu lagi meroket.

Periode dari peak sampai trough disebut resesi, yaitu ketika aktivitas ekonomi mengalami kemerosotan yang ditunjukkan oleh penurunan PDB riil. Periode dari trough sampai peak disebut recovery, tatkala aktivitas ekonomi mengalami peningkatan yang ditunjukkan oleh kenaikan PDB riil.

Sederhananya, anggap saja perekonomian itu seperti kue atau cake. Jika kue tidak lagi utuh alias menciut sebesar irisan kecil (gambar kiri), berarti aktivitas ekonomi menurun. Seandainya menciutnya relatif kecil (gambar tengah) disebut resesi, yaitu penurunan aktivitas ekonomi selama periode tertentu.

Pemberitaan di media massa kerap menggunakan indikator PDB selama dua triwulan berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif atau kontraksi. Jika kue menciut relatif banyak atau terjadi resesi berat disebut depresi (gambar kanan), yaitu kemerosotan sangat tajam aktivitas ekonomi dan berkepanjangan (prolonged recession) diiringi oleh tingkat pengangguran yang tinggi (sekitar 20 persen atau lebih).

Tidak ada ukuran yang pasti berapa batas penurunan untuk menunjukkan resesi atau depresi.

Amerika Serikat pernah mengalami Depresi Besar (Great Depression) selama periode 1929 hingga awal 1940-an, dengan kemerosotan paling tajam pada Agustus 1929 hingga Maret 1933 (43 bulan) dan periode Mei 1937 hingga Juni 1938 (13 bulan). Pertumbuhan ekonomi mengalami kontrasi dua digit dan tingkat pengangguran meroket ke aras tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 24,9 persen pada tahun 1933.

Setelah mencapai titik terendah (trough atau palung), perekonomian bergerak naik, disebut fase pemulihan (recovery) atau disebut juga fase ekspansi. Pola ekspansi juga berbeda-beda. Ada yang cepat membentuk huruf V, ada yang diselingi oleh penurunan kembali membentuk huruf W, ada pula yang sangat lambat seperti huruf U dan L. Pemulihan di banyak negara, termasuk Indonesia, pasca-COVID-19 diperkirakan mengikuti swoosh-shaped recovery.

Periode ekspansi pada awalnya bisa berlangsung cepat, lalu melambat dengan perjalanan waktu. Perlu energi baru yang memadai untuk membuat ekonomi bergulir lebih cepat.

Indonesia tahun 1970-an sampai 1980-an, China di era Deng Xiaoping, dan Korea pernah menikmari pola ekspansi yang mengakselerasi seperti ditunjukkan oleh peraga di bawah. Kua ekonomi membesar dengan relatif cepat.

Dampak pandemik coronavirus COVID-19 terhadap perekonomian berbeda-beda. Vietnam diperkirakan tak sampai mengalami resesi. Pertumbuhan ekonomi Vietnam tahun ini diproyeksikan masih positif. Untuk Indonesia, ADB dan IMF memperkirakan pertumbuhan negatif atau bakal mengalami resesi. Sementara itu, Bank Dunia keluar dengan prediksi stagnan alias ekonomi Indonesia tidak mengalami pertumbuhan tetapi tidak pula merosot. Namun, seandainya pun Indonesia mengalami resesi, kontraksinya jauh lebih ringan ketimbang Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Untuk mengupayakan agar perekonomian tidak terjerembab ke jurang yang dalam dan berkepanjangan akibat pandemik COVID-19, tak ada cara lain kecuali dengan mengendalikan penyebaran virus melalui testing, testing, dan testing. Testing massal memungkinkan kita lebih cepat mengisolasi orang yang terjangkit virus dan melakukan penelusuran kontak.

Jika pemerintah memaksakan pelonggaran PSBB di tengah kasus harian dan kematian yang masih meningkat tanpa tes massal dan penelusuran kontak yang masif, risikonya amat besar dan berpotensi menyebabkan pemulihan ekonomi lebih lambat. Jika dalam tiga bulan ke depan kita melakukan upaya maksimum untuk menjinakkan virus, maka ada harapan resesi berlangsung singkat, hanya pada triwulan II dan triwulan III 2020. Triwulan IV-2020 ada harapan mulai tumbuh positif dan tahun 2021 perekonomian bisa menikmati ekspansi yang cukup signifikan sehingga dalam dua sampai tiga tahun ke depan perekonomian Indonesia bisa kembali ke jalur pertumbuhan jangka panjang sebelum wabah COVID-19. Dengan begitu output loss bisa ditekan.